Pelayanan Buruk Bagi Anaknya, Tanasale Siap Polisikan Oknum-Oknum RSUD. Haulussy

Noel%2Boke
Pasien Balita Noel Tanasale Yang Didiskriminasi oleh RSU Dr. Haulussy

Ambon, Bedah Nusantara.com: Perilaku tidak berperi kemanusiaan dialami oleh Noel Imanuel Tanasale, balita berusia 2 Tahun 8 Bulan,yang kala itu mengalami sakit dan harus berobat ke Rumah Sakit Umum (RSU) dr. Haulussy Ambon.

Tindakan ini dialami oleh Noel panggilan akrab sang balita, yang kala itu sedang menderita penyakit Muntaber dan demam yang tinggi ketika mendapatkan penanganan medis pada ruang Unit Gawat Darurat (UGD), RSU dr. Haulussy.

Apa yang dilami oleh Noel sangatlah memilukan hati, Bagaimana tidak, balita yang malang ini, saat itu mengalami sakit Muntaber dan deman tinggi yang cukup parah akan tetapi tidak mendapatkan pelayanan kesehatan seperti yang semestinya, bahkan kemudian dibiarkan pulang dengan diawali tindakan kasar oleh salah seorang perawat ” ketika melepaskan alat infus dari tangan Noel”.

Keluarga korban Ny. Paulin Tanasale (Ibu kandung Noel)yang dikonfirmasi media ini mengungkapkan bahwa, pada awalnya pihaknya (dirinya) ketika membawa Noel “pasien” utuk dirawat di RSUD dr.Haulussy Ambon, dengan status sebagai pasien umum dan mengalami sakit Muntaber dan demam yang tinggi.

” Peristiwa kemarin itu Rabu (7/6) itu, saya membawa anak saya Noel kerumah sakit dr. Haulussy ambon, sekitar pukul 18:45-19:00 Wit. dengan status Noel mengidap Panas dan Muntaber. saat pertama kali kami masuk, kami masuk dengan status sebagai pasien ” umum” bukan BPJS atau ASKES, sehingga sejak memasuki pintu ruang UGD, segala sesuatu yang menjadi tindakan medis kami harus langsung bayar,jujur saya mau sampaikan disini bahwa, awal kami masuk pelayanan medis itu baik, Noel diberikan pemeriksaan dan dokter menyatakan bahwa Noel mengalami Dehidrasi karena kehilangan banyak cairan (Sebab Muntaber). kemudian para medis lalu meminta saya menebus Obat dan kemudian baru mereka melakukan tindakan medis, saya melihat pelayanan diawal sangat baik sebab setelah obat datang, Noel lalu diberikan Infus dan diberikan obat kemudian disuruh keruangan obserfasi” terang Paulin.

Akan tetapi, lanjutnya hal yang menyedihkan dan tidak manusiawi yang saya dan anak saya Noel rasakan yakni; kami dibiarkan terlantar sejak kurang lebih pukul 19:00 Wit- 21:35 Wit. tanpa ada satu pihak medis yang datang memantau atau memeriksa kondisi dan perkembangan dari anak saya yang telah disuruh untuk di observasi.

” dari jam tujuh lebih sampai jam 22:15 Wit, saya duduk sambil menggendong anak saya diatas paha saya, sebab dia (Noel) sudah gelisah dan tidak bisa istrahat sebab suhu badannya yang sangat panas, juga kondisi dia yang rutin diare, sehingga Noel kelihatan sangat lemas dan tidak berdaya, akan tetapi sampai jam tersebut tidak ada satupun pihak tenaga medis atau rumah sakit yang memantau atau datang mengecek perkembangan anak saya Noel”.

Saya kemudian lanjutnya, memintakan ponakan saya Allen Risakotta, yang kebetulan saat itu mendampingi saya dan Noel di ruangan Observasi, untuk menahan kantung infus Noel lalu kami berdua kemudian menemui dokter di ruang masuk UGD RSU dr. Haulussy, dan sesampainya disana saya kemudian menjelaskan soal kondisi Noel juga riwayat penyakit Noel, (Noel pernah mengalami Step akibat demam yang tinggi), saya lalu meminta agar anak saya bisa dirawat inap sebab saya takut jika Noel pulang maka jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka saya yang akan lebih kesulitan.

” jadi saya menjelaskan dengan baik-baik kepada dokter terkait kondisi Noel sejak awal disuruh Observasi dan juga tidak ada yang memantau perkembangan Noel, serta riwayat penyakit Noel. kemuian saya meminta agar Noel bisa dirawat Inap, dokter ketika mendengar penjelasan saya lalu mulai meminta saya untuk dapat menyelesaikan administrasi agar Noel bisa dirawat Inap, saya kemudian memenuhi semua itu, bahkan ponakan saya Allen Risakottalah yang mengurus semua administrai dan pemberkasannya, akan tetapi setelah pengurusan administrasi selesai dilakukan, kami kembali ditelantarkan dari pukul 22:25 Wit sampai pukul 00:15 Wit, dan tidak juga Noel dibawa masuk keruangan Inap, dan kondisi saya tetap menggendong Noel yang sudah penuh dengan kotoran akibat Noel terus menerus diare.” Jelas Tanasale sembari menangis

Lebih jauh dijelaskannya, setelah dua kali mengalami tindakan tidak manusiawi yang diakibatkan oleh tidak adanya pelayanan medis yang baik dan membahayakan nyawa anaknya, dirinya lantas mulai mengeluarkan rasa kesal dan amarahnya, terhadap pelayanan yang dialaminya bersama dengan sang anak Noel.

” saya jujur sangat marah dan kesal serta khawatir akan keselamatan anak saya, karna sebagai seorang ibu tentunya tidak ingin melihat anaknya menderita, oleh sebab itu saat saya sementara menggendong anak saya Noel, tiba-tiba lewatlah seorang mantri, dengan rasa kesal karena saya tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik kepada anak saya, bahkan terkesan kami ditelantarkan begitu saja, saya lalu menyatakan kepada sang mantri yang lewat ” mantri, kalau beta anak seng dapat pelayanan dan seng bisa dirawat inap bilang sudah lalu beta mau bawa pulang”,saya mengungkapkan hal itu karena kesal dan marah atas apa yang kami alami, akan tetapi mantri yang mendengar ungkapan saya itu tidak mencoba memberikan penjelasan atau menenangkan saya, tetapi malah ia balik mengatai saya dengan ungkapan ” io silahkan bawa pulang sudah”, sungguh suatu sikap yang tidak beretika ketika pihak medis dengan sangat jelas-jelas telah mengabaikan tanggung jawab mereka, akan tetapi masih sempat bersikap acuh tak acuh dengan kami” terangnya.

Akhirnya, tambah Tanasale, tidak sampai lima menit datang seorang perawat yang kemudian melakukan tindakan kasar kepada Noel ” pasien” sambil membuka peralatan Infus yang ada ditangan Noel, serta membiarkan darah Noel keluar begitu saja dan membasahi bagian celana saya.

” saya sempat perang mulut dengan sang perawat akibat tindakan itu, sebab saya melihat bagaimana sakitnya anak saya menangis akibat dari tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh sang perawat kepada Noel, saat melepaskan alat infus dari tangan anak saya, dan saat peristiwa itu berlangsung, dengan rasa marah juga, ponakan saya Allen Risakotta lalu mulai merekam dan mempubliskan ke media sosial, sebab apa yang dilakukan dan yang kami alami, tentunya akan juga mendapat respons yang sama dari keluarga pasien yang lain jika keluarganya diperlakukan demikian”. Tegasnya.

Oleh sebab itu, saya menyatakan dengan tegas bahwa saya akan menindak lanjuti kasus ini dengan jalur hukum dan juga semua jalur-jalur lainnya hingga keadilan dan sanksi dapat diterima oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab seperti para mantri dan perawat tersebut. dan saya juga memintakan bapak Gubernur Maluku agar dapat memperhatikan persoalan ini, sehingga tidak akan ada lagi Noel-Noel lain yang bernasib sama dengan anak saya.

” saya akan tetap memproses kasus ini, dan tidak akan pernah berhenti, baik dari tingkat kepolisian, DPRD,Komnas HAM, dan semua jalur yang mestinya saya lalui, akan saya tempuh. dan untuk diketahui, apa yang dilakukan oleh perawat di RSU dr. Haulussy, telah mengganggu phsikologi Noel, sehingga ketika dia melihat ada perawat berpakaian putih atau dokter berbaju putih datang, maka dia akan menangis dan memeluk saya erat-erat karena takut dan trauma atas apa yang telah dia alami sebelumnya”.tutupnya (BN-08)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan