Ambon, 21 April 2025
Oleh : Eltin Tanalepy
Editor : Redaksi
OPINI, Bedahnusantara.com: Emansipasi Perempuan terkait erat dengan upaya atau skema sosial yang bertujuan membebaskan perempuan dari semua jenis perbudakan dan eksploitasi sosial, politik dan ekonomi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “Emansipasi” adalah Pembebasan dari perbudakan, persamaan Hak pada berbagai Aspek Kehidupan.
Kini yang menjadi pertanyaan mendasar dan sangat penting untuk di renungi yakni; Masih relevan kah topik “Emansipasi” dengan perempuan Maluku?
Sekilas kita kembali pada kehidupan Perempuan Maluku di zaman dulu bahwa sejak dulu Perempuan Maluku memegang banyak peran strategi, baik dalam kehidupan keluarga maupun sosial masyarakat.
Bagi Perempuan di Maluku yang belum berkeluarga, tentunya diberi hak sepenuhnya untuk menentukan dan memutuskan sendiri jalan hidup sesuai dengan tujuan dan harapan yang ingin dicapai.
Sedangkan bagi Perempuan Maluku yang sudah menikah atau berkeluarga, nasib dan pilihannya tidak seluas yang belum menikah, walaupun juga masih boleh untuk berkarya, akan tetapi tidak Ansih nasib dan pilihan mereka terbelenggu atau terkurung dalam ruang sempit untuk diatur oleh sistem atau, suami dan keluarga, namun mereka mesti turut berperan aktif sebagai tiang dan pilar dalam keluarga.
Selain sebagai istri yang bekerjasama dengan suami untuk mengurus hal – hal kerumahtanggaan, Perempuan Maluku juga sudah mesti harus berperan sebagai Sekolah Pertama bagi anak – anaknya, yakni; Perempuan Maluku mesti belajar dan di tuntut untuk menepatkan diri sebagai role model bagi generasi nya.
Dalam aktivitas ekonomi, perempuan Maluku sudah sejak dulu turut bekerja membangun ketahanan ekonomi keluarga, dan tidak di ajarkan untuk bergantung pada orang tua atau suami.
Perempuan Maluku bahkan mampu melakukan kerja fisik seperti yang biasa di lakukan oleh kaum lelaki, semisal: membongkar batu, memotong kayu, mencangkul tanah, melaut dan yang paling populer hingga kini adalah berjualan atau yang disebut “Papalele”.
Bukan hanya aktivitas secara tradisional, Perempuan Maluku juga mampu mengerjakan berbagai aktivitas modern seperti perkantoran, konsultan dan berbagai aktivitas lainnya.
Sejarah mencatat, bahkan di Zaman Penjajahan, perempuan Maluku sudah turut berperan memegang Salawaku dan tombak melawan penjajah.
Sehingga Istilah “Emansipasi” seolah menempatkan seluruh perempuan pada sudut ruang yang sempit, terbatas dan tidak berdaya.
Dalam tatanan sosial perempuan hanya ada pada wilayah – wilayah domestik seperti dapur, kasur dan sumur. Seolah Perempuan berkewajiban membersihkan rumah, memasak, mencuci, mengurus suami dan anak.
Perempuan dan Pendidikan, Pilar Utama Peradaban
Sebagai rahim Peradaban, perempuan harus memperoleh pendidikan untuk menambah ilmu dan pengetahuan. Dengan adanya pendidikan yang setara, perempuan memiliki akses untuk belajar, mengasah keterampilan, dan mengejar minat. Pendidikan yang merata juga memberikan landasan untuk mengatasi ketimpangan sosial di ruang publik.
Melalui pendidikan, perempuan akan mampu memberdayakan dirinya secara ekonomi, sosial dan politik.
Dengan menghadirkan perempuan yang terdidik dan berprestasi di berbagai bidang, pendidikan berkontribusi pada perubahan budaya dan sosial yang lebih Inklusif.
Pendidikan juga membantu meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi sebelum menikah, sehingga membuka kesempatan untuk meraih tujuan hidup yang lebih luas.
Dengan didukung oleh pengetahuan dan keterampilan, perempuan menjadi lebih mandiri dalam mengatasi tantangan kehidupan sehari-hari. Kemandirian juga memungkinkan perempuan untuk mengambil peran sebagai pemimpin.
Pada dasarnya, semua manusia itu sama yang membedakan adalah dimana manusia itu dilahirkan dan dibentuk.
Perempuan Maluku dilahirkan di pesisir laut bergelombang lalu dibesarkan diatas batu karang yang keras dengan makanan sagu dan cakalang, tidak heran bila perempuan Maluku tegas dan lugas.
Emansipasi tidak lagi hanya tentang sosok Kartini , tapi juga tentang semua Perempuan yang hari ini berjuang di segala segmen kehidupan, baik di politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan dan bahkan Ibu rumah tangga sekalipun.
Dari Perempuan Maluku untuk seluruh Perempuan Indonesia. (**Redaksi**)





