Editor: Redaksi
AMBON, Bedahnusantara.com: Keterbatasan armada menjadi tantangan bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak kekeringan. Sejak Mei hingga Oktober 2026, penyaluran air bersih telah dilakukan pada 82 titik, namun pelayanan masih harus dilaksanakan secara bertahap karena minimnya sarana pendukung.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Ambon, Frits R. M. Tatipikalawan, S.Hut., M.Si., mengatakan tingginya kebutuhan air bersih di tengah masyarakat belum sepenuhnya dapat diimbangi dengan kemampuan armada yang tersedia. Saat ini, BPBD Kota Ambon hanya mengandalkan satu unit mobil tangki untuk melayani berbagai wilayah yang membutuhkan pasokan air.
Hal tersebut disampaikan Frits saat diwawancarai di Balai Kota Ambon, Rabu (28/10/2026).
Ia menjelaskan, distribusi air bersih dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta kemampuan operasional di lapangan. Dengan hanya satu mobil tangki, petugas harus mengatur penyaluran secara bergantian agar bantuan dapat menjangkau warga di berbagai titik.
“Sejak Mei sampai saat ini, sudah ada 82 titik penyaluran air bersih. Karena mobil tangki yang tersedia hanya satu unit, pelayanan kepada masyarakat harus dilakukan secara maraton dan bertahap,” ungkap Frits.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat distribusi tidak selalu dapat dilakukan secepat yang diharapkan masyarakat. Padahal, air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang harus tersedia untuk menunjang aktivitas rumah tangga, mulai dari memasak, mandi, mencuci hingga kebutuhan sanitasi.
BPBD Kota Ambon pun terus berupaya mencari solusi agar pelayanan tidak hanya bergantung pada armada yang dimiliki pemerintah daerah. Salah satu langkah yang ditempuh adalah membangun kerja sama dengan pihak lain yang bersedia mendukung penanganan dampak kekeringan.
Frits menyebutkan, Bank Maluku telah memberikan dukungan untuk membantu distribusi air bersih pada 100 titik. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan bantuan kepada masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Selain itu, BPBD juga tengah menjajaki kerja sama dengan Pertamina. Penjajakan tersebut diarahkan untuk melihat kemungkinan dukungan terhadap distribusi air bersih maupun penanganan masyarakat yang terdampak bencana lainnya.
BPBD turut berupaya membangun komunikasi dengan pihak-pihak yang memiliki armada penyuplai air, termasuk untuk mendukung kebutuhan air dalam penanganan kebakaran oleh Dinas Pemadam Kebakaran.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas penanganan keadaan darurat di Kota Ambon. Sebab, ketersediaan air memiliki peran penting, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun menunjang penanganan bencana.
Frits mengakui, keterbatasan anggaran daerah menjadi salah satu pertimbangan dalam upaya memenuhi kebutuhan sarana operasional. Karena itu, BPBD berusaha mencari dukungan dari berbagai pihak agar penanganan persoalan air bersih dapat terus berjalan tanpa sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah daerah.
“Kami melihat kondisi keuangan daerah, sehingga berusaha membangun kerja sama dengan pihak-pihak yang bisa membantu. Kami juga berencana meminta dukungan dari Bank Indonesia,” jelasnya.
Ia berharap, melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga dan perusahaan, dukungan terhadap penyaluran air bersih dapat semakin luas. Dengan demikian, masyarakat yang membutuhkan bantuan tidak harus menunggu terlalu lama akibat keterbatasan armada.
BPBD Kota Ambon berkomitmen melanjutkan distribusi air bersih sesuai kemampuan operasional yang tersedia, sembari mengupayakan tambahan dukungan agar penanganan dampak kekeringan dapat berjalan lebih efektif.
Ke depan, ketersediaan armada dan dukungan lintas sektor menjadi faktor penting untuk meningkatkan kecepatan pelayanan, terutama apabila kebutuhan air bersih terus meningkat di tengah kondisi cuaca yang memengaruhi ketersediaan sumber air masyarakat. (BN Grace)









