![]() |
| Ilustrasi Pasar Valentine |
Ambon, Bedah Nusantara.Com: Harga mati bagi pedagang pasar Valentine untuk tidak tempati pasar Tagalaya Batu Gatung, karena di nilai tidak layak untuk dipergunakan.
Demikian penegasan Max Ruhupatty salah satu pedagang Pasar Valentine kepada wartawan beberapa waktu lalu .
Menurutnya kalau para pedagang pasar Valentine bukan baru pertama menempati pasar tersebut, sudah pernah mengalami kegagalan saat berada di sana maka mereka memilih untuk kembali lagi ke pasar Valentine.
Hal ini dikarenakan lokasi untuk menjadi pasar di sana tidaklah mendukung atau strategis, walaupun pada saat kepemimpinan Walikota Papilaya di mana jalur kendaraan sudah diubah, apalagi saat ini jalur lalu lintas dinetralkan.
Ia menambahkan kalau pemerintah tidak pernah mau tanggapi aspirasi para pedagang malah tetap saja memaksa untuk dipindahkan, dan apabila para pedagang ditempatkan di sana maka nantinya anak-anak mereka akan putus sekolah.
Dirinya mempertanyakan kepada Pemerintah apabila kegagalan yang akan didapatkan di sana pemerintah akan membantu para pedagang untuk membiayai anak-anak mereka ke depan, degan demikian menurutnya, Pemkot tidak sadar kalau bersikeras mengembalikan para pedagang ke pasar tersebut maka dengan sengaja telah membuka lapangan pengangguran.
Ia menambahkan kalau terjadi di pasar Tagalaya ketika Wakil komisi II turun ke pasar tersebut selama satu jam lebih yang didapatkan hanya lima pembeli yang mendatangi pasar tersebut, sementara pedagang yang ada di sana sangat banyak.
Para pedagang pernah meminta untuk dipindahkan ke pasar Mardika, namun jawaba dari Pemkot kalau tidak ada lahan lagi bagi para pedagang,sementara yang didapatkan kalau masih ada saja pedagang dari luar yang berjualan disana.
Sementara yang didapatkan disana, pasar apung yag dibuat pemerintah bagi pedagang dijadikan kos-kosan, tetapi baru diketahui beberapa hari ini, kalau ada kos-kosan di sana, padahal sudah digunakan sangat lama.
Para pedagang pasar Valentine merasa di anak tirikan karena sebagai anak daerah tidak diperhatikan, namun orang luar bisa seenaknya saja mempergunakan fasilitas tersebut tidak sesuai dengan peruntukannya.
Sementara untuk Pasar tagalaya dirinya merasa kalau tidak layak untuk dipergunakan sebagai pasar, karena anggaran sudah dikeluarkan sangat banyak lebih baik pasar tersebut dialih fungsikan sebagai tempat kos-kosan ataupun penginapan sehingga ada pemasukan bagi Kota Ambon.
Dirinya berharap agar Pemkot tidak memindahkan mereka ke pasar Tagalaya, kalaupun dipindahkan para pedagang lebih memilih ke pasar Mardika atau kembali ke pasar Valentine. (BN-08)






