Ambon, Bedahnusantara.com: Perhelatan Pemilu kepala daerah di Maluku baru akan berlangsung pada tahun 2024 mendatang. Akan tetapi Berbagai skenario dan analisis telah menjadi bahan diskusi publik guna menemukan formasi gagasan serta pasangan yang ideal untuk nantinya dipadukan.
” Hal ini memang diperlukan, mengingat politik khususnya Pilkada selalu penuh dengan berbagai geliat opini dan ekspektasi. Selain itu, fakta bahwa Maluku termasuk daerah yang tertinggal di kawasan timur Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang hingga hari ini belum mampu dituntaskan, sehingga hal ini menjadikan Pilkada pada 2024 mendatang, harus menjadi momentum untuk memajukan daerah berbasis kepulauan ini. Karena itu, formasi kepemimpinan daerah dalam Pilkada 2024 nanti dapat menjadi kunci awal dalam mengentaskan Maluku dari lembah ketertinggalan,”. Analisis ini disampaikan oleh Sekretaris Depidar SOKSI Provinsi Maluku, David Clement Sembiring kepada media ini (01/08/2023) di Ambon.
Menurut Sembiring, saat ini, Maluku butuh figur yang progresif dan cerdas serta memiliki daya mobilitas yang tinggi mengingat Maluku dalam banyak hal masih sangat tertinggal. Selain itu, pendekatan out of the book, juga menjadi salah satu kunci untuk memajukan Maluku mengingat selama ini daerah Maluku dihadapkan pada beragam permasalahan seperti keterbatasan derajat kemandirian fiskal daerah, konektivitas yang rendah, serta keterbatasan kepemimpinan daerah dengan sumber daya manusia yang memiliki etos kerja tinggi.
“Selama ini, kepemimpinan di Maluku selalu memakai pendekatan yang biasa-biasa saja dalam mengelolah pembangunan daerah dan terkesan tidak revolusioner atau memiliki visi yang tajam dan mampu menggerakan seluruh sumber daya daerah guna menarik gerbong kemajuan bersama. Hal ini telah membuat progres pembangunan daerah berjalan lambat dan bahkan jalan di tempat. Ini terkonfirmasi dari tingkat kemiskinan daerah yang tidak bergerak dalam lima tahun terakhir serta tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang berkualitas dan berkelanjutan guna menampung angkatan kerja Maluku yang setiap tahun senantiasa bertambah. Akibatnya, Maluku selalu tercatat sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi keempat di Indonesia. Jika kita ingin merubah kondisi ini, maka publik Maluku harus siap melakukan perubahan kepemimpinan daerah dari yang ada saat ini dengan kepemimpinan lima tahun mendatang yang lebih visioner dan Powerfull dalam menahkodai daerah seribu pulau ini,” Terang Sembiring.
Ditambahkan Sembiring, bahwa konfigurasi kepemimpinan Maluku ke depan yang ideal adalah menggabungkan formasi kepemimpinan militer dan sipil dengan komposisi tua dan muda, idealis dan progresif, serta pemikir dan penggerak. Komposisi itu ada pada figur Jeffry A. Rahawarin dan Wahab Talaohu sebagai bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur.
“Kedua figur ini merupakan komposisi yang ideal dan diyakini memiliki banyak kreativitas untuk memajukan Maluku. Rahawarin adalah purnawirawan Jenderal TNI yang memiliki visi kepemimpinan tegas dan cepat bertindak sedangkan Wahab Talaohu adalah anak muda Maluku yang sedang berkarya pada berbagai BUMN di Jakarta, mantan aktivis 98 serta kader muda ormas terbesar di Indonesia Nahdatul Ulama (NU), yang hingga kini pemikiran progresifnya senantiasa mewarnai setiap tahapan pembangunan nasional dan daerah. Jika kedua tokoh ini di satukan dan berhasil memenangkan Pilkada Maluku pada 2024 nanti, maka kecepatan kemajuan Maluku akan berada di atas rata-rata dan daerah penghasil rempah-rempah ini akan berpeluang menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru di Indonesia timur,” tutup Sembiring. (BN-Patrik)





