Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: SMAS Kristen Amahai kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat lahirnya generasi unggul di Kabupaten Maluku Tengah. Melalui Grand Final Pemilihan Jujaro dan Mungare 2026 yang digelar di Baileo Ir. Soekarno, 30 April 2026, sekolah ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan lagi sekadar ruang transfer teori, melainkan ruang penciptaan solusi nyata bagi masa depan daerah.
Kepala sekolah, Fredrik Hallatu, menegaskan bahwa seluruh karya inovasi yang ditampilkan siswa merupakan hasil dari proses akademik yang terintegrasi dengan kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, sekolah tidak lagi boleh terpaku pada metode pembelajaran konvensional.
“Di sini sains tidak menakutkan. Kimia hadir melalui praktik ecoprint, Biologi dan Fisika hidup lewat pengolahan limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Anak-anak kami belajar bukan untuk menghafal, tetapi untuk menciptakan solusi,” tegas Hallatu dalam orasi pendidikannya.
Salah satu inovasi yang menyita perhatian publik adalah alat pembakaran tanpa asap yang dikembangkan siswa bersama pendamping Lucky Wakanno. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa pelajaran fisika dan mekanika mampu menjawab persoalan lingkungan secara konkret.
Tak hanya unggul dalam ilmu sains, para siswa juga menunjukkan kemampuan riset sosial dan strategi ekonomi hijau. Dengan pendekatan ilmiah berbasis jurnal dan observasi lapangan, mereka memetakan perilaku konsumsi masyarakat terhadap produk ramah lingkungan, lalu mengubahnya menjadi strategi bisnis yang kompetitif.
Puncak acara semakin menguatkan pesan besar pendidikan transformatif ketika para finalis tampil membawa gagasan perubahan. Brenda Dama menegaskan bahwa latar belakang keluarga petani bukan hambatan untuk bersaing.
“Kualitas SDM tidak ditentukan oleh kemegahan gedung, tetapi oleh kekuatan gagasan. Anak petani dari Waipo juga mampu memimpin masa depan ekonomi Maluku Tengah,” ujarnya.
Sementara itu, Stien Lekipiow tampil penuh percaya diri dengan pesan sosial yang kuat.
“Kami tidak mau dimiskinkan oleh keadaan. Dengan ilmu dan karakter yang ditempa di sekolah ini, kami siap menjadi solusi bagi tantangan stunting dan kedaulatan pangan lokal,” serunya di hadapan ratusan peserta.
Transformasi pendidikan yang dijalankan SMAS Kristen Amahai ini juga mendapat apresiasi dari Zulkarnain Awat Amir serta Joan Raturandang Leleury, yang menilai langkah tersebut sebagai investasi strategis bagi masa depan daerah.
Dengan semangat “GILA” (Gali Ide Langsung Aksi), sekolah ini menegaskan satu pesan tegas: pendidikan bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi mencetak generasi yang siap mengubah sejarah. (BN Grace)





