Dokter Erwin Rahakbauw Ingatkan Bahaya Kanker Serviks, Perempuan Diminta Rutin Periksa IVA

IMG 6699 scaled

Editor: Redaksi

Ambon, Bedahnusantara.com: Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dengan subspesialisasi onkologi ginekologi, dr. Erwin Rahakbauw, SpOG, Subsp. Onk, mengingatkan pentingnya pemeriksaan dini untuk mencegah kanker serviks atau kanker leher rahim. Perempuan diimbau tidak menunggu munculnya gejala untuk memeriksakan kesehatan, sebab penyakit ini dapat berkembang selama bertahun-tahun tanpa menunjukkan tanda yang jelas.

Hal tersebut diungkapkan Rahakbauw saat memaparkan materi dalam talkshow peluncuran proyek perubahan SEMPE IVA di Swiss-Belhotel Ambon, Kamis (29/10/2026).

Menurut Rahakbauw, kanker serviks masih menjadi persoalan kesehatan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Selain berdampak terhadap keselamatan perempuan, penanganan kanker juga membutuhkan pembiayaan kesehatan yang besar.

Iklan Bedah Nusantara 1
Iklan Bedah Nusantara 2
Iklan Bedah Nusantara 3

advertisement ★

Karena itu, ia menilai upaya pencegahan harus menjadi prioritas melalui edukasi, pemeriksaan berkala, serta peningkatan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan.

“Kalau kita ingin menurunkan angka kanker sekaligus mengurangi beban negara dalam pembiayaan kesehatan, kita harus bergerak di tempat pencegahan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, upaya menekan angka kanker serviks tidak bisa hanya mengandalkan tenaga medis. Keterlibatan kader kesehatan, pemerintah, keluarga, dan masyarakat sangat diperlukan untuk memperluas edukasi serta mendorong perempuan menjalani pemeriksaan sejak dini.

Rahakbauw juga menekankan pentingnya pemberian informasi yang benar kepada masyarakat. Menurutnya, pemahaman yang keliru mengenai tumor dan kanker dapat menimbulkan ketakutan berlebihan sehingga seseorang memilih menghindari pemeriksaan maupun pengobatan.

Ia menjelaskan, tumor merupakan pertumbuhan jaringan atau sel yang berlebihan dan dapat bersifat jinak maupun ganas. Sementara kanker merupakan penyakit ganas yang dapat menyerang jaringan di sekitarnya dan menyebar ke organ lain.

“Ketakutan yang berlebihan juga dapat menyebabkan pasien tidak mau datang berobat. Padahal, penyakit harus diperiksa terlebih dahulu agar diketahui kondisi dan penanganan yang tepat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rahakbauw menerangkan bahwa kanker serviks umumnya berkaitan dengan infeksi *Human Papillomavirus* (HPV), terutama tipe berisiko tinggi. Meski demikian, tidak semua infeksi HPV akan berkembang menjadi kanker karena sebagian besar infeksi dapat diatasi oleh sistem kekebalan tubuh.

Risiko meningkat apabila infeksi HPV berisiko tinggi menetap dalam tubuh dan memicu perubahan sel pada leher rahim. Proses tersebut dapat berlangsung selama bertahun-tahun sebelum berkembang menjadi kanker.

Menurutnya, rentang waktu perkembangan penyakit itu menjadi kesempatan penting untuk melakukan pemeriksaan dan menemukan perubahan prakanker sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

“Perubahan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker dapat berlangsung bertahun-tahun. Inilah kesempatan yang harus kita manfaatkan melalui pemeriksaan, sehingga perempuan bisa mendapatkan penanganan sebelum penyakit berkembang menjadi kanker,” katanya.

Ia menyebutkan, pemeriksaan melalui Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), Pap smear, dan tes HPV merupakan metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi risiko atau perubahan pada leher rahim sesuai indikasi dan pedoman medis.

Rahakbauw menegaskan, pemeriksaan tidak boleh hanya dilakukan ketika perempuan sudah merasakan keluhan. Sebab, pada tahap awal, perubahan prakanker maupun kanker serviks dapat terjadi tanpa gejala yang mudah dikenali.

Karena itu, perempuan yang merasa sehat tetap perlu mengikuti skrining sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Dalam pemaparannya, Rahakbauw turut menguraikan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, seperti keputihan yang tidak biasa atau berbau menyengat, perdarahan di luar masa menstruasi, perdarahan setelah berhubungan seksual, serta nyeri panggul.

Pada kondisi yang lebih lanjut, kanker serviks juga dapat menimbulkan gangguan berkemih, darah dalam urine, maupun gangguan buang air besar apabila penyakit telah melibatkan organ di sekitarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti kanker serviks karena dapat disebabkan oleh kondisi medis lainnya. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Menurutnya, menunggu sampai gejala muncul berisiko menyebabkan penyakit baru diketahui ketika telah berkembang lebih lanjut sehingga pilihan pengobatan menjadi lebih terbatas.

“Deteksi melalui pemeriksaan tidak boleh menunggu sampai ada keluhan. Justru ketika perempuan merasa sehat, pemeriksaan sesuai anjuran tetap penting dilakukan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pilihan pengobatan kanker serviks bergantung pada stadium penyakit dan kondisi pasien. Pada kasus tertentu, operasi dapat menjadi pilihan, sedangkan kondisi yang lebih lanjut mungkin membutuhkan radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi pengobatan.

Selain pemeriksaan, Rahakbauw menyoroti pentingnya menghindari stigma terhadap perempuan yang mengalami kanker serviks.

Menurutnya, edukasi mengenai HPV dan kanker serviks harus disampaikan secara bijak agar masyarakat tidak menghakimi pasien berdasarkan anggapan mengenai kehidupan pribadi atau perilaku seksualnya.

Stigma, katanya, dapat membuat perempuan takut memeriksakan diri, menyembunyikan keluhan, hingga menghindari pelayanan kesehatan.

“Kita tidak boleh memberikan stigma kepada pasien kanker serviks. Tugas kita adalah membantu, memberikan edukasi yang benar, dan mendorong lebih banyak perempuan datang memeriksakan diri,” ujarnya.

Ia berharap program SEMPE IVA melalui gerakan SADAR dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat, memperluas partisipasi perempuan dalam pemeriksaan, serta memperkuat upaya pencegahan kanker serviks di Kota Ambon.

Rahakbauw menegaskan, pencegahan perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi, vaksinasi HPV, skrining sesuai rekomendasi, serta tindak lanjut medis terhadap hasil pemeriksaan yang abnormal.

Dengan langkah tersebut, perempuan diharapkan dapat memperoleh penanganan lebih awal sehingga risiko kanker serviks berkembang ke stadium lanjut dapat ditekan. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan