Imajinasi Identitas KeMalukuan Tak Terbangun Diatas Kebudayaan

Budaya%2B2

Ambon, Bedah Nusantara.com:  Guna memepertahankan kemerdekaan mendorong pemerintah baru saat ini untuk melakukan politik penyeragaman budaya, karenanya banyak budayawan dan  sejarahwan mengagumi sejak masa demokrasi terpimpin diera presiden Soekarno sampai pada saman Orde Baru diera presiden Soeharto, politik kebudayaan Indonesia cenderung kuat pada penerapan Politik, Monopol Kulturalisme.

Hal ini disampaikan Gubernur Maluku  Ir. Said Assagaff ketika membuka Kongres Kebudayaan Maluku I yang berlangsung dilapangan Merdeka Ambon Senin  (3/11/2014).

Dikemukakan, terlepas dari pendekatan politik ini serta untuk memelihara stabilitas, maka politik Monopol Kulturalisme telah merusak kearifan lokal yang terjadi di banyak wilayah di Indonesia, yang pada gilirannya skala kerusakan semakin meluas, mengakibatkan terjadinya keresahan dan disintegrasi sosial budaya masyarakat lokal termasuk di Maluku.

Dikatakan,  para ahli menilai konflik sosial 1999-2002  di Provinsi Maluku tidak terlepas dari imbas degradasi nilai-nilai budaya lokal, akibat penerapan politik Monokultur selama kurun waktu tersebut karenanya dibalik filosofi budaya yang dominan dibalik politik Monokultur, diterapkan kebudayaan Jawa.

Ini sangat terasa dalam pembentukan pemerintahan desa, yang dalam kenyataannya jauh berbeda dengan sistim pemerintahan Adat  yang berlaku di Maluku, namun sebaliknya masyarakat lokal dipaksakan untuk beradaptasi dengan konstruksi budaya Jawa, yang termanefestasikan didalam penyeragaman sistim pemerintahan desa.

Selain itu perubahan budaya dusun menjadi budaya pertanian dan perkebunan, merupakan cara satu aspek yang harus diadaptasi oleh masyarakat lokal di Maluku, dalam pengembangan kebudayaannya di era kemerdekaan.

Kenyataan yang tak dapat kita pungkiri saat ini yakni proses globalisasi tidak dapat di bendung, dimana diramaikan dengan aneka perbincangan tentang batas, tapal batas dan keterbatasan. 

Dalam kondisi ini proses asimilasi kebudayaan telah berkembang menjadi suatu bentuk budaya konsep, idiologi, termasuk maknanya sendiri, sehingga kondisi seperti ini narasi besar kebudayaan menjadi semakin melemah efektivitasnya.

Dengan begitu realitas kebudayaan Maluku dapat disinyalir yakni Imajinasi Terhadap Identitas KeMalukuan kita  tidak terbangun diatas landasan kebudayan yang kokoh.

Pembukaan Kongres Kebudayaan Maluku I ini  dimeriahkan dengan tari-tarian khas daerah Maluku seperti Chakalele, Suling Bamboo, dan tarian lainnya yang bernuansa kebudayaan Maluku.(BN-01)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan