Ambon, Bedahnusantara.com: Program Vaksinasi kepada masyarakat masih gencar dijalankan oleh pemerintah, baik untuk Tahap I, II dan bahkan hingga Tahap III. Hal ini juga yang menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas Kesehatan Kota Ambon, dalam mengejar target Herd Immunity (Kekebalan Kelompok) di masyarakat terhadap Covid-19.
![]() |
| Gambar: Ilustrasi Penolakan Terhadap Peserta Vaksinasi |
Akan tetapi apa jadinya jika ternyata program yang semula ditentang banyak orang, namun akhirnya dapat diterima oleh publik, harus kembali mendapatkan penilaian buruk oleh publik, manakala sikap dan tindakan dari para petugas tidak menunjukkan etos kerja yang manusiawi serta pelayanan publik yang baik.
Hal inilah yang dialami oleh seorang peserta Vaksinasi Covid-19 berinisial YL, yang mengalami perilaku tidak menyenangkan dan tidak etis dari para petugas medis yang menjalankan program Vaksinasi oleh Pemerintah Kota Ambon, lewat Dinas Kesehatan Kota, pada lokasi sekitar lapangan merdeka Ambon, pada Senin (25/07/2022).
Menurut Sumber (Korban YL) dirinya mendatangi lokasi Vaksinasi sekitar pukul 10:00 WIT, dan melakukan semua mekanisme yang diarahkan oleh petugas.
” saya datang dari jam 10:00 WIT pagi, dan saya ikut antrian untuk proses Vaksinasi ke-2. Vaksinasi saya mestinya pada hari Sabtu (23/07/2022) kemarin, akan tetapi karena saya sementara melakukan evakuasi barang-barang karena berpindah tempat tinggal akhirnya saya tidak sempat datang ikut proses Vaksinasi,” Ujar Sumber.
Olehnya, Kata Sumber, dengan meyakini sungguh bahwa saya harus menaati program pemerintah dan saya juga yakin tetap bisa Divaksinasi ke-2 hari ini, maka saya mendatangi tempat pelayanan dan pelaksanaan Vaksinasi yang berada di lokasi seputar lapangan merdeka Ambon. Dan setelah berkoordinasi dengan bagian pendaftaran, saya kemudian ditanyakan berbagai hal mengenai kelengkapan Vaksinasi.
” Saya ditanya oleh petugas yang melakukan pendataan dan pendaftaran, ibu melakukan Vaksinasi ke berapa?, dan saya menjawab Vaksinasi ke-2. Setelah itu saya kemudian diberitahukan bahwa Vaksin pertama saya adalah tipe ASTRA Zeneca, sedangkan Vaksin yang tersedia hanya Pfizer, lantas saya ditanyakan apakah saya mau?, dan saya menjawab saya bersedia. Selanjutnya saya diminta mengisi data yang dibutuhkan untuk proses Vaksinasi dan setelahnya saya dipersilahkan menunggu dalam antrian untuk dipanggil,” Ungkap Sumber.
Saya, lanjut sumber, menunggu dari jam 10:00 WIT sampai dengan selesai jam makan siang atau sekitar pukul 14:00 WIT, tanpa berpindah dari lokasi Vaksinasi. Kemudian setelah semua team dan dokter selesai menjalankan istirahat dan makan siang, kegiatan Vaksinasi kemudian kembali dijalankan.
Setelah itu ada salah seorang laki-laki yang bertugas sebagai bagian pendataan dan pendaftaran, menyampaikan secara umum kepada semua yang ada bahwa “Vaksin Pfizer telah habis, sehingga proses Vaksinasi untuk Tahap satu dan Ketiga (Booster) saja yang dilayani, Vaksin ke-2 tidak bisa,” terang Sumber menirukan pengumuman tersebut.
Mendengar itu, korban YL lantas mempertanyakan soal status saya yang hendak melakukan Vaksinasi tahap ke-2 kepada yang bersangkutan. Dari penjelasannya saya mendapati info bahwa; “kalau sudah lewat dari satu bulan bisa menerima dosis Vaksin Moderna”.
” Setelah mendengar penjelasan tersebut saya kemudian menyatakan saya tidak keberatan (bersedia) menerima Vaksinasi dengan tipe Moderna, dan setelah itu saya kembali disuruh duduk dan mengantri kembali”, Beber Sumber.
Saya mengantri lagi selama kurang lebih satu jam dan kemudian saya dipanggil. Akan tetapi pelayanan yang diberikan sama sekali tidak beretika, tidak manusiawi, tidak sopan, tidak menunjukkan bahwa mereka adalah pelayan masyarakat dan tenaga medis yang sebenarnya harus melayani dengan hati.
” Ketika giliran saya saat mau ditensi tekanan darah, petugas di bagian itu sama sekali tidak mengucapkan permisi atau menyapa dengan baik, tetapi langsung menyuruh saya memberi tangan dengan nada yang seolah-olah saya ini penjahat atau apa, dia berkata “tangan”, dan yang bersangkutan langsung melakukan tensi darah tanpa ada etika dan sopan santun. Tidak hanya itu sang petugas tersebut juga meneriaki para peserta Vaksinasi dengan nada yang tidak sopan seolah kami ini penumpang angkutan umum yang tidak tertib ” ibu gerser, geser, duduk geser”, dan tanpa ada kalimat maaf atau perhatian ya ibu atau bapak, memang sama sekali tidak beretika,” Geram Sumber.
Setelah semua proses pemeriksaan usai saya lewati, tibalah giliran saya untuk di Vaksin, ada seorang petugas bagian pencatatan pada Laptop yang duduk berdekatan dengan dokter yang akan melakukan penyuntikan Vaksin, mengatakan kepada saya bahwa; saya tidak bisa di Vaksinasi karna beda tipe Vaksin.
” Ibu ini, Vaksin ASTRA jadi tidak bisa di Vaksin kedua pakai tipe Pfizer !, saya kemudian menjawab, mengapa tidak dijelaskan dari awal, saya sudah mengantri sejak pagi dan sudah lewati semua tahapan administrasi, baru saat saya mau di Vaksin, kenapa saya ditolak dengan alasan Vaksin berbeda,” Jelas Korban YL.
Setelah itu petugas yang sejak semula melakukan pendataan dan mengumumkan bahwa Vaksin tipe Pfizer sudah habis, dipanggil oleh mereka dan berkoordinasi dengan petugas yang bertugas mengeluarkan dosis Vaksin dari kotak penyimpanan, dan kemudian diketahui bahwa untuk dosis Vaksin Pfizer sudah habis sejak sebelum jam 14:00 WIT tadi.
“Mendengar itu saya kemudian menyampaikan, bahwa mengapa jika demikian, kami tidak diberitahukan sejak awal bahwa Vaksin dosis Pfizer telah habis, jangan membiarkan kami menunggu sampai jam begini baru diberitahu, kami juga punya banyak perkerjaan dan tanggung jawab lainnya yang harus kami kerjakan. Saya bahkan mengajarkan mereka mestinya dari awal dihitung dan didata ketersediaan Vaksin ada berapa untuk Tahap I, II dan Ke III, agar kami masyarakat tidak dikorbankan waktunya menunggu akan tetapi tidak mendapat Vaksin, ” Tutur Sumber kesal.
Tidak hanya itu, saya kemudian bukan diberikan kepastian malah disalahkan dan juga ditekan dengan nada kasar, serta menyatakan bahwa ini sistem pusat banyak juga yang sudah disuruh pulang.
” Petugas yang berada di laptop itu kemudian menyatakan dengan nada ketus serta tidak sopan bahwa, ibu tidak bisa Vaksin, sebab sistem ini dari pusat, kalau Moderna maka harus Moderna, Pfizer maka harus Pfizer jadi ibu tidak bisa Vaksin. Saya kemudian kembali menyatakan mengapa dari awal kami tidak diberitahu, kami sudah mengantri sangat lama baru diberi perlakuan seperti ini. Petugas itu bukannya minta maaf malah menyatakan bukan hanya ibu banyak juga yang sudah saya suruh pulang, supaya Ibu tahu,” Terang Sumber kesal.
Saya sangat menyesalkan dan kecewa dengan mekanisme yang telah dilakukan kepada saya, dan saya ingin Ibu kepala Dinas melihat serta memberi sanksi kepada mereka, serta memberi kepastian kepada saya dan orang-orang lainnya yang mungkin mengalami seperti saya, terkait bagaimana status kami, apalagi jika petugas menyatakan belum bisa memastikan Vaksin akan tersedia. (BN-05)






