PT. Freeport Indonesia Tak Hargai Pentingnya Hubungan Komunitas

Jakarta, Bedah Nusantara.com: Oleh Fredy Ulemlem. SH

fredy%2BFreeport
PT. Freeport Tak Indahkan Hubungan Komunitas

Hubungan komunitas sangat penting untuk dilakukan, karena dapat memberikan keuntungan pada perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang efektif, sehingga aktivitas perusahaan pun dapat berjalan dengan baik.

Tidak adanya atau kurangnya aktivitas hubungan komunitas yang dilakukan oleh perusahaan, dapat memberikan dampak negatif dari segi fisik atau material. Ada pun beberapa contoh kasus kurangnya aktivitas hubungan komunitas yang memberikan dampak negatif bagi perusahaan adalah kasus PT. Freeport Indonesia yang dinilai mencemari lingkungan, melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan
menyebabkan kemiskinan masyarakat lokal (Aryani, 2012).

Tidak adanya penanganan yang baik dari PT. Freeport Indonesia berujung pada ratusan orang yang menyerang dan merusak kantor PT. Freeport Indonesia di kota Kuala Kencana, Mimika, Papua (EP, 2012). Sementara itu, di Bojonegoro, terjadi kesalahpahaman antara Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dengan komunitas setempat terkait pembebasan lahan, sehingga berujung pada proyek Blok Cepu yang terhambat (Yuniar, 2014).

Selain itu, ada juga kasus Teluk Buyat yang mempunyai kaitan dengan PT Newmont di Minahasa (Makmur, dalam Iskandar dan Atmakusumah, 2007:38). Beberapa kasus tersebut semakin menekankan bahwa hubungan komunitas sangat penting demi kelancaran aktivitas perusahaan.

Pentingnya hubungan komunitas juga disadari oleh salah satu perusahaan yang telah lama beroperasi di Indonesia, yaitu INPEX Corporation.INPEX Corporation adalah perusahaan yang bergerak di industri hulu minyak dan gas bumi (migas).

INPEX Corporation sendiri terbentuk pada tahun 1966 dan memulai proyek pertamanya di Indonesia, sehingga perusahaan ini sudah memiliki perjalanan yang cukup lama di Indonesia.

INPEX Corporation melalui anak perusahaannya INPEX Masela Ltd., mengelola Blok Masela di Laut Arafura,yang berjarak 150 kilometer dari Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), Provinsi Maluku. Kehadiran INPEX Masela Ltd. di wilayah Kabupaten MTB sangat membutuhkan hubungan komunitas, di mana perusahaan ini merupakan perusahaan industri hulu migas pertama yang memulai operasinya di Kabupaten MTB.

Hubungan komunitas perlu untuk dilakukan, karena adanya kebutuhan perusahaan terhadap penerimaan komunitas (Broom, 2009). Usaha untuk mendapatkan penerimaan komunitas sangat penting untuk dilakukan dari awal berdirinya sebuah perusahaan di tempat tertentu, berkaitan dengan Model Hierarki Pembelajaran yang dikemukakan oleh M. L. Ray (dalam Ruslan, 2010:115).

Model ini menjelaskan bahwa untuk mendapatkan penerimaan, maka harus ada beberapa perubahan yang dilakukan pada beberapa aspek, yaitu aspek kognitif,afektif dan perilaku (M. L. Ray dalam Ruslan, 2010).

Secara lebih lanjut, M. L. Ray (dalam Ruslan, 2010:116) menjelaskan bahwa perubahan tersebut dimulai dari aspek kognisi, yaitu adanya transfer informasi pengetahuan tertentu yang akan mengubah dari kondisi tidak tahu menjadi tahu.

Setelah itu, perubahan ini akan masuk ke tahap afektif, yakni perubahan dari tidak senang menjadi senang. Setelah pemutusan akan senang atau tidak senang, maka selanjutnya akan beralih ke tahap perubahan perilaku, yang mana terdapat perubahan dari hal negatif menjadi perilaku yang lebih positif.

INPEX Masela Ltd. juga menyadari bahwa hubungan komunitas merupakan hal yang penting untuk dilakukan. INPEX Masela Ltd. memiliki tim Social Investment yang berada di dalam Communications & Relations (C&R) Department.

Tim ini menangani program-program hubungan komunitas INPEX Masela Ltd., yang dikenal dengan program Social Investment (SI). Beberapa program SI yang telah dilakukan oleh INPEX Masela Ltd. terhadap komunitasnya di Kabupaten MTB adalah Calistung (Baca, Tulis dan Hitung) bagi siswa Sekolah Dasar (SD) dan Pertanian Organik bagi para petani lokal.

Selain beberapa program tersebut, ada program SI yang paling utama untuk dilakukan, yaitu program sosialisasi industri hulu migas, sebagai bentuk pengenalan kepada komunitas akan industri hulu migas dan profil dari perusahaan.

Program sosialisasi sejalan dengan beberapa tujuan dari hubungan komunitas, yaitu untuk menginformasikan kepada komunitas mengenai organisasi dan produk yang dihasilkan, serta untuk mengetahui sikap atau perilaku, pengetahuan dan harapan komunitas (Iriantara, dalam Wulandari, 2013:16).

Sosialisasi sendiri mempunyai tujuan yang sama dengan komunikasi, yaitu untuk terbentuknya pengertian yang sama antara kedua belah pihak (Pearson dan Nelson dalam Mulyana, 2009:76).

Sebuah komunikasi bisa terjadi jika ada beberapa unsur komunikasi, yaitu pembicara, pesan dan pendengar (Aristoteles dalam Mulyana, 2009:145).

Pembicara atau komunikator merupakan orang yang menyampaikan pesan dalam proses komunikasi, pesan merupakan pernyataan umum dan pendengar atau penerima merupakan komunikan yang menjadi sasaran komunikasi (Ardianto, Lukiati dan Siti, 2007:29).

Komunikator memegang peranan penting dalam sebuah komunikasi, di mana ia merupakan awal dari komunikasi (Ardianto, Lukiati dan Siti, 2007). Pesan juga merupakan hal yang penting dalam sebuah komunikasi, di mana pesan adalah segala sesuatu yang disampaikan oleh seseorang dalam bentuk simbol yang diterima oleh khalayak dalam serangkaian makna (Cangara, 2013), sehingga tujuan komunikasi tidak akan tercapai jika tidak ada pesan.

Berdasarkan pengertian dari kedua hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa komunikator dan pesan dari sebuah aktivitas komunikasi merupakan dua unsur yang sangat penting, sehingga kualitas dari masing-masing unsur harus diperhatikan agar tujuan komunikasi dapat tercapai.

Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini, karena keunikan perusahaan ini yang merupakaan perusahaan hulu migas pertama yang beroperasi di Kabupaten MTB, sehingga program sosialisasi industri hulu migas merupakan program SI awal yang memegang peran kunci dalam memberikan informasi bagi komunitas, agar tercipta penerimaan dari komunitas.

Selain itu, peneliti juga melihat bahwa INPEX Masela Ltd. belum mengetahui pengaruh kualitas komunikator dan kualitas pesan terhadap tingkat pengetahuan komunitas.
   
Komunikasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sebagaimana yang dipaparkan oleh Suprapto (2009:1), yaitu komunikasi merupakan bagian integral dari sistem dan tatanan kehidupan sosial manusia dan atau masyarakat.

Sandra Hybels dan Richard L. Weafer II (dalam Liliweri, 2002:3) mendefinisikan komunikasi secara sederhana, yaitu komunikasi merupakan setiap proses pertukaran informasi, gagasan dan perasaan. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan