Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Sektor perikanan masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Kota Ambon. Sepanjang tahun 2025, subsektor perikanan tangkap menunjukkan peran strategis meski dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem, akses bahan bakar, hingga fluktuasi harga ikan.
Kepala Dinas Perikanan Kota Ambon, Henly C. Simatauw, mengatakan produksi perikanan tangkap yang tercatat di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Rumah Lelang Arumbae pada 2025 mencapai 1.191.409 kilogram atau sekitar 1.191 ton. Produksi tersebut bersumber dari berbagai sentra nelayan yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kota Ambon.
“Produksi perikanan tangkap berasal dari Kecamatan Teluk Ambon, Teluk Ambon Baguala, Nusaniwe, hingga Leitimur Selatan, yang selama ini menjadi basis utama aktivitas nelayan,” ujar Henly C. Simatauw saat diwawancarai via WhatsApp, Rabu (4/2/2026).
Ia mengakui, aktivitas penangkapan ikan masih sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang berdampak langsung pada keselamatan nelayan. Selain faktor alam, kepastian akses pembelian bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Saat ini kami tengah menyiapkan dokumen perizinan usaha, surat kepemilikan kapal, serta Elektronik Buku Kapal Perikanan atau EBKP sebagai syarat penerbitan rekomendasi BBM bagi nelayan,” jelasnya.
Henly menambahkan, jumlah nelayan Kota Ambon yang terdata dalam sistem KUSUKA mencapai 2.374 orang yang tergabung dalam 78 Kelompok Usaha Bersama (KUB). Mereka didukung oleh sarana perikanan tangkap berupa 86 unit kapal purse seine berukuran 5–9 GT, 712 unit kapal pancing tonda berukuran 1,5 GT, serta 1.200 unit kapal gill net berukuran hingga 1 GT.
Terkait alat bantu tangkap, ia menyebut kebutuhan rumpon masih cukup tinggi, namun pengaturannya memerlukan izin dari Dinas Perikanan Provinsi Maluku. Sebagai ibu kota provinsi, Kota Ambon juga memiliki posisi strategis sebagai pusat perdagangan ikan, baik untuk konsumsi lokal maupun antar pulau, dengan suplai dari wilayah Seram, Banda, Buru, hingga Mahmuah Belakang.
“Namun kami juga menghadapi tantangan fluktuasi harga ikan yang mengikuti pasar luar daerah, serta penanganan mutu ikan yang belum optimal sehingga memengaruhi nilai jual,” ungkapnya.
Di sisi lain, subsektor perikanan budidaya di Kota Ambon juga menunjukkan perkembangan positif. Pada 2025, produksi budidaya air laut tercatat mencapai 138.943,90 kilogram, sementara budidaya air tawar sebesar 61.120,30 kilogram. Kegiatan ini tersebar di berbagai kecamatan dengan puluhan kelompok pembudidaya aktif.
Menurut Henly, komoditas unggulan perikanan tangkap Kota Ambon meliputi tongkol, cakalang, tuna, dan ikan pelagis kecil yang dipasarkan untuk kebutuhan lokal dan antar pulau, serta memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi TPI di Rumah Lelang Arumbae.
Sementara itu, perikanan budidaya mengandalkan komoditas bubara/kuwe, kerapu, dan kakap untuk air laut, serta lele, nila, dan ikan mas untuk air tawar. “Perikanan budidaya menjadi penopang penting dalam menjaga stabilitas pasokan ikan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat,” pungkasnya. (BN Grace)





