Ambon,Bedahnusantara.com:Delapan bulan masyarakat Indonesia, Maluku khususnya Kota Ambon dilanda pandemi Corona Virus Desease 2019 atau Covid-19, namun cara mengubah pemahaman masyarakat terhadap hal ini masih rendah.
Dalam setiap akses masyarakat belum sepenuhnya menerapkan protokol kesehatan sehingga, mempengaruhi kesehatan mereka, karena sampai saat ini Kota Ambon masih berada pada zona orange.
Meskipun banyak upaya telah dilakukan Pemerintah, pihak swasta, tokoh agama, tokoh masyarakat dan masyarakat untuk menghambat penyebaran Covid-19, namun kepercayaan masyarakat terhadap Covid-19 tidak pernah ada.
Banyak hal telah dilakukan Pemerintah dengan menetapkan tempat cuci tangan pada setiap tempat umum maupun melakukan sosialisasi tentang protokol kesehatan dengan cara mencuci tangan, menjaga jarak, menggunakan masker dan menghindari kerumunan, alhasil yang diterima diterima masyarakat yang melakukan aktifitas tidak mengikuti aturan tersebut.
Masyarakat tidak peduli dengan semua aturan Pemerintah karena, ada masyarakat di pasar, pusat pertokoan dan tempat umum tidak menerapkan protokol kesehatan, misalnya di area pasar mardika Ambon masih ada pedagang yang tidak menggunakan masker saat melakukan akses jual beli di pasar.
Hal ini dianggap biasa oleh para pedagang, bahkan mereka berpendapat kalau, Covid-19 tidak benar-benar ada di kalangan masyarakat Maluku khususnya Kota Ambon.
Sebelumnya, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Letnan Jenderal (Letjen) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Doni Monardo menyebutkan, masih ada sebanyak 17 persen masyarakat di Indonesia yang tak percaya dan menganggap tidak mungkin dan sangat tidak mungkin untuk terpapar COVID-19.
Doni Monardo dalam laporannya ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat rapat terbatas yang dipimpin Presiden dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin, mengatakan telah melaporkan ke Presiden tentang 17 persen masyarakat yg masih menganggap tidak mungkin dan sangat tidak mungkin untuk terpapar COVID-19.
“Dari data menyebutkan dari 17 provinsi di Indonesia yang tidak percaya dengan Covid-19, Maluku yang paling teratas,” katanya.
Hal yang sama disampaikan, Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy menambahkan, 17 persen masyarakat tidak percaya Covid-19, karena Kota Ambon berada pada zona merah penyebaran Covid-19.
“Ambon merupakan kota transit sehingga, menjadi pusat perekonomian masyarakat yang cukup tinggi, karena itu setiap masyarakat tidak percaya Covid benar-benar ada, dimana kita tetap dinyatakan zona merah,” katanya.
Dia menjelaskan, masyarakat Kota Ambon tidak percaya tentang keberadaan Covid-19, karena itu tugas kita untuk merubah pemahaman masyarakat tentang bahaya yang dihadapi apabila, terkena Covid-19,” ungkapnya.
Dia meminta, partisipasi dan pemahaman semua masyarakat Kota Ambon untuk tetap menerapkan protokol kesehatan saat berada di tempat umum.
“Masyarakat harus tetap menerapkan protokol kesehatan, agar kita dapat menghindari Covid-19,” terangnya.
Salah satu pedagang pasar mardika Risma mengakui, selama ini para pedagang tidak percaya terhadap Covid-19, karena delapan bulan lamanya beraktifitas bersama masyarakat tidak ada pedagang atau masyarakat yang meninggal atau sakit karena, Covid-19.
“Sampai saat ini tidak ada masyarakat yang meninggal murni Covid-19, pasti ada penyakit bawaan yang menjadi penyakit penyerta sehingga, pasien dinyatakan Covid-19,” ujarnya.
Dia berharap, pandemi Covid-19 segera berlalu agar, aktifitas masyarakat kembali normal.
“Semoga Covid segera berlalu, agar kehidupan masyarakat kembali dalam kondisi normal sebelum Covid-19 melanda dunia, Indonesia, Maluku khususnya Kota Ambon,” tandasnya( BN-02)







