Terjangan Hujan Ekstrem Picu 5 Bencana di Ambon, BPBD Ungkap Titik Rawan dan Soroti Konstruksi Talut Bermasalah

faec88b9 bf7f 4510 abe9 b1456bed5357

Editor: Redaksi

Ambon,Bedahnusantara.com: Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Ambon dalam beberapa hari terakhir memicu serangkaian bencana di sejumlah wilayah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon mencatat sedikitnya lima kejadian yang terdiri dari tiga longsor, satu talut penahan tanah patah, serta satu pohon tumbang. Kondisi ini menegaskan tingginya kerentanan wilayah terhadap dampak cuaca ekstrem, terutama di kawasan padat penduduk dan daerah dengan infrastruktur yang belum memadai.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Ambon, Frits R.M. Tatipikalawan, saat diwawancarai langsung di lokasi longsor Lateri III, Rabu (29/4/2026), mengungkapkan bahwa pihaknya telah bergerak cepat sejak malam hari untuk melakukan penanganan darurat di sejumlah titik terdampak.

“Total ada lima kejadian. Tiga longsor, satu talut patah, dan satu pohon tumbang. Tim sudah turun sejak tadi malam untuk penanganan awal,” ujarnya.

BPBD merinci lokasi kejadian sebagai berikut:

Kejadian longsor terjadi di tiga titik berbeda, yakni di Kelurahan Birahy, Jalan Skip RT 001/RW 006 kawasan Karang Panjang (belakang SMA Kalam Kudus), kemudian di Kelurahan Parinusa wilayah Amantelu, serta di Kelurahan Lateri RT 05/RW 03 Komplek BTN Lateri II. Ketiga lokasi ini dilaporkan mengalami pergerakan tanah akibat tingginya curah hujan yang mengakibatkan kondisi tanah menjadi labil.

Sementara itu, kerusakan talut penahan tanah terjadi di Masjid Muhajirin, Desa Batu Merah RT 002/RW 004. Talut tersebut dilaporkan patah setelah tidak mampu menahan tekanan air yang tertahan akibat tidak adanya sistem pembuangan yang memadai.

Adapun pohon tumbang terjadi di kawasan Pandan Kasturi, Tantui, yang sempat mengganggu aktivitas warga di sekitar lokasi.

Tatipikalawan menjelaskan, dalam penanganan awal, BPBD mengerahkan berbagai peralatan seperti karung, sekop, serta perlengkapan lainnya untuk membersihkan material longsor dan mengantisipasi dampak lanjutan. Khusus untuk talut yang patah, penanganan sementara dilakukan dengan pemasangan terpal guna mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut, mengingat intensitas hujan masih tinggi.

Lebih jauh, ia menyoroti bahwa faktor utama penyebab kerusakan talut adalah kesalahan konstruksi yang tidak memperhitungkan sistem drainase yang baik. Menurutnya, air yang tertampung tanpa saluran pembuangan, ditambah dengan sedimentasi, menimbulkan tekanan besar hingga akhirnya menyebabkan talut patah.

“Ini pelajaran penting. Talut harus dilengkapi dengan saluran pembuangan air. Kalau tidak, tekanan air akan terus meningkat dan berpotensi merusak struktur,” tegasnya.

Selain itu, BPBD juga menilai bahwa tingkat kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana masih belum merata. Ia mengungkapkan bahwa wilayah yang sebelumnya telah mendapat sosialisasi dari BPBD justru tidak mengalami dampak signifikan, sementara lokasi yang baru terdampak umumnya belum tersentuh edukasi kebencanaan secara intensif.

“Di lokasi yang sudah kami sosialisasikan, masyarakat lebih siap dan tahu langkah antisipasi. Tapi di titik baru, kesadaran itu masih kurang, sehingga dampaknya lebih terasa,” jelas Tatipikalawan.

Dalam rangka mencegah kejadian serupa, BPBD berkomitmen untuk memperluas jangkauan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang masuk kategori rawan bencana namun belum terpetakan secara maksimal.

Terkait dampak korban, BPBD mencatat adanya tiga korban jiwa dalam rangkaian kejadian ini. Satu korban telah kembali ke rumah, sementara dua lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Saat ini, BPBD Kota Ambon masih melakukan pendataan lanjutan dan pengukuran tingkat kerawanan di setiap lokasi terdampak. Langkah ini dilakukan untuk menentukan skala prioritas penanganan serta menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan oleh Pemerintah Kota Ambon.

“Kami akan ukur luas wilayah terdampak dan tingkat kerawanannya. Setelah itu akan dibahas bersama Wali Kota untuk menentukan langkah konkret, baik jangka pendek maupun jangka panjang,” tutupnya.

Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat bekerja sama dalam memperkuat mitigasi, mulai dari pembangunan infrastruktur yang sesuai standar hingga peningkatan kesadaran akan risiko bencana di lingkungan masing-masing. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan