Dalam Memperkuat Karakter Generasi Muda BPIP Menggelar Sosialisasi Pendidikan Pancasila dan BTU

Ambon, Bedahnusantara.com – Dalam upaya memperkuat karakter generasi muda menuju Indonesia Emas 2045, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia menyelenggarakan Sosialisasi Pendidikan Pancasila dan Buku Teks Utama (BTU) Pendidikan Pancasila bagi satuan pendidikan dasar dan menengah se-Kota Ambon.

IMG 20250724 WA0015 scaled

Kegiatan ini berlangsung di Lantai V Hotel Santika Premier Ambon, Kamis (24/7/2025), diikuti oleh lebih dari 300 guru dari SD hingga SMP.

Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Kepala BPIP RI, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D, serta dihadiri oleh Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, Anggota Dewan Pengarah BPIP Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah, Staf Khusus BPIP Dr. Johannes Harjad Moko, S.J., dan anggota Dewan Pakar BPIP, serta unsur Forkopimda dan OPD lingkup Pemerintah Kota Ambon.

Dalam sambutannya, Prof. Yudian menekankan pentingnya peran Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa dalam menghadapi tantangan zaman.

Ia menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya sekadar dokumen historis, tetapi juga panduan hidup berbangsa dan bernegara yang harus diinternalisasikan sejak dini melalui jalur pendidikan formal.

“Pancasila telah menjadi kurikulum wajib sejak tahun 2022, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2022. Bahkan saya sudah sampaikan langsung kepada Menteri Dikbudristek agar Pancasila juga masuk sebagai mata ujian nasional,” tegas Yudian.

Ia juga menyampaikan bahwa BPIP telah meluncurkan 24 Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila pada 2023, 12 buku untuk guru dan 12 buku untuk siswa dari jenjang PAUD hingga SMA. Buku ini telah disahkan melalui SK Menteri Dikbudristek Nomor 026.C.H.C/SH/T/2023 dan tersedia dalam format digital (e-book) agar mudah diakses oleh seluruh tenaga pendidik.

Sementara itu, Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP, Ir. Prakoso, M.M., dalam laporannya menyebutkan bahwa di Kota Ambon terdapat 585 satuan pendidikan formal, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA/SMK dan SLB.

“Buku teks utama ini bukan hanya alat bantu pembelajaran, tetapi juga sarana untuk membentuk karakter dan jati diri kebangsaan peserta didik,” ujar Prakoso.

“Pendidikan Pancasila harus diajarkan dengan pendekatan dialogis, bukan dogmatis, dan guru menjadi fasilitator utama dalam membangun pemahaman yang kritis dan kontekstual.”

Kegiatan ini juga menjadi ajang sosialisasi program pelatihan Training of Trainers (ToT) bagi guru-guru di Indonesia, termasuk dari Indonesia Timur, melalui program pelatih Maeswara. Guru-guru yang berminat dapat mengikuti program ini dengan mendaftar melalui situs resmi BPIP.

Sebagai penutup, Prof. Yudian berharap nilai-nilai Pancasila dapat semakin membumi di Kota Ambon, yang dikenal sebagai “City of Music” dan simbol keberagaman serta toleransi.

“Ambon adalah contoh harmoni dalam keberagaman. Nilai Pela Gandong adalah representasi konkret Pancasila yang hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Kegiatan ini dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya-jawab, memberikan ruang bagi para guru untuk berdialog langsung terkait implementasi BTU Pendidikan Pancasila dalam proses belajar-mengajar di sekolah masing-masing. ( BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan