Gelar Teater, Taman Budaya Provinsi Maluku Tampilkan Karya Sangar

Ambon,Bedahnusantara.com:Taman Budaya Provinsi Maluku melaksanakan Gelar Teater melibatkan para sastrawan dari sanggar Cakadidi dan Bengkel Sastra Batu Karang yang disiarkan secara langsung dari kanal YouTube Taman Budaya Provinsi Maluku .

InShot 20210623 093635255

Kepala Taman Budaya Provinsi Maluku Drs Semmy Toisutta mengatakan, kegiatan Gelar Teater yang diselenggarakan akan memberikan pertumbuhan teater di Maluku karena, dalam realita pertumbuhan teater di Maluku agak lambat.

“Taman Budaya Provinsi Maluku selalu memberikan ruang untuk sanggar-sanggar yang menggeluti teater agar bisa berekspresi sehingga, kara dan kreatifitas mereka bisa ditampilkan,” ujarnya.

Dia berharap, dengan memperhatikan salah satu fungsi dari teater untuk menyampaikan pesan moral, baik yang disampaikan dalam bahasa, konsep-konsep verbal yang sifatnya berupa nasihat dan pesan moral yang disampaikan juga dalam bentuk kritik kepada masyarakat umum. Juga bisa saja kepada pemerintah dalam pesan-pesan sastranya.

Dalam konsep verbal yang disampaikan oleh Sanggar Cakadidi dengan karya dari Farid Lati, seorang penulis, seorang sastrawan yang menulis tentang ‘Lautan Lupa’ dimana, makna yang disampaikan kepada publik, kepada pemerintah dan kepada negara. 

“Sesungguhnya laut Maluku itu kaya, orang Maluku tidak boleh miskin, kalau laut Maluku itu kaya berarti orang Maluku tidak boleh miskin karena, lupa garapan maka, nelayan menjadi miskin.bahkan dalam karyanya Latif menulis bahwa kapal-kapal berbendera Indonesia awaknya negara lain, prospeknya lain dari itu adalan lumbung ikan artinya pesan yang mau disampaikan lewat teater adalah laut memberi harapan dalam konteks sekarang ini Maluku sebagai Lumbung Ikan maka, harapan terbesar orang Maluku kedepan akan sejahtera,” paparnya.

Disisi lain pesan moral bagi masyarakat yang disampaikan oleh Bengkel Sastra Batu Karang tentang identitas orang Maluku.

“Kita ini alifuru, orang-orang yang mengangkat sumpah dan pegang sumpah betul bahkan didalamnya dia mengatakan kalau bukan anak adat maka, tidak mengerti tentang sumpah. Nah sumpah kita tentang Pela Gandong. Sumpah kita itu kekuatan yang meniadakan pertumpahan darah, sumpah kita ditulis oleh Dominggus Welem Syaranamual. Sastrawan besar asli Maluku yang kemudian ditanspos kedalam bahasa daerah oleh para sastrawan di Bengkel Sastra Batu Karang dan mereka memainkan dalam perspektif manusi Maluku, manusi Alifuru. Nah apa yang mau disampaikan katong musti jaga katong punya eksistensi diri. Itu harus dijaga supaya menjadi perekat yang tidak boleh dilupakan supaya tidak boleh tercerai berai,” jelasnya.

Menutut Toisutta, pesan yang disampaikan oleh teater kali ini luar biasa, artinya masyarakat Maluku sudah berada di zaman milenial dan anak-anak Maluku sudah harus mengerti siapa orang Maluku sesungguhnya.

Karena itu Selaku pimpinan Taman Budaya Provinsi Maluku dengan kegiatan ini pihaknya berharap, ada produktifitas dan peningkatan produksi kesenian dari sanggar-sanggar, kelompok kesenian.

“Ada peningkatan produksi dan ada peningkatan karya sehingga kita tidak stagnan,” katanya.

Taman Budaya Provinsi Maluku tetap berharap, ketika Taman Budaya menyediakan panggung bagi mereka maka, mereka harus kreatif melahirkan karya-karya baru. 

“Apakah itu teater musik tari dimana, karya baru membuat masyarakat Maluku kaya dalam berkesenian,” ungkapnya.

Dalam Gelar Teater Taman Budaya Provinsi Maluku menampilkan persembahan lagu dari Fandro Louhenapessy dengan judul ‘Aniong Mama’.

Semua kegiatan Taman Budaya Provinsi Maluku dibiayai oleh Dana Aloksi Khusus (DAK) non fisik BOP Taman Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ( BN-02)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan