Editor : Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Ratusan anak dan remaja dari latar belakang agama yang berbeda tampak larut dalam kebersamaan, canda, dan aktivitas bersama. Di tengah perbedaan identitas iman, mereka justru menemukan ruang persaudaraan. Inilah wajah perdamaian yang terus dirawat Gereja Protestan Maluku (GPM) melalui program Remaja Baku Dapa di Kota Ambon.
Memasuki tahun kelima pelaksanaannya, program lintas iman yang digagas GPM Klasis Pulau Ambon ini telah melibatkan sekitar 570 anak dan remaja. Kehadiran mereka tidak sekadar simbol toleransi, tetapi menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai solidaritas dan saling menghormati dapat ditanamkan sejak usia dini.
Sekretaris Umum MPH Sinode GPM, Pdt. H.R. Tupan, mengungkapkan bahwa Remaja Baku Dapa pada awalnya lahir dari situasi sosial yang membutuhkan ruang pemulihan. Kawasan Pohon Mangga saat itu dinilai rentan terhadap gesekan, sehingga diperlukan pendekatan yang menyentuh akar paling dasar, yakni anak-anak dan remaja.
“Program ini dibangun untuk meredam ketegangan. Namun Puji Tuhan, hasilnya jauh lebih besar. Yang tumbuh adalah relasi persaudaraan, rasa saling menjaga, dan solidaritas lintas iman,” kata Tupan kepada wartawan usai kegiatan, Senin (29/12/2025)
Menurutnya, keberhasilan tersebut mendorong GPM untuk tidak berhenti pada lingkup terbatas. Tahun depan, evaluasi menyeluruh akan dilakukan sebagai dasar memperluas jangkauan kegiatan ke wilayah Ambon Utara, Ambon Timur, hingga seluruh Kota Ambon.
“Kita ingin dampaknya lebih luas, bukan hanya di satu wilayah, tetapi menjangkau seluruh kota,” ujarnya.
Tupan juga membuka kemungkinan pengembangan kegiatan ini ke komunitas lintas agama yang lebih beragam, termasuk melibatkan anak-anak dari kalangan Katolik, Hindu, dan Buddha. Baginya, perdamaian yang kokoh harus dibangun secara inklusif.
“Anak-anak adalah investasi perdamaian jangka panjang. Lima sampai dua puluh tahun ke depan, merekalah yang akan menjadi penjaga harmoni di Maluku,” tegasnya.
Dukungan terhadap Remaja Baku Dapa juga datang dari Pemerintah Kota Ambon. Mewakili Wali Kota Ambon, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Kesejahteraan Rakyat, Rustam Simanjuntak, menilai program ini sebagai langkah strategis dalam merawat karakter damai generasi muda.
“Mengumpulkan anak-anak lintas iman dalam satu ruang kebersamaan bukan hal mudah. Karena itu, Pemkot Ambon mendukung penuh dan mendorong Ambon menjadi referensi pengembangan komunitas cinta damai di Maluku,” katanya.
Rustam menambahkan, pendekatan yang dilakukan di Ambon dinilai lebih terstruktur, berkelanjutan, dan memungkinkan evaluasi dampak secara jangka panjang.
Sementara itu, Ketua MPK Pulau Ambon, Pdt. W.A. Beresaby, menekankan bahwa gereja memandang anak-anak sebagai subjek utama rekonsiliasi pascakonflik. Ia mengingatkan bahwa sebagian besar peserta lahir setelah konflik sosial 1999, sehingga penting bagi mereka mendapatkan narasi damai yang benar.
“Mereka tidak boleh mewarisi luka, tetapi harapan. Karena itu mereka perlu bertemu, saling mengenal, dan belajar hidup bersama,” ujarnya.
Pada pelaksanaan tahun kelima, kegiatan ini diikuti sekitar 530 peserta dengan dukungan penuh orang tua serta aparat RT dan RW. Seluruh anak mengikuti kegiatan dengan izin tertulis, sebagai bentuk pendekatan persuasif dan partisipatif.
Beresaby menambahkan, refleksi dan pengalaman anak-anak selama mengikuti Remaja Baku Dapa telah dibukukan dalam karya berjudul Cermin Harmoni. Buku tersebut merekam suara hati, kegembiraan, dan kesan mereka saat mengalami perjumpaan lintas iman.
“Dari tulisan-tulisan itu kita belajar, bahwa perdamaian harus terus direkayasa dan dirawat. Dan semuanya bisa dimulai dari anak-anak,” pungkasnya. (BN Grace)





