Ambon, Bedahnusantara.com – Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini, program Mobil Perpustakaan Masuk Sekolah resmi digulirkan di sejumlah sekolah di Kota Ambon. Program ini diinisiasi sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk memperluas akses literasi, meningkatkan minat baca siswa, serta memperkuat budaya belajar yang berkelanjutan di kalangan generasi muda.
Kehadiran mobil perpustakaan ini membawa misi besar, yakni mendekatkan buku dan sumber pengetahuan langsung ke lingkungan sekolah. Dengan cara ini, siswa tidak perlu lagi menunggu kesempatan untuk berkunjung ke perpustakaan umum, melainkan perpustakaanlah yang hadir di tengah-tengah mereka.
“Tujuan utama dari program ini adalah untuk meningkatkan minat baca dan literasi siswa dengan mendekatkan akses ke buku dan pengetahuan. Mobil perpustakaan berperan sebagai jembatan antara sumber literasi dan para pelajar, agar mereka dapat membaca, belajar, dan mengeksplorasi wawasan dengan cara yang lebih menyenangkan,” ungkap Plt. Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon, C. Moniharapon, S.Pd., M.Pd. Saat di wawancarai via Wa, Rabu (8/10/2025)
Salah satu keunggulan dari Mobil Perpustakaan Masuk Sekolah adalah kemampuannya menjangkau sekolah-sekolah yang selama ini sulit mengakses fasilitas literasi, terutama di wilayah pinggiran kota. Dengan membawa ratusan koleksi buku dari berbagai genre – mulai dari cerita anak, ensiklopedia, pengetahuan umum, hingga buku pendidikan karakter – mobil ini memastikan setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama untuk membaca dan belajar.
Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk mempersempit kesenjangan literasi antarsekolah, sekaligus memastikan bahwa semangat belajar dan membaca tidak hanya menjadi milik siswa di pusat kota, tetapi juga mereka yang berada di wilayah terpencil.
Program ini tidak hanya membawa buku, tetapi juga menghadirkan pengalaman literasi yang menarik. Anak-anak diajak berinteraksi langsung melalui kegiatan membaca bersama, mendongeng, kuis literasi, hingga sesi diskusi ringan yang memancing rasa ingin tahu mereka.
“Kami ingin membentuk kebiasaan membaca yang menyenangkan, bukan sesuatu yang dianggap membosankan. Karena kalau minat baca sudah tumbuh sejak dini, maka kebiasaan positif ini akan terbawa hingga dewasa,” tambahnya.
Dengan pendekatan ini, Mobil Perpustakaan Masuk Sekolah diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif, di mana membaca menjadi bagian dari gaya hidup dan keseharian siswa.
Selain berfungsi sebagai sarana literasi, kehadiran mobil perpustakaan juga menjadi penopang penting bagi pelaksanaan kurikulum pendidikan. Buku-buku yang tersedia tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga relevan dengan materi pelajaran di sekolah. Hal ini membantu guru memperkaya metode pengajaran dengan bahan ajar tambahan yang kontekstual dan aktual.
Guru dapat memanfaatkan kunjungan mobil perpustakaan sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran tematik, misalnya dengan memberikan tugas membaca dan menulis refleksi, atau diskusi kelompok berdasarkan buku yang dibaca.
Dengan begitu, kegiatan literasi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian integral dari proses pendidikan formal di sekolah.
Esensi dari Mobil Perpustakaan Masuk Sekolah sejatinya berpijak pada cita-cita besar pendidikan nasional: mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui kegiatan ini, pemerintah daerah bersama para pendidik berupaya menumbuhkan generasi yang gemar membaca, berpikir kritis, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
“Perpustakaan keliling adalah bagian dari pendidikan formal yang berfungsi mencerdaskan kehidupan masyarakat. Karena di era modern ini, kemampuan literasi bukan sekadar membaca teks, tapi juga memahami konteks, menafsirkan informasi, dan menggunakannya untuk kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Selain manfaat edukatif, mobil perpustakaan juga memberikan pengalaman baru bagi para siswa. Mereka bisa membaca di ruang terbuka, di halaman sekolah, sambil berdiskusi dengan teman atau pendamping. Suasana santai dan penuh keceriaan membuat kegiatan literasi terasa seperti permainan yang menghibur.
“Anak-anak bahkan diberikan kesempatan untuk memilih sendiri buku yang mereka sukai. Dengan demikian, mereka belajar mengambil keputusan, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan mengembangkan daya imajinasi melalui bacaan,” imbuhnya.
Dia mengakui, Keberadaan Mobil Perpustakaan Masuk Sekolah menjadi simbol nyata dari upaya memperkuat budaya literasi di lingkungan pendidikan dasar. Program ini mendorong siswa untuk terbiasa berinteraksi dengan buku, memahami isi bacaan, serta mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
“Lebih dari sekadar kegiatan membaca, mobil perpustakaan juga menjadi media untuk membangun karakter siswa yang mandiri, disiplin, dan menghargai pengetahuan. Pemerintah pun berharap agar semangat literasi ini tidak berhenti di sekolah, tetapi menular hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat,” tutupnya. (BN Grace)





