Analisis Kritis Antar Teks dan Konteks Pernyataan Pa Jusuf Kalla Tentang Mati Syahid Islam Kristen Konflik Poso-Ambon

sahetapy JK

Oleh : Pdt. Emeretus, Zefnat Christian Sahetapy. S.Th.,M.Si (Program Ilmu Komunikasi)

Editor: Redaksi

Bacaan Lainnya

Opini,Bedahnusantara.com: Mendengar dan menyimak secara baik pernyataan Pa Jusuf Kalla (JK), Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Saya tidak mau membela atau menyalahkan siapa- siapa sebagai pengendali pesan atau penjaga gawang, atau mereka- reka narasi orang lain yang dipublis.

Sebab setelah mengikuti berbagai publikasi terkait persoalan ini dari berbagai media tentang narasi Pa Jusuf Kalla (JK) dan tanggapan terhadap pernyataan itu, maka sangat penting membedah secara kritik teks dan konteks perubahan sikap dalam ilmu komunikasi.

Ketika dengan secara saksama memahami berkali – kali narasi Pa Jusuf Kalla (JK) dan behavior Pa Jusuf Kalla (JK) akhir-akhir ini dengan teks- teks yang disampaikan beliau,maka perlu melebar lensa pembesar untuk.memperlihatkan fitur – fitur aspek behavior beliau yang menimbulkan teks antar teks terhadap masalah Poso dan Ambon.

Ada yang terputus – putus dalam teks yang dikomunikasikan kepada audience yang sebetulnya dibalik itu terdapat konteks yang lebih besar lokal, Nasional, regional, serta Global.

Diwilayah abu – abu inilah hanya konteks Nasional yang ditampilkan dan diarahkan kepada konflik di beberapa daerah, seperti di Poso termasuk juga di Maluku.

Yang menjadi pertanyaan mendasar Kenapa beliau angkat masalah tersebut?, karena teks- teks yang harus ditampilkan secara regional yang sementara terjadi, tetapi area Nasional Poso dan Maluku dijadikan konteks. Sementara area regional disembunyikan katakan saja (contohnya) Timur Tengah.

Kita tau persis konflik Maluku itu akibat dari kecerdasan Intelektual dan kecerdasan emosional yang disusun rapi dalam strategi komunikator dan provokator untuk memprovokasi rakyat Maluku agar konflik diperlebar dan diduga Pa Jusuf Kalla (JK) tau akan hal itu.

Dari hasil Penelitian saya 2004 sekaligus berjuang utk perdamaian sebagai saksi mata, saksi sejarah terhadap konflik ditemukan berbagai Issu dikembangkan untuk picu konflik tetapi kurang berhasil.

Untuk itu issu terakhir untuk melebarkan konteks (potensi) konflik itu adalah isu agama yang cocok dan sensitiv dimainkan mastermind, bukan rakyat Maluku.

Rakyat Maluku dijadikan tumbal, kambing yang hitam, dan hitaman ini adalah yang bisa diberikan lebel IQNORANCE ( aktor tanpa tau diri), bukan rakyat mencari legitimasi dan atau pergunakan agama untuk konflik, tapi agama dipicu untuk melebarkan konflik yang bisa disaksikan secara riiel.

Bila lensa pembesar diperlebar melalui behavior komunikasi maka rekam Jejak Pa Jusuf Kalla (JK) dalam komunikasi politik digolongkan dalam ilmu Komunikasi yang diduga sebagai PENJAGA GAWANG.

Beliau masuk dengan teks- teks narasi Perdamaian yang sudah dirancang, termasuk contohnya adalah masuk kedalam Perjanjian Malino dengan 11 butir yang di putusakn pada 12 Pebruari 2002.

Dengan perjanjian tersebut, rakyat Maluku dilegitimasi sebagai penyebab konflik agama. Sedangkan pada konteks tokoh- tokoh Maluku saat itu adalah pihak-pihak yang tidak mewakili rakyat Maluku dalam melakukan tanda tangan perjanjian itu. Hal ini biasanya dikenal dengan Namanya “Politik Gelang karet” yang meremas.

Disudut pandang komunikasi, kompetensi Perjanjian Malino adalah “jerat” tapi juga media publikasi “lompat pagar”, artinya mereka menggeser issu konflik politik menjadi issu konflik agama. Untuk itu dikonteks konflik Poso dan Ambon, ruang yang diterobos membenarkan kesalahan agama.

Dengan demikian pembentukan opini Beliau (Pa Jusuf Kalla (JK). Memasuki zona “comparasi teks dan konteks konflik” untuk melegitimasi kesalahan yang dibuat rakyat Poso dan Maluku yaitu konflik agama.

Sementara faktanya tidak ada perang agama, tapi konflik politik Nasional untuk melemahkan kultur dan memecahkan sesama anak Maluku yang dikemas dalam topeng Konflik Agama.

Destinasinya Pesan Pa Jusuf Kalla (JK) ke “doktrin Islam dan Kristen sama membunuh atas nama agama”. Pola Komunikasi Kompetensi tersebut melemparkan issu kewilayah agama untuk membebani rakyat Poso dan Ambon/ Maluku.

Pesan yang digeser kewilayah agama ini disampaikan di forum akademis UGM sebagai media pembelajaran dan pembentuksn opini yang dipublikasi tanpa menjelaskan latar belakang konflik Poso, dan Ambon yang dimulai dari Jakarta sampai masuk di Poso dan Ambon.

Teks- teks dari fitur-fitur di lensa yang bila diperlebar akan mengungkap fakta lain terkait Konflik Poso dan Ambon. Akan tapi hal itu sengaja dihilangkan dan fokus hanya konteks konflik Poso dan Ambon.

Yang di jelaskan Pa Jusuf Kalla (JK) sebagai seorang komunikator yang di transmisikan kepada audience tersebut, telah menciptakan berbagai chanel baru untuk dipublikasi yang sekarang viral diberbagai media.

Sedangkan Unsur pesan dengan destinasinya terletak pada inti Pesan dengan mengatakan “Islam Kristen sama – sama memiliki makna pesan bila “membunuh” atas nama Agama adalah “Syahid”.

Sehingga pesan tersebut menghasilkan Dua kutub Doktrin Pesan komunikasi yang berbeda, yang telah berproduksi melalui Chanel forum ilmiah da pihak yang Menerima narasi itu sangat terpengaruh / berdampak, tetapi juga terdapat unsur provokasi kepada kedua agama, karena pada esensinya doktrin agama masing- masing berbeda maknanya.

Maka Terjadilah Noise tetapi juga Ambiquitas atau pertentangan atau penilaian yang bertentangan. Yang pada Akhirnya teraplikasi di komunikasi masa kepada khalayak.

Apakah Pa Jusuf Kalla (JK) tidak mengerti bahasa komunikasi yang mengandung teks- teks yang disampaikan itu bertujuan dapat menimbulkan efek komunikasi atau dampak yang besar antar dua agama yang saling bertentangan doktrinnya ?

Namun Pa Jusuf Kalla (JK) diduga sengaja melemparkan issu Poso dan Ambon untuk memperlihatkan jati diri dan integritas diri sebagai juru Damai yang ingin melegitimasi Konflik Poso dan Ambon demi menutupi skenario Politik penghancuran Poso dan Ambon.

Demikianlah analisis dari segi Manajemen Ilmu komunikasi dengan berbagai literatur yang ada ternasuk Buku : Teori Komunikasi Sejarah, metode dan terapan didalam media masa oleh : Werner J. Severin- James W. Tankard, Jr edisi ke 5, dan Theorie of Human Communication oleh Stephen W.Littlejohn dan Karen A.Foss Edisi 9. (BN-Redaksi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan