Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon mencatat kasus leptospirosis dalam beberapa tahun terakhir masih tergolong rendah, namun kewaspadaan tetap ditingkatkan terutama di wilayah pasar dan daerah rawan banjir.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Johan Stefanus Norimarna, M.K.M, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis (12/2/2026), menjelaskan bahwa berdasarkan Data Sistem Surveilans Kasus Potensi Wabah/KLB Dinkes Kota Ambon, kasus leptospirosis terkonfirmasi positif terakhir dilaporkan pada tahun 2018.
“Pada tahun 2018 terdapat dua kasus terkonfirmasi positif dan satu kasus suspek. Dua kasus positif tersebut semuanya dewasa dan dirawat di RSUD Haulussy,” ungkap dr. Johan.
Ia merinci, kasus positif pertama masuk RSUD Haulussy pada 8 Juli 2018, beralamat di Negeri Soya, dengan riwayat aktivitas sehari-hari di pasar tanpa menggunakan alas kaki. Kasus positif kedua dirawat pada 22 Juli 2018, beralamat di Negeri Batu Merah, dengan riwayat pernah terjatuh di selokan yang tergenang air. Sementara satu kasus suspek dewasa pada tahun yang sama dilaporkan masuk rumah sakit pada 6 Agustus 2018, beralamat di kawasan Passo depan Pasar Terminal Transit, dengan kebiasaan sering membersihkan selokan di depan rumahnya.
Memasuki tahun 2019, tercatat dua kasus suspek dewasa tanpa konfirmasi positif. Kasus pertama berasal dari Kopertis RT 002/006 pada 16 September 2019, dengan aktivitas mencuci sayur dan ikan di sungai. Kasus kedua dari Kudamati RT 001/002 belakang SPK, masuk RSUD Haulussy pada 1 Oktober 2019 dan meninggal dunia pada 4 Oktober 2019, dengan riwayat sering membersihkan selokan di sekitar rumah.
“Sejak 2022 hingga 2025, yang terlapor adalah kasus suspek, masing-masing satu kasus pada 2022, empat kasus pada 2023, satu kasus pada 2024 dan lima kasus suspek pada 2025. Tidak ada kasus konfirmasi positif dalam periode tersebut,” jelasnya.
Dinkes Kota Ambon memetakan sejumlah wilayah sebagai daerah berisiko tinggi, terutama kawasan pasar, dataran rendah dan daerah rawan banjir. Wilayah tersebut meliputi Kelurahan Benteng, Wainitu, Waihaong, Silale, Ahusen, Honipopu, Uritetu, Pandan Kasturi, Lateri, serta Negeri Batu Merah, Passo, Wayame, Rumah Tiga, Tihu dan Poka.
Menurut dr. Johan, faktor utama peningkatan risiko leptospirosis di Ambon berkaitan dengan kondisi lingkungan.
“Faktor risiko utama adalah lingkungan yang terkontaminasi bakteri leptospira, yang ditandai dengan tingginya populasi tikus sebagai reservoir. Selain itu, lingkungan kumuh, pengelolaan sampah yang kurang baik, saluran air yang tidak terawat, kawasan pasar, serta kondisi banjir di musim penghujan menjadi pemicu utama,” ujarnya.
Ia menambahkan, pada musim hujan maupun pascabanjir, genangan air berpotensi menjadi media penularan, terutama jika masyarakat memiliki luka terbuka dan tidak menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas.
Dalam upaya pencegahan dan penanganan, Dinkes Kota Ambon telah melakukan berbagai langkah. Di antaranya, kegiatan Surveilans Sentinel Kepadatan Tikus pada tahun 2020 hingga 2022 di Desa Batu Merah, Kelurahan Pandan Kasturi dan Kampung Tanah Rata, bekerja sama dengan Labkesmas Ambon.
Pada Oktober 2024, Dinkes juga melakukan skrining dan edukasi kepada masyarakat di Puskesmas Waihaong dan Rijali, serta kepada petugas kebersihan dan petugas sampah bekerja sama dengan Labkesmas dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Ambon.
“Kami terus meningkatkan penyuluhan, khususnya menjelang musim penghujan dan di daerah risiko tinggi. Selain itu, penguatan sistem surveilans dan sistem rujukan di seluruh fasilitas kesehatan juga menjadi prioritas,” tegas dr. Johan
Dinkes Kota Ambon mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, memperbaiki pengelolaan sampah, serta secara mandiri mengurangi populasi tikus di dalam maupun di luar rumah.
Pekerja berisiko tinggi seperti pedagang pasar dan petugas kebersihan diminta disiplin menggunakan alat pelindung diri, termasuk alas kaki, sarung tangan, pakaian pelindung dan sepatu bot.
Terkait gejala, dr. Johan mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan tanda-tanda awal leptospirosis.
“Gejala awal biasanya berupa demam, sakit kepala, nyeri otot terutama di betis dan paha, kadang disertai nyeri perut. Jika mengalami gejala tersebut, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat. Pengobatan relatif mudah pada stadium awal. Kematian sering terjadi karena pasien datang sudah dalam kondisi lanjut,” pungkasnya. (BN Grace)





