Editor: Redaksi
Ambon: Bedahnusantara.com: Upaya penanganan stunting di Kota Ambon menunjukkan perkembangan yang semakin menggembirakan. Data terbaru memperlihatkan tren penurunan kasus yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menjadi bukti bahwa berbagai program intervensi yang dilakukan pemerintah mulai membuahkan hasil nyata di tengah masyarakat.
Berdasarkan data EPPGBM, jumlah kasus stunting pada balita pada tahun 2023 tercatat sebanyak 434 kasus. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 393 kasus pada tahun 2024. Penurunan yang cukup tajam terjadi pada tahun 2025 dengan jumlah 279 kasus, dan kembali menurun menjadi 271 kasus hingga Februari 2026. Penurunan yang konsisten ini menjadi indikator kuat bahwa penanganan stunting di Kota Ambon berjalan ke arah yang positif dan terukur.
Selain itu, data dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Studi Kesehatan Indonesia (SKI) juga menunjukkan tren yang sejalan. Prevalensi stunting mengalami penurunan secara bertahap, dari 21,8 persen pada tahun 2021, menjadi 21,7 persen pada 2022, kemudian turun ke angka 20,7 persen pada 2023, hingga mencapai 19,7 persen pada tahun 2024. Meski terlihat gradual, penurunan ini menunjukkan adanya keberlanjutan program yang dijalankan secara sistematis.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Johan Stefanus Norimarna, saat dikonfirmasi langsung melalui pesan WhatsApp, Senin (13/4/2026), menegaskan bahwa capaian ini tidak terlepas dari kerja keras semua pihak, baik pemerintah, tenaga kesehatan, maupun masyarakat.
Menurutnya, intervensi yang dilakukan saat ini tidak hanya berfokus pada penanganan kasus, tetapi juga lebih menekankan pada aspek pencegahan sejak dini. Mulai dari pemenuhan gizi ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang balita, hingga edukasi kepada orang tua terkait pola asuh yang benar menjadi bagian penting dalam strategi penurunan stunting.
Ia menjelaskan bahwa penguatan layanan kesehatan di tingkat dasar, seperti puskesmas dan posyandu, menjadi ujung tombak dalam memastikan setiap anak mendapatkan perhatian yang optimal. Selain itu, kolaborasi lintas sektor juga terus diperkuat, mengingat stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran keluarga, khususnya orang tua, dalam mencegah stunting. Kesadaran masyarakat untuk memperhatikan asupan gizi, menjaga kebersihan lingkungan, serta rutin memeriksakan kesehatan anak menjadi faktor penentu keberhasilan program ini.
Meski tren penurunan sudah terlihat jelas, tantangan ke depan masih cukup besar. Pemerintah Kota Ambon, melalui Dinas Kesehatan, berkomitmen untuk terus memperkuat intervensi yang ada, sekaligus memastikan program berjalan tepat sasaran. Evaluasi berkala juga akan terus dilakukan guna mengidentifikasi hambatan di lapangan serta mencari solusi yang lebih efektif.
Capaian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh pihak untuk terus bekerja sama dalam menekan angka stunting hingga ke titik terendah. Dengan komitmen dan sinergi yang kuat, Kota Ambon optimistis mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas di masa depan. (BN Grace)





