Kapal Pembersih Sampah dari Swiss Siap Beroperasi di Teluk Ambon Februari 2026

IMG 20251114 WA0008 scaled

 

 

Ambon, Bedahnusantara.com – Di tengah kekhawatiran masyarakat mengenai kondisi Teluk Ambon yang semakin tercemar, sebuah harapan baru kini hadir dari kolaborasi internasional. Pemerintah Kota Ambon segera mengoperasikan sebuah kapal pembersih sampah berteknologi tinggi yang didatangkan dari Swiss dan dirakit langsung di Kota Ambon. Kapal ini dijadwalkan resmi beroperasi pada Februari 2026, dan menjadi salah satu terobosan paling ambisius dalam sejarah penanganan sampah laut di Maluku.

 

Teluk Ambon selama bertahun-tahun menjadi muara dari berbagai aktivitas masyarakat. Sampah rumah tangga, limbah kegiatan ekonomi, hingga material plastik dari sungai-sungai kecil yang mengalir ke teluk membuat kualitas air menurun. Banyak area perairan yang sebelumnya jernih kini berubah menjadi jalur terapung sampah. Kekhawatiran mengenai ekologis, pariwisata, dan kesehatan masyarakat kian meningkat.

 

Kapal ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan sebuah unit pengolahan mini yang dirancang dengan teknologi mutakhir. Proses perakitannya dilakukan sejak awal 2025 oleh tim gabungan teknisi lokal dan insinyur dari Sidlin Aerospace—perusahaan berbasis Swiss yang selama ini dikenal mengembangkan inovasi lingkungan berbasis teknologi aeronautik dan maritim.

 

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon, Apries Gasperzs, kapal ini memiliki kemampuan mengangkut hingga satu ton sampah dalam satu kali perjalanan. Tetapi yang membuatnya berbeda adalah sistem pemilah otomatis di atas kapal.

 

“Saat sampah terambil dari permukaan laut, mesin penyortir langsung bekerja memisahkannya menjadi tiga kategori utama: organik, anorganik, dan plastik,” jelas Gasperzs saat diwawancarai di Kantor Balai Kota Ambon, Jumat (14/11/2025).

 

Ia menambahkan bahwa teknologi ini akan memangkas waktu, tenaga, dan biaya operasional yang sebelumnya harus dilakukan dengan proses manual.

 

Setelah kapal merapat ke dermaga, sampah yang telah terpilah akan langsung ditangani oleh bank sampah dan unit-unit pengolahan yang telah disiapkan DLHP.

 

Sampah organik akan diolah menjadi pakan magot, mendukung program pengurangan sampah organik dan budidaya maggot yang mulai digencarkan DLHP, Plastik dan sampah anorganik lainnya akan disalurkan ke mitra-mitra daur ulang untuk diproses menjadi bahan baku industri.

 

Dengan alur seperti ini, tidak hanya Teluk Ambon yang dibersihkan, tetapi juga terbentuk sebuah ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi.

 

Selama tiga tahun pertama, seluruh biaya operasional kapal ditanggung penuh oleh Sidlin Aerospace. Ini termasuk biaya bahan bakar, perawatan, pelatihan operator, hingga pengembangan sistem data pemantauan sampah laut.

 

“Setelah masa operasional bersama berakhir, kapal ini akan menjadi aset resmi Pemkot Ambon. Kami ingin teknologi ini memiliki keberlanjutan jangka panjang, bukan sekadar proyek sementara,” ujar Gasperzs.

 

Dalam jangka panjang, DLHP berencana mengintegrasikan operasi kapal dengan sistem pemantauan sampah berbasis drone dan satelit, sehingga wilayah yang paling terdampak dapat dipetakan dan ditangani lebih efisien.

 

Masyarakat setempat sudah menunjukkan antusiasme. Banyak kelompok nelayan, komunitas pemerhati lingkungan, hingga akademisi melihat inisiatif ini sebagai titik balik pemulihan Teluk Ambon.

Selama bertahun-tahun, berbagai upaya pembersihan telah dilakukan, namun skala sampah yang terus masuk membuat kerja manual menjadi tidak cukup.

 

Dengan hadirnya kapal pembersih sampah ini, DLHP menargetkan pengurangan akumulasi sampah permukaan hingga 60% dalam dua tahun pertama.

 

“Kami berharap teknologi ini bukan hanya membersihkan, tetapi juga mengubah pola pikir masyarakat tentang pentingnya menjaga laut. Ini bukan sekadar soal alat, tetapi soal masa depan,” pungkas Gasperzs.

 

Jika semua berjalan sesuai rencana, Februari 2026 akan menjadi awal baru bagi Teluk Ambon. Kapal pembersih sampah dari Swiss ini bukan hanya wujud dukungan internasional, melainkan juga bukti bahwa upaya menjaga lingkungan adalah kerja bersama lintas negara, lintas sektor, dan lintas generasi (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan