Longsor di Sejumlah Titik Ambon, BPBD Soroti Alih Fungsi Lahan dan Sampah sebagai Pemicu Utama

IMG 0402
Screenshot

Editor: Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com: Sejumlah kejadian longsor kembali melanda beberapa wilayah di Kota Ambon. Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat terkait tingginya risiko bencana di kawasan perbukitan yang telah beralih fungsi menjadi permukiman.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Ambon, Novita Berhitu, saat ditemui langsung di lokasi longsor Lateri III, Kamis (30/4/2026), menegaskan bahwa alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebab utama terjadinya longsor.

“Wilayah perbukitan dengan kontur tanah terjal sebenarnya tidak direkomendasikan untuk permukiman. Namun karena keterbatasan lahan dan pertumbuhan penduduk, terjadi alih fungsi lahan yang berdampak pada meningkatnya potensi longsor,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pembangunan rumah warga yang kerap menutup jalur alami aliran air, sehingga saat hujan deras, air tidak dapat mengalir dengan baik dan memicu pergerakan tanah.

“Banyak bangunan berdiri di jalur air. Ketika hujan deras, air tertahan dan akhirnya mempercepat terjadinya longsor,” jelas Novita.

Selain faktor tersebut, persoalan sampah turut memperparah kondisi di lapangan. Material longsoran yang ditemukan di beberapa titik bahkan didominasi oleh sampah yang menyumbat aliran air.

“Ini menunjukkan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Sampah yang menumpuk bisa menjadi pemicu tambahan terjadinya longsor,” tambahnya.

Berdasarkan data BPBD Kota Ambon, sejumlah titik kejadian yang teridentifikasi meliputi:

I. Kejadian Longsor:

1. Kelurahan Birahy, Jalan Skip RT 001 RW 006 (belakang SMA Kalam Kudus)
2. Kelurahan Parinusa, Kelurahan Amantelu
3. Kelurahan Lateri, RT 05 RW 03 (Komplek BTN Lateri II, sekitar rumah warga/Ibu Sin Huka)

II. Kejadian Talut Patah:

1. Talut penahan tanah di Masjid Muhajirin, Desa Batu Merah RT 002 RW 004

Novita mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan mitigasi bencana, baik secara struktural maupun non-struktural. Hal ini meliputi pembangunan yang sesuai dengan kondisi geografis, menjaga jalur air tetap terbuka, serta meningkatkan kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Masyarakat harus lebih peduli terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Jangan membangun di daerah rawan tanpa memperhatikan risiko, dan yang paling penting adalah menjaga alam agar tetap seimbang,” tegasnya.

BPBD Kota Ambon saat ini terus melakukan pemantauan serta penanganan di lokasi terdampak, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat guna meminimalisir potensi bencana serupa di kemudian hari. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan