![]() |
| Bentuk-Bentuk Teror Kepada Allen Risakotta |
Ambon, Bedah Nusantara.com: Allen Risakotta, seorang saksi mata yang sekaligus pengunggah Video Kekerasan dan tindakan tidak manusiawi oleh tenaga perawat pada Rumah Sakit Umum (RSU)u Dr. Haulussy Ambon, kepada balita 2 Tahun 8 Bulan, Noel Imanuel Tanasale. kini mendapat berbagai teror dari sejumlah pihak yang tidak bertanggung jawab.
Risakotta, yang ketika itu berada bersama dengan korban (Noel Tanasale) dan juga Ibu kandungnya Pulina Tanasale, melihat dan menyaksikan serta merasakan benar apa yang terjadi terhadap korban (Noel Tanasale) balita 2 Tahun 8 Bulan, yang tak lain ponakannya sendiri.
” saya saat itu ada bersama-sama dengan pasien (Noel) juga kaka saya Paulina Tanasale, Ibu kandung dari Noel, dan saya bersama mereka sejak Noel mulai masuk di Ruang Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Haulussy, sampai dengan peristiwa penelantaran Noel, serta tindakan kasar dan tidak manusiawi yang dilakukan oleh perawat kepada Noel saat mencabut Infus pun saya ada bersama-sama dengan pasien dan Ibu kandungnya” Terang Risakotta.

” saya merasakan dan melihat semua dengan mata kepala saya sendiri, saya melihat bagaimana pelayanan oleh pihak rumah sakit dan para Medis, baik dokter dan mantri serta perawat terhadap Noel. saya bahkan ikut mengurus berkas-berkas yang berkaitan dengan administrasi, ketika Ibu Noel meminta anaknya dirawat secara Intensif dengan kategori rawat inap” tuturnya.
Dikatakannya, kami ketika masuk saja sudah diminta membayar administrasi dan menebus obat, sebab saat itu kami masuk dengan status sebagai pasien umum dan bukan BPJS juga ASKES, akan tetapi setelah pelayanan awal yang mana Noel diberikan infus dan diminumkan obat yang telah dibeli, setelah itu Noel kemudian ditinggalkan diruangan observasi berjam-jam, tanpa ada yang memantau perkembangan kesehatan maupun penyakitnya.
” Noel kala itu diberi Infus awal dan minum obat awal, dan setelah itu tidak lagi diberi tindakan medis apapun selain dibiarkan selama berjam-jam dengan alasan Observasi, akan tetapi tanpa pengontrolan akan perkembangannya Noel. Hal inilah yang membuat Ibu Noel (Paulina Tanasale Red) mulai kesal dan meminta Noel dirawat Inap, sebab Noel kala itu tidak turun demamnya, dan tidak berhenti diare walaupun telah diberi obat”.
Setelah itu,tambahnya, kami kemudian dibiarkan berjam-jam lagi tanpa penanganan dan informasi terkait rawat inap, padahal segala berkas dan administrasi telah kami selesaikan, dan kebetulan saya sendiri yang mengurusnya. sehingga karena merasa dipermainkan oleh para medis dan pihak RSUD, maka kaka saya (Paulin) yang juga Ibu kandung Noel, mulai marah dan meluapkan kekesalannya, atas pelayanan yang sama sekali tidak memberikan dampak yang baik bagi kesehatan Noel, malah mengancam nyawa Noel.
” karena kami merasa ditelantarkan, Ibu Noel (Paulin Tanasale) lalu mulai marah, karena merasa anak-nya ditelantarkan, padahal dirinya telah melaksanakan kewajibannya sebagai pasien, dan ketika luapan emosi itu disampaikan, pihak medis tidak lalu memberikan respons yang baik dan mencoba memberikan penjelasan yang baik, malah ikut memarahi kaka saya, bahkan ketika kaka saya marah dan mengeluarkan ungkapan emosi atas pelayanan yang buruk dengan berkata ” mantri kalo beta pung anak seng bisa rawat inap, beta mau bawa pulang saja”. para medis malah meresponi hal itu dengan ikut marah dan menertawakan kaka saya, yang saat itu sedang gelisah akan keselamatan nyawa anaknya”.
Oeh sebab itu ketika ada mantri atau perawat yang datang dan membuka alat infus dari tangan Noel dengan kasar sambil mengeluarkan amarah juga nada yang tidak sopan, kaka saya juga memberikan argumennya yang menjelaskan soal alasan dirinya marah-marah.


” saya hingga hari ini masih mendapat teror-teror tersebut, sehingga saya jujur sebagai seorang manusia saya merasa tertekan, akan tetapi karena topangan keluarga dan banyak pihak yang memberi dukungan kepada saya, saya menjadi kuat dan tidak gentar menghadapi berbagai teror tersebut. sebab saya meyakini sungguh apa yang saya lakukan adalah demi mengungkap sebuah kebenaran dan bukan rekayasa”. tandas Risakotta.
Untuk diketahui sejumlah teror tersebut datang dari berbagai kalangan, yang disinyalir adalah pihak-pihak berlatar belakang medis, baik dokter, perawat, suster dan pihak yang tidak bertanggung jawab lainnya yang mengancam atau bahkan menyerang Phisikologi Allen Risakotta dengan berbagai komentar tendensius. dan kebanyakan menggunakan media sosial Facebook, dengan akun-akun sebagai berikut; Jong Ryo Alfons,Ferdinandus Polche,Bouk Emanuel,Eva Maria Keljombar,Ebhy Tuharea,Jhon Hukom,Lisye Miru,Ariyanti Mandasari,Merlyn Suarlembit, Marlince Sawaki,Citra Rona,Louisya Linda Gundam, Ray Christ Ruhupatty, Sten Jovi Latumeten,. (BN-08)


