PLN Indonesia Power Ambon Peaker Perkuat Kapasitas Kelembagaan Hadapi Ancaman Gempa dan Tsunami

IMG 20260130 WA0025

 

Editor: Redaksi 

Ambon, Bedahnusantara.com: PT PLN Indonesia Power Sub Unit PLTMG Ambon Peaker menggelar kegiatan sosialisasi dan simulasi tanggap darurat bencana alam sebagai upaya penguatan kapasitas kelembagaan dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2026.

Kegiatan tersebut melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon sebagai mitra strategis, mengingat pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana di wilayah rawan bencana seperti Kota Ambon dan sekitarnya.

Sebagai pemateri utama, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Ambon, Novita Berhitu, S.STP., M.Han, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas kelembagaan menjadi hal yang sangat penting bagi setiap institusi, khususnya yang berada di wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi.

Dalam pemaparannya, Novita menjelaskan bahwa Kota Ambon berada pada kawasan rawan gempa bumi dan tsunami karena berdekatan dengan Sesar Lait Ratu, yang merupakan salah satu sumber aktivitas kegempaan aktif di Maluku. Kondisi ini, menurutnya, menuntut kesiapsiagaan yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga terbangun secara sistematis dalam kelembagaan.

“Tujuan kegiatan ini bukan semata-mata seremonial, tetapi untuk memastikan bahwa setiap institusi memiliki pemahaman, prosedur, dan kesiapan yang memadai dalam menghadapi situasi darurat akibat gempa bumi dan tsunami,” jelas Novita.

Ia menekankan bahwa penguatan kapasitas kelembagaan mencakup peningkatan pengetahuan sumber daya manusia, pemahaman terhadap sistem peringatan dini, kesiapan jalur dan titik evakuasi, serta kemampuan koordinasi internal saat bencana terjadi. Menurutnya, kesiapan tersebut sangat menentukan dalam meminimalisir risiko korban jiwa dan dampak kerugian.

Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga diisi dengan simulasi tanggap darurat, yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mempraktikkan prosedur evakuasi dan penyelamatan diri. Simulasi tersebut bertujuan agar peserta tidak hanya memahami teori kebencanaan, tetapi juga mampu mengambil keputusan cepat dan tepat saat berada dalam kondisi darurat.

Novita berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara berkelanjutan, terutama oleh institusi yang berada di wilayah rawan bencana. Ia menilai, semakin sering dilakukan sosialisasi dan simulasi, maka tingkat kesiapsiagaan kelembagaan dan individu akan semakin baik.

Melalui kegiatan sosialisasi dan simulasi ini, diharapkan seluruh peserta mampu memahami peran dan tanggung jawab masing-masing dalam menghadapi bencana, serta turut berkontribusi dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan kerja dan masyarakat sekitar. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan