Ambon,Bedahnusantara.com – PT. Pertamina (Persero) saat ini sedang menggalakan sosialisasi Bahan Bakar Minyak (BBM) ramah lingkungan jenis pertalite dan pertamax ke masyarakat, dengan melibatkan aparat Kepolisian dan Kejaksaan setempat.
![]() |
| Pertamina Diminta Perbaiki Cara Sosialisasi BBM ke Masyarakat |
Hanya saja, menurut Ketua Komisi II DPRD Maluku, Saoda Tuanakota, cara sosialisasi program ini, dinilai belum maksimal, dikarenakan sebagain besar masyarakat belum sepenuhnya menggunakan kedua jenis BBM tersebut, sehingga sering kali menimbulkan gejolak, salah satunya dengan terjadinya aksi mogok supir angkot di Ambon, Kamis (26/8).
Menurutnya, aksi mogok yang dilakukan para supir angkot tersebut, dikarenakan faktor sulitnya untuk mendapatkan BBM jenis premium, dan tingginya harga BBM jenis Pertalite dan Pertamax, tidak sebanding dengan harga angkutan umum.
“Jadi mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) dan standar harga angkutan umum, nanti akan dibahas Pertamina dengan bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon untuk menentukannya,” ungkap Saoda usai Komisi II DPRD Maluku, melakukan rapat bersama PT. Pertamina (Persero), Jumat (27/8).
Sementara itu, Seles Area Manager Retail Pertamina MOR VIII Maluku-Papua, Wilson Eddi Wijaya mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan ke Komisi II DPRD Maluku, terkait dengan program yang sedang dijalankan, termasuk menyangkut HET pada awal September 2021 nantinya.
“Kita sudah sampaikan ke komisi II, terkait programnya. Menyangkut HET pada awal September 2021 ini, juga sudah ada hasilnya dari Pemkot untuk diturunkan kepada para pengemudi angkot,” jelasnya.
Dirinya mengaku, saat ini Pertamina tidak kekurangan stok, apalagi Depo Wayame, merupakan yang paling besar di wilayah timur Indonesia.
“Jadi tidak perlu khawatir karena tidak ada lagi kendala cuaca yang ganggu distribusi,” ungkapnya.
Wilson menambahkan, setiap SPBU yang ada, semuanya menjual biosolar dan dexlite. Tinggal masyarakat memilih, mau menggunakan BBM yang mana.
“Setiap SPBU menjual solar dan juga dexlite. Tinggal masyarakat memilih mau pakai yang mana, sebab dexlite itu ramah lingkungan dan lebih berkualitas dan sulfur yang dihasilkan juga masih lebih rendah,” katanya.
Dirinya menjelaskan, yang namanya biosolar itu pasti disubsidi. Sedangkan, lanjutnya, jenis Dexlite tidak disubsidi dan sesuai peruntukkannya, serta tidak ada pengaturannya juga.
Dirinya meminta, agar media juga membantu menginformasikan kepada masyarakat yang ingin membangun stasiun kecil SPBU, berupa pertashop dipersilahkan karena nilai investasinya juga lebih kecil, lebih mudah, dan bisa juga tersebar.
Untuk Pulau Ambon saat ini, kata Wilson, sudah ada tiga pertashop yang beroperasi sehingga masyarakat semakin lebih mudah dalam mendapatkan BBM.
Sementara mengenai stok BBM yang tersedia, lanjut Wilson, Pertamina memiliki stok BBM lebih dari sepuluh hari dan biasanya kapal tanker selalu masuk setiap saat.(BN-02)






