Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan terus diperlihatkan melalui kolaborasi antara Klasis Pulau Ambon dan Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon. Melalui kegiatan penimbangan sampah plastik yang digelar secara mobile selama dua hari, Jumat hingga Sabtu kemarin, di seluruh jemaat dalam wilayah pelayanan Klasis Pulau Ambon, sebanyak 3,5 ton sampah plastik berhasil dikumpulkan.
Capaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa kesadaran masyarakat, khususnya warga gereja, terhadap pentingnya pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan terus mengalami peningkatan. Program yang dikemas melalui gerakan “Keep Smile 5000 DLHP” itu tidak hanya menjadi kegiatan pengumpulan sampah semata, tetapi juga menjadi momentum edukasi dan penguatan budaya hidup bersih di tengah masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, setiap kilogram sampah plastik yang berhasil dikumpulkan dihargai sebesar Rp5.000. Skema ini mendapat respons positif dari jemaat di seluruh wilayah Klasis Pulau Ambon, karena selain membantu mengurangi timbunan sampah plastik, kegiatan ini juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat yang ikut berpartisipasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon, Apries B. Gaspersz, saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Minggu (3/5/2026), menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas keterlibatan aktif seluruh jemaat, para pendeta, majelis jemaat, serta masyarakat yang telah mendukung penuh pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurut Gaspersz, hasil pengumpulan 3,5 ton sampah plastik dalam waktu hanya dua hari merupakan pencapaian yang sangat luar biasa dan menunjukkan bahwa kesadaran kolektif masyarakat Kota Ambon terhadap isu lingkungan mulai tumbuh dengan baik.
“Ini merupakan capaian yang sangat membanggakan. Dalam dua hari pelaksanaan, kami bersama Klasis Pulau Ambon berhasil mengumpulkan 3,5 ton sampah plastik dari seluruh jemaat. Angka ini bukan hanya menunjukkan keberhasilan sebuah program, tetapi juga menggambarkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat,” ujar Gaspersz.
Ia menjelaskan, program Keep Smile 5000 DLHP dirancang bukan sekadar untuk mengurangi volume sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga untuk mengedukasi masyarakat bahwa sampah dapat memiliki nilai ekonomis apabila dipilah dan dikelola secara benar.
Menurutnya, persoalan sampah, khususnya sampah plastik, masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah, termasuk Kota Ambon. Karena itu, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan perubahan pola pikir dan perilaku terhadap pengelolaan sampah.
“Kami ingin membangun pemahaman bersama bahwa sampah bukan lagi sesuatu yang harus dibuang begitu saja. Jika dipilah dan dikelola dengan baik, sampah memiliki nilai ekonomi dan sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan. Melalui program ini, kami sedang membangun budaya baru di tengah masyarakat,” katanya.
Gaspersz juga memberikan apresiasi khusus kepada pihak Klasis Pulau Ambon yang dinilai memiliki komitmen kuat dalam mendukung program-program lingkungan hidup melalui pendekatan berbasis komunitas dan keagamaan.
Menurutnya, keterlibatan institusi keagamaan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran lingkungan, karena gereja memiliki jangkauan pelayanan yang luas dan mampu menyentuh langsung kehidupan masyarakat hingga ke tingkat keluarga.
“Kami sangat berterima kasih kepada Klasis Pulau Ambon yang telah membuka ruang kolaborasi ini. Gereja memiliki kekuatan besar dalam membangun karakter dan kesadaran jemaat, termasuk dalam hal menjaga ciptaan Tuhan melalui kepedulian terhadap lingkungan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Gaspersz menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini akan menjadi motivasi bagi DLHP Kota Ambon untuk terus memperluas gerakan serupa dengan melibatkan lebih banyak komunitas, sekolah, organisasi masyarakat, serta lembaga keagamaan lainnya.
Ia berharap, gerakan penimbangan sampah plastik berbasis komunitas seperti ini dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menjadi agenda rutin, sehingga persoalan sampah di Kota Ambon dapat ditangani secara bersama-sama.
“Kalau gerakan seperti ini dilakukan secara konsisten dan melibatkan semua pihak, saya optimistis Kota Ambon akan semakin bersih, sehat, dan mampu menjadi contoh bagi daerah lain dalam pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat,” tutup Gaspersz. (BN Grace)





