Kristus Raja Dimuliakan, Ambon Menjadi Kota Doa dan Perayaan Iman

kristus tuhan raja

Editor : Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com: Suasana penuh syukur dan devosi umat Katolik tampak memenuhi halaman Gereja Katolik Paroki Santo Yoseph, Ambon – Passo, Sabtu (22/11/2025), saat prosesi Peralatan Arca Kristus Raja Semesta Alam secara resmi dibuka. Ribuan umat dari berbagai wilayah di Kota Ambon hadir untuk mengikuti prosesi iman tahunan yang menjadi salah satu tradisi terbesar Gereja Katolik di Maluku.

Bacaan Lainnya

Pembukaan prosesi dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Amboina, Pastor Antoni Kelerewak, yang hadir mewakili Uskup Amboina, Mgr. Seno Ngutra yang saat ini menjalani tugas pelayanan di Eropa.

Dalam homilinya, Pastor Antoni mengajak umat untuk melihat perayaan Kristus Raja bukan hanya sebagai ritual liturgi, tetapi sebagai momen pengakuan iman bahwa Yesus Kristus adalah Raja yang memerintah sepanjang masa.

“Dua ribu tahun silam malaikat Gabriel menyampaikan kabar bahwa Kristus akan memerintah selamanya. Hari ini, kita merayakan Dia sebagai Raja di bumi dan Raja di surga, Raja atas segala raja, Tuhan atas segala tuhan,” ujarnya di hadapan umat.

Ia menegaskan bahwa wafat Yesus Kristus di kayu salib bukanlah akhir, tetapi puncak misi keselamatan bagi dunia.

“Dia tidak mati sia-sia. Kitab Wahyu 19:16 menyebutkan bahwa nama-Nya adalah Raja di atas segala raja. Karena itu, iman kita bukan pada simbol mati, tetapi pada Allah yang hidup,” tegasnya.

Pastor Antoni juga menjelaskan bahwa peralatan arca bukanlah tindakan penyembahan berhala, tetapi sebuah bentuk penghormatan iman, sebagaimana dicatat dalam Kitab 2 Samuel.

“Raja Daud mengarak tabut perjanjian bersama 30.000 orang Israel sebagai bentuk penghormatan. Demikian pula kita hari ini, mengarak Kristus Raja sebagai wujud iman dan syukur,” tambahnya.

“Mari Kita Wujudkan Kota Ambon, Maluku, dan Indonesia yang Damai dan Bermartabat.”
Tema tersebut mencerminkan semangat persaudaraan dan toleransi di Kota Ambon yang memiliki sejarah keberagaman agama.

Perwakilan panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya acara rohani umat Katolik, tetapi undangan universal untuk membangun perdamaian.

“Kami ingin prosesi ini menjadi doa bersama untuk Ambon, Maluku, dan Indonesia agar tetap menjadi tanah damai, tanah persaudaraan,” ujar panitia dalam sambutannya.

Panitia menyampaikan bahwa pelaksanaan prosesi menelan biaya sebesar Rp 170 juta, berasal dari donatur, swadaya umat, serta dukungan Pemerintah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kota Ambon.

Di akhir acara pembukaan, panitia menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mengambil bagian dalam penyelenggaraan perayaan iman ini, termasuk umat Katolik, aparat keamanan, donatur, pemerintah, dan seluruh warga Kota Ambon. (BN Grace)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan