Kim Markus: MBD Tidak Bisa Terapkan New Normal karena 3 Pasien Positif Covid-19

Ambon, Bedahnusantara.com: Kabar Kapal Sabuk Nusantara 87 membawa penumpang ternyata diperbolehkan, asalkan membawa hasil rapid test dan surat ijin PP dari Gustu Provinsi Maluku. Tetapi Sekda MBD membantah akan hal itu, bahwa Kapal Sabuk Nusantara 87 boleh diperbolehkan ke MBD hanya membawa barang logistik saja.

mbd%2Btolak%2BNew%2BNormal
Kim Markus: MBD Tidak Bisa Terapkan New Normal karena 3 Pasien Positif Covid



“Namun yang terjadi dilapangan sebaliknya, sabuk Nusantara 87 ternyata membawa penumpang, dan hasil koordinasi kami dengan Sekertaris Gustu Provinsi yang menjelaskan kalau sudah berkoordinasi dengan Gustu MBD dan penumpang dipersilahkan ikut dengan catatan harus dilengkapi surat ijin dari Gustu Provinsi dan Surat Keterangan Rapid tes,”Jelas Kim Markus selaku Tokoh Pemuda MBD kepada awak media di Kantor Gubernur Maluku.

Markus menyampaikan kalau dari hasil pertemuan Tim Gustu MBD dan Provinsi,  tetapi Suekda MBD pernah menjelaskan klaster sabuk Nusantara 87 boleh ke MBD tetapi tidak boleh membawa penumpang.

Selain itu Markus menyesalkan surat keterangan yang dikeluarkan bukan surat hasil rapid tes tapi surat keterangan jalan dari tim covid provinsi, sementara surat dari medis menyatakan pelaku perjalanan tersebut bebas Covid tidak ada.

Untuk saat ini siapa yang harus bertanggung jawab dengan kebijakan yang teledor sehingga daerah MBD yang akan diterapkan New Normal ditiadakan.

“Siapa yang akan bertanggung jawab dengan kebijakan kaki kepala, takaruang dan sudah terjadi maka dicabut status new normal tadi akan menjadi zona kuning,”Ungkap Markus dengan Nada Kesal Kepada wartawan di Lobby kantor Gubernur Maluku.

Kim Markus menjelaskan ia akan melaporkan Tim Gustu MBD ke kepolisian.

Markus menilai Gustu MBD sangat salah, harusnya new normal yang akan diterapkan di MBD harus dibatalkan karena adanya tiga (3) orang yang terpapar Covid-19 di MBD.

“Sekda MBD selaku ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Maluku Barat Daya harus bertanggung jawab kenapa MBD dari Zona Hijau menjadi zona kuning,”Tegasnya.

Markus menambahkan MBD sebelum dan adanya pandemi ini, daerah ini miskin dengan adanya keteledoran, maka pastilah masyarakat MBD Akan lebih sengsara karena semua pulau-pulau dikunci.

“Jika semua pulau-pulau dikunci, masyarakat akan makan apa? Daerah ini sangat miskin ketelodoran sebelum dan adanya pandemi covid ini,”Tutup Markus.(BN-04)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan