Capaian Program KB Kota Ambon 2025 Positif, TFR Turun dan Partisipasi KB Aktif Tinggi

IMG 20251118 WA0002

 

Editor: Redaksi 

Ambon, Bedahnusantara.com: Program kependudukan dan keluarga berencana (KB) di Kota Ambon sepanjang tahun 2025 menunjukkan capaian yang menggembirakan. Sejumlah indikator utama mengalami perbaikan, terutama dalam pengendalian pertumbuhan penduduk dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam program KB.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Ambon, Ir. Juliana Welhelmina Patty, M.Si., mengatakan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolaboratif antara DPPKB dengan berbagai pihak terkait, termasuk BKKBN serta perangkat daerah lainnya.

“Sepanjang tahun 2025, kita bekerja berdasarkan lima indeks utama dalam program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana. Dari data yang ada, terjadi penurunan dan capaian yang cukup baik,” ujar Juliana Patty saat diwawancarai via WhatsApp, Jumat (23/1/2026).

Salah satu capaian penting adalah Total Fertility Rate (TFR) Kota Ambon yang berada pada angka 1,99. Menurut Juliana, angka ini tergolong sangat baik karena menunjukkan pertumbuhan penduduk yang seimbang.

“Secara statistik, angka ideal itu di kisaran dua. Kota Ambon berada di angka 1,99, artinya rata-rata perempuan melahirkan dua anak. Ini menunjukkan penduduk Kota Ambon tumbuh seimbang dan terkendali,” jelasnya.

Selain itu, Contraceptive Prevalence Rate (CPR) atau tingkat partisipasi peserta KB aktif di Kota Ambon juga tercatat tinggi, yakni 89,72 persen, angka yang berada di atas rata-rata standar nasional.

“Ini menandakan bahwa kesadaran masyarakat Kota Ambon untuk menggunakan alat kontrasepsi sudah sangat baik,” katanya.

Namun demikian, Juliana mengakui masih terdapat tantangan pada indikator unmet need, yakni persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi. Angka unmet need di Kota Ambon berada pada posisi 13,32 persen, yang idealnya berada di bawah 10 persen.

“Kelompok ini adalah pasangan usia subur yang sebenarnya tidak menginginkan kehamilan, tetapi belum menggunakan alat kontrasepsi. Inilah kelompok yang menjadi fokus garapan kita ke depan, karena berisiko terjadi kehamilan yang tidak direncanakan,” ujarnya.

Indikator lainnya, yakni angka kelahiran remaja (Specific Fertility Rate/SFR) usia 15–19 tahun, tercatat berada pada angka 15 persen. Meski masih ada, angka tersebut dinilai dapat dikendalikan melalui berbagai program edukasi yang telah dijalankan.

“Kita bersyukur karena melalui program Generasi Berencana (GenRe), pendidikan kesehatan reproduksi, serta edukasi di sekolah-sekolah, angka kelahiran remaja dapat ditekan,” tambah Juliana.

Ke depan, DPPKB Kota Ambon juga akan terus memperkuat program prioritas, khususnya dalam upaya percepatan penurunan stunting.

“Penanganan stunting tetap menjadi prioritas utama yang akan terus kita dorong melalui pendekatan keluarga dan pendampingan berkelanjutan,” tutupnya. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan