Editor : Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Menjelang pelaksanaan Sidang Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-39, suara pengharapan dan doa mengalir dari komunitas adat di Kota Ambon.
Melalui pernyataan resmi bertajuk “Pernyataan Pengharapan Komunitas Lembaga Majelis Latupati dan Masyarakat Adat Kota Ambon”, para tetua adat menyerukan agar GPM harus kembali pada hakekatnya sebagai Gereja yang hidup dalam Kasih, Kesatuan, Kebenaran, Integritas dan misi pelayanan yang berdampak bagi dunia.
Ketua Majelis Latupati Kota Ambon, Reza Maspaitella, mewakili lembaga Majelis Latupati dan Masyarakat Adat, menyampaikan bahwa Sidang Sinode bukan sekadar agenda kelembagaan, melainkan momentum kudus untuk memperbarui arah pelayanan dan memperteguh jati diri Gereja menuju satu abad pelayanannya.
“Kami percaya, Sidang Sinode adalah ruang untuk mendengar suara Tuhan dan menata arah pelayanan Gereja agar tetap berjalan dalam terang kasih Kristus,” ujar Reza Maspaitella dalam keterangannya saat wawancara via WhatsApp, Sabtu (18/10/2025).
Ia menegaskan, Gereja Protestan Maluku dipanggil untuk hidup sesuai hakekatnya sebagai Tubuh Kristus, Bait Allah, Keluarga Allah, dan perwujudan Kerajaan Allah di bumi.
Nilai-nilai ini, menurutnya, menjadi empat tiang utama yang perlu diteguhkan kembali dalam perjalanan pelayanan lima tahun ke depan.
Dalam refleksinya, Majelis Latupati menyoroti pentingnya Gereja hidup dalam kesatuan dan fungsi yang saling melengkapi, sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 12:27.
“Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya“. Ayat ini menegaskan bahwa jemaat adalah satu kesatuan sebagai tubuh Kristus, di mana setiap individu memiliki peran dan fungsi yang penting, seperti halnya bagian tubuh yang berbeda memiliki fungsinya masing-masing.
Setiap jemaat, kata Maspaitella, memiliki peran dan karunia yang unik, sehingga Gereja perlu menghidupkan kembali kelompok-kelompok fungsional sebagai wadah pembinaan iman dan pelayanan nyata.
“Gereja harus hadir bukan hanya di gedung ibadah, tetapi juga di rumah, lingkungan kerja, dan komunitas sosial,” ujarnya.
Dalam konteks zaman modern yang sarat dengan tantangan moral dan budaya digital, Gereja diharapkan menjadi Benteng Kekudusan dan tempat Pemurnian Jiwa.
Mejelis Latupati menilai bahwa pembinaan rohani tidak boleh berhenti pada rutinitas ritual, tetapi harus menumbuhkan Karakter dan Integritas umat, yang di mulai dari para pemimpin di Gereja dan Lembaga Gereja itu sendiri.
“Ibadah sejati adalah perjumpaan pribadi dengan Allah yang mengubahkan hati dan karakter. Gereja harus menuntun umat untuk hidup Kudus dan Berintegritas, akan tetapi hal-hal tersebut mesti lebih dahulu di tunjukan oleh para Pemimpin Gereja maupun Pemimpin Kelembagaan, sebab Umat akan selalu menjadikan para pemimpinnya sebagai panutan, contoh, dan Role Model (panutan atau teladan yang perilakunya, sifatnya, atau keberhasilannya dapat ditiru oleh orang lain, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.) ” kata Reza.
Ketua Majelis Latupati Kota Ambon ini juga, menekankan pentingnya penguatan ketahanan keluarga kristiani, sebagai fondasi utama kehidupan bergereja.
Keluarga, menurutnya, adalah tempat pertama seseorang belajar tentang esensi Kasih dan Pengampunan, sehingga Gereja perlu memperlengkapi setiap keluarga agar menjadi “pusat Kasih dan pembentukan Iman.”
Lebih jauh, Maspaitella menyerukan agar Gereja menjadi komunitas yang berdampak bagi masyarakat, menghadirkan nilai-nilai Kebenaran, Keadilan, Damai, dan Kesejahteraan.
Ia mendorong GPM untuk memperkuat kemitraan dengan Masyarakat Adat, Pemerintah Daerah, dan komunitas lokal guna menjawab persoalan sosial-ekonomi dan lingkungan di Maluku.
“Gereja tidak cukup hanya berkhotbah tentang kasih, tetapi harus menjadi kasih itu sendiri harus hadir secara nyata dalam tindakan bagi sesama,” tandasnya.
Menutup pernyataannya, Ketua Majelis Latupati Kota Ambon, Reza Maspaitella bersama Lembaga Majelis Latupati dan Masyarakat Adat Kota Ambon mendoakan dan menyerahkan seluruh proses Sidang Sinode GPM ke dalam tangan Tuhan.
Mereka berharap, kepemimpinan yang terpilih kelak memiliki hati Gembala (Kristus Yesus), Kebijaksanaan Rohani, dan Keberanian Moral (Integritas) untuk menuntun Gereja kembali kepada fungsinya yang sejati.
Kiranya Gereja menjadi tubuh Kristus yang hidup, bait Allah yang kudus, keluarga Allah yang mengasihi, dan kerajaan Allah yang berdampak,” ujarnya menutup.
Dengan salam adat “Tabea”, masyarakat adat Kota Ambon menyampaikan damai sejahtera dan doa bagi GPM yang sedang menapaki langkah menuju satu abad pelayanan dari Tanah Raja-Raja, Tanah Maluku yang diberkati Tuhan.(BN Grace)





