Catatan Sejarah Gempa Jadi Pengingat, Masyarakat Ambon Diminta Pahami Jalur Evakuasi

15d12d87 b2c2 49e7 b574 a270a9f98263

Editor: Redaksi

AMBON, Bedahnusantara.com: Bencana alam, khususnya gempa bumi, memang tidak dapat diprediksi secara pasti kapan akan terjadi. Namun, risiko dan potensi dampaknya dapat diantisipasi dengan belajar dari catatan sejarah serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Kota Ambon merupakan salah satu wilayah yang memiliki catatan sejarah kejadian gempa bumi. Kondisi tersebut menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk memahami langkah penyelamatan diri, termasuk mengenali jalur evakuasi dan lokasi aman yang harus dituju ketika bencana terjadi.

Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Novita Berhitu, S.STP, M.Han, saat diwawancarai melalui WhatsApp, Senin (31/8/2026).

Menurut Novita, pengalaman dan catatan sejarah kebencanaan harus menjadi bagian dari pembelajaran masyarakat. Meskipun waktu terjadinya gempa tidak dapat diketahui secara pasti, masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan memahami risiko dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.

“Bencana itu tidak bisa diprediksi. Tetapi kita bisa mengetahuinya dari catatan sejarah. Sejarah mencatat bahwa Kota Ambon pernah mengalami bencana gempa bumi,” ujar Novita.

Ia menjelaskan, salah satu langkah penting yang perlu terus didorong adalah diseminasi informasi mengenai evakuasi mandiri. Masyarakat harus mengetahui sejak awal ke mana harus bergerak ketika gempa terjadi, terutama apabila gempa tersebut berpotensi memicu tsunami.

Evakuasi mandiri, lanjutnya, berkaitan langsung dengan upaya penyelamatan diri. Dalam situasi darurat, masyarakat tidak selalu dapat menunggu petugas datang memberikan arahan. Karena itu, setiap individu perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai tindakan yang harus dilakukan serta lokasi aman yang dapat dituju.

Menurut Novita, sosialisasi kebencanaan tidak cukup hanya memberikan pemahaman secara teori. Pengetahuan tersebut harus diikuti dengan kemampuan masyarakat mengenali jalur evakuasi yang benar.

Sebab, ketika gempa terjadi, kepanikan dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang keliru. Apabila masyarakat tidak mengetahui jalur evakuasi, kondisi tersebut justru dapat meningkatkan risiko korban, terlebih ketika gempa disertai potensi tsunami.

“Jalur evakuasi harus diketahui masyarakat. Ketika terjadi bencana, masyarakat harus tahu harus bergerak ke mana dan menuju tempat yang lebih aman,” jelasnya.

Karena itu, edukasi mengenai evakuasi mandiri perlu dilakukan secara berkelanjutan dan menyasar seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, pelajar, hingga orang dewasa.

Selain sosialisasi secara langsung, perkembangan teknologi juga dapat dimanfaatkan dalam memberikan edukasi kebencanaan. Salah satunya melalui penggunaan virtual reality (VR) yang memungkinkan masyarakat memperoleh gambaran mengenai situasi bencana secara lebih interaktif.

Melalui simulasi berbasis teknologi tersebut, masyarakat dapat mempelajari berbagai kondisi yang mungkin terjadi ketika gempa, sekaligus memahami arah dan tahapan evakuasi menuju lokasi yang lebih aman.

Pemanfaatan teknologi dalam edukasi kebencanaan dinilai dapat menjadi salah satu metode untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, terutama generasi muda yang semakin akrab dengan teknologi digital.

Novita menegaskan, kesiapsiagaan masyarakat merupakan salah satu faktor penting dalam mengurangi risiko korban jiwa saat bencana terjadi. Kecepatan dan ketepatan seseorang dalam mengambil keputusan pada menit-menit awal dapat menentukan keselamatan dirinya maupun orang lain di sekitarnya.

Dengan demikian, edukasi kebencanaan bukan sekadar memberikan pengetahuan tentang gempa bumi, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat untuk menyelamatkan diri secara mandiri sebelum bantuan dari petugas tiba.

Belajar dari catatan sejarah gempa yang pernah terjadi di Ambon, masyarakat diharapkan tidak menganggap ancaman bencana sebagai sesuatu yang jauh. Sebaliknya, pengalaman masa lalu harus dijadikan dasar untuk memperkuat kesiapsiagaan dan membangun budaya sadar bencana.

Pemahaman terhadap jalur evakuasi, lokasi aman, serta tindakan yang tepat ketika gempa terjadi diharapkan dapat membuat masyarakat lebih siap dan tidak mudah panik.

Dengan kesiapsiagaan yang terus diperkuat, masyarakat Ambon diharapkan mampu mengambil langkah penyelamatan yang tepat apabila sewaktu-waktu gempa bumi terjadi, termasuk ketika terdapat ancaman tsunami. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan