Guru Honorer Dalam Pusaran Pandemi Covid-19

Ambon,Bedahnusantara.com: Sejumlah strategi dan upaya serta kebijakan telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Ambon untuk dapat mendorong terciptanya kesadaran dari masyarakat akan bahaya Covid-19 dan pentingnya menjalankan protokol kesehatan termasuk kebiasaan melakukan program 3M (Memakai Masker, Mencucui Tangan dan Menjaga Jarak).

InShot 20201201 001152245


Akan tetapi hingga hari ini belumlah menunjukan adanya perubahan yang siginifikan, yang terlihat dari status wilayah Kota Ambon yang awalnya dari Zona Orange, sempat kembali menjadi Zona Merah dan akhirnya kini kembali lagi pada Zona Orange.


Bahkan hal ini juga berdampak secara siginifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, baik pada skala kecil, menengah dan besar. Sejumlah orang di Kota ini mesti mengalami yang namanya proses mengrumahkan tenaga kerja (dirumahkan) atau bahkan banyak juga yang akhirnya dipecat.


Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi salah satu penunjang dari semakin banyaknya masyarakat yang tidak dapat mendukung anak-anaknya dalam dunia pendidikan. Dimana saat ini mutu pendidikan telah dipasang sebuah standarisasi berupa kualitas pembelajaran dengan metode Daring (Online).


Dalam pusaran pandemi Covid-19 ini, tentunya banyak pihak mulai menyerah dan berputus asa. Sebagian besar pihak mulai mengalami degradari kepedulian, kasih, dan moralitas untuk berbagi dengan sesama.


Situasi seperti ini semakin diperparah dengan bahaya besar yang sedang mengancam dunia pendidikan, dimana tidak semua anak-anak bangsa mendapat menikmati layanan pendidikan yang memadai (akses Internet, Fasilitas penunjang Pendidikan berbasis Online).


Namun demikian, masih ada sejumlah pihak yang memiliki rasa peduli dan semangat rela berkorban demi kepentingan masa depan generasi penerus bangsa ini.


Ya, seperti julukan mereka ” Pahlawan tanpa tanda jasa”, demikianlah para guru yang berlatar belakang tenaga pengajar kontrak (honorer) pada Sekolah SD Negeri 2 Hative Besar, Kecamatan Teluk Ambon, mencoba mendedikasikan hidup dan ilmunya kepada para anak didik yang dicintainya.


Hal ini tergambar dalam sebuah kebijakan yang diluar kebiasaan, dimana saat semua pihak berlomba mencari keuntungan bagi diri sendiri. Mereka (Para tenaga pengajar honorer) pada SD Negeri 2 Hative Besar ini, dengan tulus iklas dan tanpa ragu menerima tugas tanggung jawab, untuk mengajar anak didiknya secara luring (tatap muka), dengan tetap menjalankan protokoler kesehatan disertai program 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak). 


Hal ini dilakukan setiap waktu sepajang kurang lebih 3 bulan terakhir, dengan cara mendatangi rumah-rumah para siswanya yang kemudian diberikan pengajaran dan materi sesuai tingkatan kelasnya.


” Langkah ini kami ambil, sebagai bagian dari kepedulian kami akan masa depan anak didik kami, dan juga akan kondisi ekonomi orang tua murid yang memang selama ini diketahui berada pada status orang tua tidak mampu,” Ungkap Ester Pattiasina selaku kepala sekolah.


Lebih lanjut dikatakannya, kami memang tidak mampu berbuat banyak, akan tetapi demi menyelamatkan dunia pendidikan, serta menjaga kualitas mutu pendidikan. maka kami kemudian dengan iklas menjalankan misi memanusiakan manusia ini secara tulus.


“Aspek keterbatasan ekonomi menjadi salah satu hal yang membuat banyak pihak dalam hal ini orang tua siswa, mejadi resah dan gelisah mana kala anak-anak mereka dipaksa mengikuti program pembelajaran secara online (Daring) ketika Pandemi Covid-19 melanda,” Ungkapnya.


Olehnya dalam menyikapi hal tersebut, kami selaku pihak Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Hative Besar, yang berlokasi di Kecamatan Teluk Ambon, kemudian mencoba menjalankan program kebijakan untuk menolong anak didik kami yang secara ekonomi berasal dari keluarga yang kurang (tidak mampu).


Lebih jauh dijelaskannya, proram belajar di rumah oleh para guru kami ini. Dilakukan atas dasar rasa cinta akan dunia pendidikan dan masa depan anak didik kami.

Sebab dalam proses kami ini, kami sama sekali tidak menggunakan dana pemerintah, akan tetapi dengan kebijakan sekolah dan ditambah ketulusan para dewan guru.


” saya jujur sangat sedih dan kadang menangis, sebab selain orang tua murid kami banyak yang tidak mampu untuk menyediakan fasilitas pendukung untuk pembelajaran secara online. tetapi banyak juga guru-guru honorer kami yang mesti berkorban demi anak didik kami, walaupun terkadang upah mereka tidak cukup dan jauh dari kata layak. dan tidak jarang berkekurangan juga,” Tegas Pattiasina.


Menurutnya, pihak pemerintah semestinya memberikan perhatian lebih kepada dunia pendidikan, sebab selama ini hanya dunia kesehatan yang seolah menjadi prioritas, akan tetapi dunia pendidikan kurang mendapat perhatian. Padahal Dunia pendidikan memiliki peran yang teramat penting dalam mencerdaskan dan memajukan bangsa ini.


” Selama ini dunia pendidikan, saya nilai kurang mendapat perhatian, apalagi di masa pandemi saat ini, para guru sama sekali tidak mendapat dukuangan dan tunjangan ekonomi padahal pada sekolah kami misalnya. terdapat banyak sekali guru-guru honorer yang dengan suka cita memberikan dirinya dan semua yang mereka miliki demi untuk mencerdaskan anak didik mereka, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu,” Terang Pattiasina.


Sungguh sebuah pemandangan yang tidak mengenakan jika kita lihat bagaimana sejarah menjelaskan tetang negara Jepang yang dihantam bom atom oleh tentara sekutu (Amerika), yang menyebabkan semua aspek kehidupan di negara tersebut menjadi porak-poranda. Akan tetapi kemudian dalam masa pemulihan, Kaisar jepang dengan tegas menyatakan sebuah kebijakan yang sungguh diluar kewajaran yakni, mendata seberapa banyak guru yang masih hidup di jepang yang kemudian difasilitasi untuk membangun jepang dari sisi pendidikan, dan kini pada akhirnya mereka kembali menjadi salah satu negara yang maju.


” Kami berharap agar pemerintah tidak kemudian mencoba menutup mata dari persoalan ini, sebab ketersediaan fasilitas pendidikan itu penting, akan tetapi keberlangsungan dan kesejahteraan para guru. Terutama Guru Honorer, menjadi hal yang sangat amat penting. Mengingat dalam segala hal, tenaga pendidik yang berlatar belakang honorer ini selalu menjadi aktor-aktor utama dan terdepan dalam memperjuangkan misi pendidikan yang lebih baik di Negeri dan Bangsa ini,” Tegas Pattiasina


Kami ingin mengingatkan pemerintah dan semua pihak yang berkewenangan untuk, marilah melihat nasib para guru Honorer ini, yang telah dengan segenap jiwa mereka mengabdi bagi kemanusiaan dan bagi bangsa dan Negera. Janganlah kemudian membiarkan mereka diombang ambingkan dalam pusaran arus pandemi Covid-19, tanpa adanya upaya pertolongan dari team sar (pemerintah), agar mereka juga bisa diselamatkan. (BN-05)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan