Wali Kota Bodewin Tantang Rekor MURI Jukulele, Kurikulum Musik di Sekolah Diminta Kembali Berjalan

IMG 4345 scaled

Editor: Redaksi

AMBON, Bedahnusantara.com: Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena menantang seluruh pihak terkait untuk menjadikan musik jukulele sebagai kekuatan budaya sekaligus bagian dari masa depan generasi muda Kota Ambon.

Tantangan tersebut disampaikan Bodewin Wattimena saat memberikan sambutan pada acara final Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon Tahun 2026 yang berlangsung di Pattimura Park, Kota Ambon, Senin (31/8/2026).

Dalam sambutannya, Bodewin menegaskan bahwa jukulele bukan sekadar alat musik, tetapi merupakan salah satu identitas budaya yang tumbuh dan berkembang di Kota Ambon. Karena itu, menurutnya, pelestarian dan pengembangan musik tradisional tersebut menjadi tanggung jawab bersama.

“Jukulele merupakan salah satu musik tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kota Ambon. Musik tradisional ini menggambarkan identitas kita sebagai orang-orang Ambon,” kata Bodewin.

Ia menilai keberadaan jukulele harus terus dijaga, dilestarikan, dan dibudayakan agar menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas budaya lokal sebagai akar dari kebudayaan nasional.

Menurut Bodewin, status Kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia UNESCO juga membawa tanggung jawab besar. Pengakuan tersebut, katanya, tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan atau sekadar predikat, tetapi harus diwujudkan melalui program nyata yang mampu mengembangkan ekosistem musik di Kota Ambon.

“Pengakuan ini tidak saja membanggakan kita sebagai orang Ambon, tapi adalah tanggung jawab besar kita untuk memastikan bahwa pengakuan itu tidak sekadar pengakuan biasa-biasa saja,” tegasnya.

Bodewin mengatakan, tema “Jukulele untuk Semua, Ambon for the World” memiliki makna penting. Jukulele, menurutnya, harus menjadi milik seluruh masyarakat Kota Ambon tanpa dibatasi perbedaan latar belakang.

Ia berharap musik tradisional tersebut dapat menjadi alat pemersatu masyarakat sekaligus memperkuat hubungan persaudaraan di Kota Ambon.

Target Pecahkan Rekor MURI

Dalam kesempatan tersebut, Bodewin bahkan memberikan tantangan kepada Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, serta seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan musik untuk menyiapkan pemecahan rekor MURI, bahkan rekor dunia, pada pelaksanaan final lomba jukulele tahun depan.

“Kalau kita mengaku Jukulele untuk semua dan Ambon for the world, maka di tahun depan dalam perhelatan final Jukulele tingkat Kota Ambon, beta ingin katong menunjukkan kepada dunia bahwa jukulele bukan sekadar alat musik biasa di Kota Ambon, tapi menjadi jiwa dan semangat kita bersama,” ujarnya.

Ia meminta seluruh pemain jukulele di Kota Ambon didata secara menyeluruh sehingga dapat menjadi dasar untuk menggelar pertunjukan dengan jumlah pemain terbanyak.

Bodewin berharap pada pelaksanaan tahun depan, Kota Ambon dapat mencatatkan rekor MURI atau bahkan rekor dunia sebagai daerah dengan jumlah pemain jukulele terbanyak.

“Beta ingin seperti itu. Tahun depan kalau beta naik di podium seperti ini lagi, katong bikin acara pembukaan rekor MURI atau rekor dunia soal pemain jukulele terbanyak di Indonesia dan kalau bisa di dunia,” tandasnya.

Kurikulum Musik Jadi Perhatian

Selain target rekor, Bodewin juga memberikan perhatian serius terhadap keberlangsungan pendidikan musik di sekolah-sekolah di Kota Ambon.

Ia meminta agar kurikulum musik kembali dijalankan di seluruh sekolah, khususnya jenjang SD dan SMP. Menurutnya, pendidikan musik di sekolah merupakan salah satu investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi musisi Ambon yang mampu tampil di tingkat nasional maupun internasional.

“Pak Sekot, ini perintah. Tidak ada lagi alasan. Apapun masalahnya segera cari solusi dan pastikan kurikulum musik terus berjalan di sekolah-sekolah di Kota Ambon,” tegasnya.

Bodewin memberikan waktu satu bulan kepada Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan seluruh pihak terkait untuk mencari solusi agar pelaksanaan kurikulum musik dapat berjalan kembali secara maksimal.

Ia menegaskan, status Ambon sebagai Kota Musik Dunia harus dibuktikan melalui pembinaan generasi muda secara berkelanjutan.

“Kota Musik Dunia ini bukan narasi, bukan sekadar pengakuan, tetapi mesti menjadi motivasi kita untuk melakukan berbagai hal untuk memastikan 10 sampai 20 tahun ke depan dari kota ini akan lahir musisi-musisi hebat yang akan mengisi panggung-panggung nasional dan internasional,” katanya.

Musik sebagai Investasi Indonesia Emas 2045

Bodewin juga mengaitkan pembinaan musik dengan persiapan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.

Ia mengatakan, anak-anak yang saat ini masih duduk di bangku SD dan SMP merupakan generasi yang kelak akan mengisi Indonesia pada 2045. Karena itu, pembinaan mereka harus dimulai sejak sekarang.

“Sekarang 2026 berarti masih ada 19 tahun waktu yang tersisa bagi katong untuk memastikan generasi muda, anak-anak kita yang hari ini di SD dan SMP, pada 2045 akan mengisi Indonesia Emas, bukan sebagai penonton tetapi sebagai pelaku-pelaku Indonesia Emas,” ujarnya.

Menurutnya, musik menjadi salah satu bidang yang dapat dikembangkan untuk membentuk karakter sekaligus membuka peluang masa depan bagi generasi muda.

Bodewin menilai kompetisi seperti lomba jukulele juga memiliki manfaat besar dalam membentuk mental anak-anak. Kompetisi tidak semata-mata berbicara mengenai siapa yang menjadi juara, tetapi juga menjadi ruang untuk mengukur perkembangan, kemampuan, kedisiplinan dan hasil latihan.

“Perlombaan, kompetisi, pertandingan itu adalah wadah untuk kita memastikan bahwa progres, kemajuan, latihan kita itu bisa terukur. Dia bukan akhir dari segala-galanya,” jelasnya.

Jukulele Ajarkan Kerja Sama dan Sportivitas

Lebih jauh, Bodewin menekankan bahwa permainan jukulele mengajarkan nilai kerja sama dan harmoni. Setiap pemain harus mampu menempatkan diri dan tidak mengedepankan ego pribadi.

“Tidak ada harmoni yang tercipta kalau masing-masing punya ego. Tidak ada harmoni yang tercipta kalau satu lebih dari yang lain,” katanya.

Karena itu, ia berharap anak-anak Kota Ambon tidak hanya dibiasakan mengikuti kompetisi di bidang musik, tetapi juga dalam olahraga, seni dan berbagai bidang lainnya.

Bodewin menyebut berbagai kegiatan kompetisi yang telah dilaksanakan di Kota Ambon sebagai bagian dari upaya pemerintah membentuk generasi muda yang berani berkompetisi dan memiliki mental sportif.

Ia mencontohkan pelaksanaan Lasqi Nusantara Fest 2026, kompetisi dance, vocal group, paduan suara, hingga berbagai kegiatan lainnya.

“Biasakan semua anak di kota ini terlibat dalam kompetisi. Kalau itu terjadi maka tunggu waktu saja untuk Ambon ini mendunia,” ujarnya.

Menurut Bodewin, melalui kompetisi anak-anak tidak hanya belajar menjadi juara, tetapi juga belajar menerima kekalahan, menghargai prestasi orang lain, menjunjung sportivitas dan terus memperbaiki diri.

Ia juga mengingatkan seluruh peserta agar menerima hasil perlombaan dengan lapang dada dan menghormati keputusan dewan juri yang telah ditetapkan.

“Yang menang bersyukur, yang kalah juga bersyukur. Itulah makna kompetisi,” pungkas Bodewin.

Final Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon Tahun 2026 di Pattimura Park tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Ambon untuk terus menghidupkan ekosistem musik sekaligus memperkuat identitas Ambon sebagai Kota Musik Dunia. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan