Ambon, Bedahnusantara.com – Suara tifa terdengar pelan, bergetar lembut di antara tiupan angin sore di Negeri Soya. Dari sebuah rumah sederhana di lereng bukit itu, tangan-tangan tua milik Carolis Rehatta terus menepuk permukaan kulit tifa, memastikan nada dan getarannya sempurna — sebagaimana jiwa yang diwariskan dari leluhurnya.
Sebelum menjadi perajin tifa yang dikenal hingga ke luar negeri, Carolis bukan siapa-siapa di dunia seni. Ia adalah seorang teknisi elektro, bekerja dengan kabel, arus listrik, dan alat-alat logam. Tapi, kehidupan menuntunnya kembali ke akar — ke tanah, kayu, dan doa.
“Dulu saya teknisi elektro,” kenangnya. “Tapi saya pikir, kalau bapak masih hidup, biarlah bapak saja yang bikin. Setelah bapak meninggal, baru saya lanjutkan. Dan ternyata, waktu saya coba, saya merasa seperti ada sesuatu yang turun. Saya sembahyang, minta kalau memang ini panggilan saya, Tuhan kasih Dan saya berhasil.” Ungkap Carolis Rehatta saat di wawancarai di Negeri Soya Ambon, Rabu (29/10/2025)
Keberhasilan pertama itu menjadi titik balik. Ia meninggalkan dunia elektro dan kembali sepenuhnya pada dunia budaya. Sejak saat itu, tifa bukan lagi sekadar alat musik bagi Karolis. Ia menjadikannya media spiritual, simbol warisan, dan napas kehidupan orang Maluku.
“Begitu saya bisa bikin, saya tahu — ini bukan cuma kerja tangan. Ini kerja hati,” ucapnya dengan mata berbinar.
Perlahan, karya tangan Karolis mulai dikenal. Bersama Sanggar Wai Ranang, yang juga ia pimpin, ia membuat berbagai jenis tifa dan gong tradisional. Hasilnya digunakan di berbagai acara budaya di Ambon, mulai dari HUT Kota hingga karnaval budaya.
Namun puncak kebanggaannya datang ketika hasil karyanya menyeberang lautan — dipesan langsung oleh yayasan di Belanda melalui kerja sama dengan lembaga OEA.
“Saya rasa bangga sekali,” ujarnya lirih. “Tifa dari Soya, dari tangan sederhana, bisa sampai ke luar negeri. Itu bukti bahwa budaya Maluku tidak hilang. Ia hidup, dan orang luar pun menghargainya.”
Bagi Carolis, menjaga tradisi bukan sekadar soal bentuk atau suara, tapi juga soal keaslian. Ia tegas menolak penggunaan bahan yang tidak berasal dari alam Maluku.
“Waktu saya lihat ada yang bikin tifa pakai tali kelder dari Jawa, saya langsung protes,” katanya tegas. “Di Maluku ini banyak rotan. Kenapa pakai tali kelder? Itu bukan kita. Itu yang bikin jatuh harga diri budaya kita.”
Bagi Carolis, setiap bagian dari tifa punya makna. Rotan, kayu, kulit — semua adalah bagian dari hubungan antara manusia dan tanahnya. Mengubah bahan berarti mengubah roh budaya itu sendiri.
Meski usianya tak lagi muda, semangat Karolis masih menyala. Ia berharap agar generasi muda Maluku mau belajar dan meneruskan warisan ini. Ia juga berharap pemerintah kota maupun provinsi memberi ruang bagi para perajin tifa agar terus berkembang.
“Sekarang tifa sudah masuk sekolah. Itu bagus. Tapi saya harap pemerintah juga bantu perajin di kampung-kampung,” ujarnya.
“Kalau anak muda ada kerja, ada karya, mereka tidak akan habiskan waktu dengan mabuk. Mereka bisa bangga dengan karya sendiri.”
Di penghujung wawancara, Carolis kembali menepuk tifa yang baru selesai dibuatnya. Suaranya menggema, lembut namun kuat — seolah berbicara tentang tanah, laut, dan jiwa Maluku yang tak pernah padam.
“Tifa ini bukan cuma alat musik,” katanya sambil menatap jauh. “Tifa ini doa. Doa dari tanah, dari tangan, dan dari hati orang Maluku.” (BN Grace)





