Ambon Perkuat Ketangguhan Hadapi Bencana, Ribuan Kejadian Jadi Alarm Serius

IMG 0218

Editor: Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com: Pemerintah Kota Ambon terus mendorong penguatan sistem kesiapsiagaan bencana dengan menggelar apel siaga dan simulasi dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) ke-61 tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di SD Negeri 2 Latihan SPG Ambon ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi bagian dari upaya strategis membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap potensi bencana yang terus meningkat.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI-Polri, organisasi perangkat daerah, hingga kalangan akademisi dan sektor swasta. Kehadiran lintas elemen ini menunjukkan bahwa penanggulangan bencana tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan.

Dalam laporan yang disampaikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon, terungkap bahwa kondisi geografis wilayah yang didominasi kawasan perbukitan—mencapai sekitar 90 persen—menjadikan Ambon sangat rentan terhadap berbagai jenis bencana, khususnya tanah longsor. Sepanjang tahun 2025 saja, tercatat lebih dari 1.300 kejadian bencana terjadi di kota ini. Angka tersebut menjadi indikator nyata bahwa risiko bencana bukan lagi potensi, melainkan ancaman yang terus hadir di tengah kehidupan masyarakat.

Situasi ini mendorong pemerintah untuk melakukan perubahan pendekatan dalam penanganan bencana. Jika sebelumnya lebih menitikberatkan pada sosialisasi dan imbauan, kini fokus diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat sebagai aktor utama dalam mitigasi. Warga didorong untuk memiliki pengetahuan, keterampilan, serta kesiapan mental dalam menghadapi situasi darurat, termasuk kemampuan melakukan evakuasi secara mandiri.

Upaya ini juga diperkuat dengan penanaman nilai-nilai kesadaran bencana sejak dini. Lingkungan keluarga dan sekolah dipandang sebagai titik awal yang paling efektif dalam membangun budaya siaga. Pembelajaran dari sejarah, termasuk peristiwa tsunami besar yang pernah melanda Ambon pada tahun 1950, menjadi pengingat penting bahwa kesiapsiagaan harus diwariskan dari generasi ke generasi.

Di sisi lain, pemerintah juga mulai memaksimalkan pemanfaatan teknologi dalam sistem mitigasi bencana. Sejumlah perangkat seperti sensor gempa dan tsunami serta kamera pemantau telah dioperasikan untuk mendukung sistem peringatan dini. Teknologi ini diharapkan mampu memberikan informasi cepat dan akurat sehingga langkah penanganan dapat dilakukan lebih efektif.

Penguatan juga dilakukan pada infrastruktur pendukung. Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana kini telah diperbarui dan diintegrasikan dengan sistem Smart City, termasuk peningkatan layanan call center sebagai jalur komunikasi darurat bagi masyarakat. Dengan sistem yang lebih terhubung, respons terhadap kejadian bencana diharapkan menjadi lebih cepat dan terkoordinasi.

Tak kalah penting, kesiapan logistik turut menjadi perhatian utama. Pemerintah menambah armada mobil tangki air untuk memastikan ketersediaan air bersih tetap terjaga bagi warga yang terdampak bencana. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjamin kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi darurat.

Melalui tema “Siap untuk Selamat”, peringatan HKB tahun ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya sadar bencana yang tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Simulasi yang dilakukan secara berkala diharapkan dapat melatih refleks dan kesiapan warga dalam menghadapi berbagai skenario bencana.

Dengan berbagai langkah yang terus diperkuat, Pemerintah Kota Ambon optimistis mampu menekan risiko serta dampak bencana di masa depan. Ketangguhan masyarakat yang didukung oleh sistem yang terintegrasi diyakini menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan dan kesejahteraan warga, tidak hanya di Kota Ambon, tetapi juga di wilayah Maluku secara lebih luas. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan