Komplain Ikan Gatal Berujung Damai, SD Negeri 8 Ambon dan SPPG Kudamati Sepakat Perbaiki Layanan

IMG 9537 scaled

Editor: Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com: Polemik terkait penyajian menu ikan yang menyebabkan rasa gatal bagi siswa di SD Negeri 8 Ambon akhirnya berujung damai. Insiden tersebut tidak hanya diselesaikan secara kekeluargaan, tetapi juga menjadi momentum penting untuk evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyediaan makanan oleh SPPG Kudamati di Ambon.

Permasalahan ini bermula dari keluhan pihak sekolah setelah menemukan adanya menu ikan yang diduga menyebabkan rasa gatal pada siswa. Kondisi ini memicu kekhawatiran, mengingat makanan yang disajikan seharusnya memenuhi standar kesehatan dan keamanan konsumsi anak-anak.

Kepala Sekolah SD Negeri 8 Ambon, Jonna Jusnita Takaria, saat ditemui langsung di SPPG Kudamati, Sabtu (11/4/2026)

Tidak menutupi rasa kecewanya. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut menjadi perhatian serius pihak sekolah karena menyangkut keselamatan dan kenyamanan siswa.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Anak-anak adalah prioritas utama kami, sehingga kualitas makanan yang mereka konsumsi harus benar-benar terjamin. Ketika ada indikasi makanan yang menimbulkan reaksi seperti gatal, tentu ini tidak bisa dianggap sepele,” ujar Takaria.

Menurutnya, langkah cepat dengan mendatangi langsung SPPG Kudamati merupakan bentuk tanggung jawab pihak sekolah dalam memastikan kejelasan dan mendorong perbaikan. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara pihak sekolah dan penyedia layanan makanan agar setiap permasalahan dapat segera ditangani.

“Kami datang bukan untuk memperkeruh keadaan, tetapi untuk mencari solusi bersama. Kami berharap kejadian ini menjadi evaluasi serius agar ke depan tidak terulang lagi,” tambahnya.

Sementara itu, Koordinator Penanggung Jawab SPPG Kudamati, Yessy Lelapary, menyambut baik kedatangan pihak sekolah dan mengapresiasi langkah tersebut sebagai bentuk kontrol dan kepedulian terhadap kualitas layanan.

“Kami sangat berterima kasih atas kunjungan langsung dari pihak SD Negeri 8 Ambon. Ini menjadi masukan yang sangat berharga bagi kami untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh,” ungkap Lelapary.

Ia mengakui bahwa insiden tersebut menjadi pembelajaran penting, terlebih dengan adanya penarikan puluhan porsi makanan dari sekolah sebagai langkah antisipasi. Hal ini, menurutnya, menunjukkan bahwa sistem pengawasan perlu diperketat, khususnya dalam proses pemilihan bahan, pengolahan, hingga penyajian makanan.

“Kami akan meninjau kembali seluruh protap atau standar operasional prosedur penyajian makanan. Ke depan, kami pastikan aspek higienitas dan kualitas bahan pangan akan lebih diperhatikan agar benar-benar aman dikonsumsi oleh anak-anak,” jelasnya.

Lebih lanjut, Lelapary menegaskan komitmen SPPG Kudamati untuk meningkatkan kualitas layanan, termasuk melakukan pengawasan lebih ketat terhadap bahan makanan, memastikan kesegaran ikan, serta meningkatkan standar kebersihan dalam proses distribusi.

Dengan berakhirnya persoalan ini secara damai, kedua belah pihak sepakat untuk menjadikan kejadian tersebut sebagai titik awal perbaikan. Sinergi antara pihak sekolah dan penyedia layanan makanan diharapkan dapat terus terjalin, guna menjamin bahwa setiap makanan yang dikonsumsi siswa tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dan layak.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pengawasan terhadap konsumsi anak di lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab bersama, yang membutuhkan kolaborasi aktif antara institusi pendidikan dan penyedia layanan. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan