Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Pertemuan Raya Persekutuan Senior GMKI Ambon berlangsung penuh makna dan refleksi iman. Dalam momentum bersejarah tersebut, Pdt. Rudy Rahabeat menyampaikan homili bertajuk “Nostalgia: Cinta, Luka dan Rekomitmen”, yang mengajak para senior dan kader untuk melihat kembali perjalanan organisasi dalam terang iman sekaligus meneguhkan komitmen menuju Indonesia Emas 2045.
Mengawali khotbahnya, Pdt. Rudy mengulas makna nostalgia dari perspektif historis dan teologis. Ia menjelaskan bahwa nostalgia bukan sekadar kerinduan sentimental terhadap masa lalu, tetapi dapat menjadi kekuatan reflektif yang membangun apabila dikelola secara dewasa. Namun, ia juga mengingatkan bahwa nostalgia bisa berubah menjadi jebakan romantisme yang menyesatkan bila membuat orang terperangkap pada masa lalu tanpa visi masa depan.
Mengacu pada Keluaran 16:3, ia menyebut sikap bangsa Israel di padang gurun sebagai “nostalgia-tragik” kerinduan pada Mesir yang diperindah, padahal masa lalu itu penuh perbudakan. Romantisme yang keliru, tegasnya, membuat mereka gagal melihat Tanah Perjanjian.
Sebaliknya, ia menyoroti Lukas 15 sebagai contoh “nostalgia rekonsiliatif-transformatif”. Perumpamaan tentang anak yang hilang atau yang ia sebut sebagai “Anak yang Pulang ke Rumah dalam Rangkulan Kasih Bapa” memperlihatkan bagaimana ingatan masa lalu dapat melahirkan pertobatan, rekonsiliasi, dan hidup baru. Sang anak bungsu berani melakukan otokritik, mengakui dosa, dan kembali kepada bapanya. Di sana ia menemukan pelukan kasih yang bukan sekadar hug, melainkan embrace pelukan mendalam yang menyatukan hati.
“Allah melihat kita, tergerak hati-Nya, berlari menemui kita, merangkul dan mencium kita,” ungkap Pdt. Rudy, menggambarkan kasih Allah yang aktif dan transformatif.
Dari narasi tersebut, ia menekankan tiga pesan utama bagi keluarga besar GMKI. Pertama, pentingnya keberanian melakukan otokritik sebagai langkah pembaruan. Kedua, keberanian mengakui luka dan melangkah dalam cinta Allah. Ketiga, membangun rekomitmen sebagai wujud nostalgia yang sehat dan membangun.
Dalam suasana reflektif itu, Pdt. Rudy juga mengajak peserta bernostalgia terhadap figur-figur senior GMKI yang telah menapaki jalan pengabdian dengan cara masing-masing.
Ia menyebut nama Febry Tetelepta, mantan Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI, yang memilih jalur teologi publik dan berkiprah di tingkat nasional. Sosok lain yang disoroti adalah Willy Sabandar, Ketua Umum Persekutuan Senior GMKI, yang konsisten mengabdi di berbagai bidang pelayanan dan kebangsaan.
Tak ketinggalan, Edy Leiwakabessy, Guru Besar dan Rektor Universitas Pattimura, disebut sebagai contoh ketekunan dalam dunia akademik. Pdt. Rudy juga menyinggung peran kader muda seperti Apriansa Atapary dan Renno Patty sebagai penanda harapan masa depan GMKI, termasuk pentingnya mendorong kepemimpinan perempuan agar organisasi keluar dari kungkungan patriarki.
Lebih jauh, homili ini menegaskan posisi GMKI sebagai Ecclesia Incognita gereja yang hadir secara nyata di tengah pergumulan akademia, gereja, dan bangsa. Di tengah tantangan polykrisis, ketimpangan relasi kuasa, hingga isu kekerasan struktural di ruang akademik, GMKI diharapkan tetap menjadi “Rumah Tua” yang dirindukan, sekaligus garda terdepan mencetak kader berkualitas dan suara kenabian di tengah padang gurun kehidupan.
Pertemuan Raya ini juga menjadi momentum memilih nakhoda baru Persekutuan Senior GMKI Ambon, sekaligus mempertegas komitmen kolektif untuk terus berpihak pada kaum miskin dan lemah, menjaga keutuhan ciptaan, serta menghadirkan solidaritas lintas iman di tengah dinamika bangsa dan dunia.
Menutup homilinya, Pdt. Rudy mengingatkan pesan Yesus dalam Yohanes 15:5, bahwa di luar Dia, manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan bersandar pada kasih dan anugerah Allah Tritunggal, GMKI diajak melangkah bersama, memperbaharui komitmen, dan menghadirkan Indonesia yang diberkati Tuhan. (BN Grace)





