Ambon,Bedahnusantara.com:Taman Budaya Provinsi Maluku menampilkan pentas musik tradisional katreji dengan menghadirkan Haunesa Katreji Band.
Kepala Kantor Taman Budaya Provinsi Maluku Semi Toisutta mengatakan, musik Katreji merupakan musik pengiring pada dansa Katreji dimana, dansa katreji adalah akulturasi dari budaya eropa dan Maluku.
“Musik katreji lebih kental bertumbuh dan berkembang di Maluku khususnya Kota Ambon akibat adanya imperialisme atau penjajahan. Jadi bangsa eropa dan portugis datang untuk berdagang, namun mereka juga menjajah,” ungkapnya kepada wartawan disela-sela pentas musik tradisional katreji yang berlangsung di Kantor Taman Budaya Maluku, Kamis (13/08/20).
Saat ini kata dia, musik katreji masih dilaksanakan di Dusun Tuni, Negeri Urimessing dan Negeri Hatalai, Kecamatan Leitimur Selatan. Karena berbicara tentang musik dan dansa katreji tidak dapat dilaksanakan semua desa dan negeri di Kota Ambon bahkan, lanjut dia tidak semua musisi dapat memainkan musik katreji.
“Karena memang komunitas yang mengawal, menjaga dan melestarikan musik katreji hanya ada di Negeri Hatalai dan di Dusun Tuni,”terangnya.
Dia mengatakan, pentas musik katreji yang digelar oleh Taman Budaya Provinsi Maluku, dikemas dalam program dalam jaringan (Daring) yang ditampilkan oleh Haunesa group band yang merupakan salah satu komunitas yang mengawal dan merawat musik katreji.
“Mereka adalah generasi ketiga, sedangkan generasi pertama adalah Tangkai Melati band dan Rame Dendang Muda Band,” katanya.
Dia menjelaskan, musik katreji dalam penampilannya memainkan musik secara terstruktur yang dimulai dari katreji satu, walts dan katreji dua dan dansa ola-ola. Karena itu, bagi generasi kedepan musik katreji sangat penting untuk dibuadayakan karena musik katreji merupakan bagian dari pada sejarah peradaban Maluku khususnya pulau Ambon.
“Dalam artian bahwa Maluku umumnya dan kota Ambon itu bersentuhan dengan orang eropa dengan dunia Barat itu sudah jauh sebelumnya dan sejarah peradaban orang Ambon dan Maluku dalam bermusik itu sudah tinggi,” ujarnya.
Dia berharap, generasi ke depan agar tidak melupakan sejarah bermusik yang melupakan sejarah bertemu dengan bangsa-bangsa lain dalam bermusik untuk tetap dilestarikan.
“Sejarah bermusik dengan bangsa-bangsa lain penting dilestarikan karena, konsep kemajuan kebudayaan yang diisyaratkan dalam undang-undang salah satunya dengan pemanfaatan Kebudayaan, pembinaan kebudayaan dan pelestarian kebudayaan,” tandasnya.( BN-02)






