Tuhumena : Ajaran Gereja Bukan Sekadar Doktrin, Tapi Napas Gereja

Boy T

Editor : Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com:  Sidang Sinode ke-39 Gereja Protestan Maluku (GPM) menjadi panggung penting bagi perumusan arah teologi gereja di masa depan. Ketua Komisi I, Pdt. Boy Tuhumena, menegaskan bahwa pembahasan ajaran gereja kali ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya serius meneguhkan dasar iman GPM di tengah perubahan sosial yang cepat dan kompleks.

Bacaan Lainnya

Menurut Tuhumena, kerja teologis ini merupakan kelanjutan dari proses panjang sejak Sidang MPR GPM tahun 2021. Sejak saat itu, Komisi Permanen Ajaran Gereja terus menyiapkan dokumen ajaran yang kini berkembang pesat.

“Dari 585 artikel pada Sidang ke-38, kini bertambah menjadi 652 artikel,” ungkapnya.

Meski jumlah artikel meningkat, komisi tidak membahas seluruhnya. Fokus utama diarahkan pada isu-isu baru yang muncul dalam lima tahun terakhir—seperti perkawinan, perceraian, kremasi, keluarga Kristen, serta relasi iman dan politik.

“Kami tidak sekadar menulis, tapi menggali nilai-nilai dasar iman yang harus menuntun arah pelayanan dan kebijakan gereja,” tegas Tuhumena.

Salah satu topik yang memunculkan diskusi mendalam adalah posisi pendeta terhadap politik praktis. Menurut Tuhumena, gereja harus memiliki sikap yang jelas agar pelayanan tetap murni dan berorientasi pada panggilan rohani.

“Pendeta atau pegawai organisasi yang ingin terlibat dalam politik praktis harus memilih: menjadi politisi atau tetap melayani sebagai pelayan gereja. Jika memilih politik, maka ia harus melepaskan statusnya sebagai pegawai organik GPM,” ujarnya tegas.

Tuhumena berharap hasil-hasil pembahasan Komisi I dapat diterima dalam pleno Sinode dan segera di sosialisasikan ke seluruh jemaat GPM di Maluku dan Maluku Utara.

“Ajaran gereja bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dihidupi. Sosialisasi akan dimulai dari para pelayan agar umat memahami dan berjalan bersama dalam satu arah iman,” tandasnya.

Ia menutup dengan refleksi mendalam bahwa setiap butir ajaran yang dirumuskan bukanlah dokumen kaku, melainkan napas hidup gereja yang menuntun umat menghadapi tantangan zaman dengan iman yang teguh.

“Ajaran bukan sekadar doktrin, tapi napas gereja yang menjaga umat tetap hidup dalam terang Kristus,” pungkasnya. (BN – Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan