Editor : Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Dalam gereja, uang bukanlah segalanya. Namun bagi Pdt. H.Y. Rehy, Ketua Komisi VI tentang Anggaran dalam Sidang Sinode ke-39 Gereja Protestan Maluku (GPM), pengelolaan keuangan justru menjadi cermin dari kesadaran iman dan rasa takut akan Tuhan.
“Uang bukan segala-galanya. Namun karena ini adalah kasih dari Allah, maka harus dikelola dengan benar dan dengan takut akan Tuhan, supaya tanggung jawab bergereja kita semakin baik,” tegas Rehy, usai memimpin Pleno Komisi Anggaran di Gereja Maranatha Ambon, Jumat (24/10/2025).
Menurutnya, anggaran gereja bukan hanya persoalan teknis atau administratif, melainkan instrumen penting yang disusun untuk menopang pelayanan dan misi gereja secara menyeluruh.
“Secara prinsip, anggaran ini adalah mekanisme yang gereja di tetapkan, untuk memfasilitasi aktivitas dalam mencapai dan melaksanakan misi pelayanan gereja,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rehy menjelaskan bahwa seluruh regulasi dan sistem pengelolaan keuangan gereja telah diatur dengan baik, dan pembahasan di Komisi VI berjalan lancar. Meski begitu, ia menegaskan ada beberapa penekanan khusus yang menjadi perhatian bersama, terutama menyangkut lembaga dan aset yang berada di bawah GPM.
“Beberapa hal yang ditekankan misalnya, yayasan yang dibentuk oleh GPM harus mandiri. Lalu pengelolaan Rumah Sakit GPM juga perlu di audit, agar pembinaan dan tata kelolanya bisa lebih baik ke depan,” ujarnya menekankan.
Selain kemandirian lembaga, Rehy juga menyoroti pentingnya pengelolaan aset gereja secara profesional dan fungsional, agar setiap potensi yang dimiliki gereja dapat memberikan manfaat nyata bagi pelayanan dan kesejahteraan jemaat.
“Aset gereja harus dikelola secara profesional, agar dapat mendatangkan benefit bagi pelayanan,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan bahwa tim Komisi VI telah melakukan penyesuaian teknis dalam perhitungan dan penyajian anggaran, agar lebih akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara teologis maupun administratif.
Dengan pendekatan yang menekankan aspek spiritual dan akuntabilitas, Pdt. Rehy berharap agar seluruh pengelolaan keuangan di lingkungan GPM tidak hanya menjadi urusan angka, tetapi menjadi wujud nyata iman yang bekerja melalui tanggung jawab dan ketulusan melayani Tuhan. (BN Grace)





