MUSDA II KOSGORO 1957 MALUKU TEGASKAN ARAH BESAR: LAUT SEBAGAI PILAR UTAMA EKONOMI RAKYAT

A8B568DC A79E 4F40 9145 4440ABD77F15

Editor: Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com: Musyawarah Daerah (Musda) II KOSGORO 1957 Provinsi Maluku kembali menegaskan posisi strategis organisasi dalam mendorong arah pembangunan daerah yang lebih berkeadilan dan berbasis potensi lokal. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Zest Ambon, Jumat (24/4/2026), menjadi ruang konsolidasi sekaligus forum pemikiran untuk merumuskan langkah konkret menjawab berbagai tantangan pembangunan di wilayah kepulauan.

Dalam forum tersebut, sambutan Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena yang dibacakan oleh Penjabat Sekretaris Kota Ambon Robby Sapulette menekankan bahwa Musda bukan sekadar agenda formal organisasi, melainkan momentum penting untuk menentukan arah masa depan.

Musda, dalam pandangan pemerintah, harus dimaknai sebagai ruang evaluasi menyeluruh terhadap kinerja organisasi, sekaligus menjadi titik tolak dalam merumuskan kebijakan dan program kerja yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Terlebih dalam konteks Maluku, yang memiliki karakteristik geografis unik sebagai daerah kepulauan dengan dominasi wilayah laut.

Tema yang diangkat, “Mewujudkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Kelautan di Maluku”, dinilai sangat tepat dan kontekstual. Maluku memiliki kekayaan sumber daya kelautan yang melimpah, mulai dari sektor perikanan tangkap, budidaya laut, hingga potensi wisata bahari yang belum tergarap maksimal. Laut bukan hanya identitas geografis, tetapi juga merupakan masa depan ekonomi daerah.

Namun demikian, dalam sambutan tersebut juga disampaikan secara terbuka bahwa potensi besar itu belum sepenuhnya memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Khususnya masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Kondisi geografis yang tersebar, infrastruktur yang belum merata, serta tingginya biaya logistik menjadi tantangan nyata yang terus dihadapi. Selain itu, akses terhadap pasar, teknologi, serta sarana pendukung ekonomi masih belum optimal, sehingga memperlambat akselerasi pertumbuhan ekonomi berbasis kelautan.

Tidak hanya itu, persoalan kebijakan juga menjadi sorotan penting. Pendekatan pembangunan yang masih cenderung sentralistik dinilai belum mampu menjawab kebutuhan spesifik daerah kepulauan seperti Maluku. Akibatnya, ruang gerak daerah dalam mengelola potensi kelautan menjadi terbatas.

Dalam konteks inilah, diperlukan keberanian untuk mendorong reformasi kebijakan yang lebih adaptif dan berpihak pada daerah. Pembangunan tidak bisa lagi diseragamkan, melainkan harus berbasis pada karakteristik lokal, potensi unggulan, serta kebutuhan riil masyarakat.

Lebih jauh, peran organisasi kemasyarakatan seperti KOSGORO 1957 menjadi sangat vital. Dengan sejarah panjang dalam dinamika pembangunan nasional, KOSGORO diharapkan mampu tampil sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat.

Penguatan ekonomi kerakyatan berbasis kelautan harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Tidak hanya berfokus pada eksploitasi sumber daya, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas.

Pendekatan inklusif juga menjadi kunci utama. Seluruh elemen masyarakat harus dilibatkan, mulai dari nelayan, pelaku UMKM, perempuan pesisir, hingga generasi muda sebagai agen perubahan. Tanpa keterlibatan aktif masyarakat, pembangunan hanya akan menjadi konsep tanpa dampak nyata.

Di akhir sambutan, harapan besar disematkan kepada Musda II KOSGORO 1957 Maluku agar mampu melahirkan gagasan strategis dan program kerja yang konkret. Selain itu, kepemimpinan organisasi yang visioner, berintegritas, dan memiliki komitmen kuat terhadap kepentingan rakyat juga menjadi faktor penentu keberhasilan ke depan.

Forum Musda diharapkan tidak berhenti pada diskusi, tetapi mampu menghasilkan solusi nyata atas berbagai persoalan pembangunan, khususnya dalam mewujudkan ekonomi kerakyatan berbasis kelautan.

Dengan menjadikan laut sebagai kekuatan utama, Maluku diyakini memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi daerah yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera. Musda II KOSGORO 1957 pun diharapkan menjadi titik awal konsolidasi besar menuju masa depan tersebut. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan