Ambon,Bedahnusantata.com:Setelah terpilih sebagai Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pdt. Elifas Maspaitella berkeinginan untuk mengembangkan konsteks pelayanan gereja yang lebih pastorialistik.
” Dalam masa kepemimpinan lima tahun kedepan, saya akan mengembangkan pola pelayanan dalam semangat pastorialistik karena, semua masalah gereja dapat diselesaikan secara pastorialistik,” ujarnya dalam konferensi pers bersama insan pers di Hotel Mutiara, Kamis (18/02/2021).
Pihaknya menilai dengan program pastoralistik maka, gereja dapat merangkul dan mengembangkan komunikasi kehidupan yang lebih hangat dengan membutuhkan karakter pelayan yang jauh lebih baik.
Karena itu, lanjut dia, pelayan pastorialistik ditengah situasi pandemi dibutuhkan sentuhan pelayanan yang lebih merangkul dan empati.
“Walaupun kita berada pada situasi pandemi namun, kita tetap berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat maupun keluarga dengan menghidupkan sentra ekonomi yang dikelola oleh warga gereja,” paparnya.
Dia berharap, ada kolaborasi antara gereja, pemerintah dan stakeholder, agar pusat- pusat produksi yang ada di jemaat-jemaat bisa terkoneksi pada sentra sentra ekonomi yang lain.
“Dalam beberapa program strategis kita memikirkan untuk menghidupkan kembali pemberdayaan ekonomi bahkan dengan membangun semacam micro finance yang dikelola oleh gereja tapi, diperlukan kajian dan studi yang lebih lanjut,” ungkapnya.
Hal lain yang menjadi karakter pelayanan gereja, agar tetap berusaha ditingkatkan dengan menumbuhkan kesadaran bergereja di seluruh pelayanan dan warga gereja.
Hal ini kata dia, semata-mata untuk menggerakkan partisipasi dan dukungan seluruh jemaat untuk melaksanakan amanat Tuhan ditengah dunia, baik di Sinode, Klasis, maupun Jemaat.
Tak hanya itu, tuturnya GPM juga akan tetap terpanggil merawat keutuhan bangsa dengan menjadikan keragaman, potensi kekuatan untuk merajut persaudaraan, semangat gereja orang basudara, yang akan tetap menjadi bagian dari gerak langkah GPM ditengah-tengah bangsa.
“Kita juga dapat menjamin keadilan. Karena itu kita akan berusaha untuk membangun koinonia yang lebih transformatif baik Gereja sendiri maupun diantara umat beragama, dan stakeholders yang lain termasuk pemerintah,”ucapnya.
Apalagi sebagai Gereja di daerah kepulauan di Maluku dan Maluku Utara, ungkapnya ada banyak tantangan sosial bermasyarakat yang juga harus dijawab oleh Gereja.
Atau disisi lain Gereja dapat membantu seluruh masyarakat menemukan jawaban atas masalah sosial yang dihadapi dalam konteks kepulauan.
Begitu juga kerjasama Oikumene dalam Gereja tetap dirawat dan membingkai sesuai tujuan keesaan Gereja-Gereja di Indonesia, yaitu mewujudkan Gereja Kristen Indonesia yang lebih terbuka kepada persahabatan seluruh umat beragama dan warga gereja.
Kehidupan beragama, lanjutnya tetap dibangun dengan fondasi kultural sebagai orang Maluku dan Maluku Utara, sebab nilai-nilai ini adalah nilai teologis yang harus diterjemahkan dalam membangun tatanan hidup keagamaan di Indonesia bahkan di dunia.
Bahkan GPM sudah saatnya mengaungkan seluruh pranata-pranata teologi, pranata-pranata sosial lokal yang menjadi nilai universal untuk merajut jalinan keagamaan di seluruh Dunia.
“Saya kira itu panggilan GPM untuk mewartakan misi damai sejahtera Allah di Indonesia dan seluruh Dunia sesuai visi misi kita,”cetusnya.
Terkait kepemimpinannya sampai 2025 mendatang, Dia meminta, seluruh warga jemaat GPM tetap membangun hidup keluarga dan rumah tangga mereka sebagai keluarga dan rumah tangga berkualitas, beriman.
“Ditumbuhkannya pembinaan keluarga, karena kekuatan Gereja kita ada pada keluarga yang utuh, harmonis. Ada pada anak-anak kita yang sebenarnya harus mendapat perhatian, pelayanan yang lebih baik,” terangnya.( BN-02)






