![]() |
| Kredit Usaha Rakyat |
Ambon, Bedah Nusantara.com: Dana bantuan pemerintah untuk membantu Usaha Kecil Menengah (UKM),dalam meningkatkan usahanya yang dikenal dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) selama ini terkesan hanya sekedar program belaka tanpa ada bukti nyata.
Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu pemerhati Usaha Kecil Menengah (UKM) Alex Batuwael Kepada Bedah Nusantara.com di Ambon beberapa waktu lalu
Menurut Alex “kalau dulu sosialisasi ke masyarakat terkait Bantuan KUR selalu intens dilkukan oleh Bank Indonesia (BI) akan tapi implementasinya lebih banyak yang nihil”. ujar Alex
Lebih lanjut dikatakannya ” katanya KUR itu untuk mnyelamatkan Masyrakat dan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan membantu agar UKM bisa semakin giat berproduksi dan dengan demikian semakin baik dalam menciptakan peluang usaha dan penyerapa tenang kerja meningkat”.
Aka tetapi kenyataannya usaha kecil menengah masih banyak yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan bantuan Modal Usaha.
“jika demikian, guna apa ada KUR, jika hal itu tidak mampu menyelamatkan para UKM, yang ingin menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat”.tanya Alex
Sehingga pertanggung jawabannya seperti apa yang bisa dipertanggung jawabkan oleh Pihak Bank dalam hal ini Bank Indonesia, karena fakta realnya tidak ada dampak nyata dari KUR bagi UKM di Maluku.guna apa dana KUR ini ada dan dikucurkan kepada Bank tapi sama sekali penjaminan kesejahteraan bagi para UKM itu nihil,
“Olehnya bagi saya kelihatannya KUR ini cuma sebuah rekayasa semata dan tidak ada realisasinya,kenyataannya proses KUR ini sendiri sulit diterima oleh para UKM dengan dasar administrasinya yang terkesan dipersulit oleh pihak bank”.
Alex berpendapat ” Yang lebih parah lagi sekarang KUR sudah hilang entah kemana? gaungnya seolah telah redam,dan semestinya pihak Bank dalam hal ini Bank Indonesia (BI), harus bisa mempertanggung jawabkan semua ini.karena kepercayaan ini diberikan oleh pemerintah Pusat kepada pihak Bank.jadi butuh kejelasan yang pasti terkait KUR ini nasibnya seperti apa sekarang ini.
“Sehingga ini jangan dijadikan seperti program suam-suam kuku. atau kata orang ambon, panas-panas tai ayam”.(BN-08)
