Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Ketersediaan akses lapangan pekerjaan masih menjadi persoalan klasik yang dihadapi generasi muda saat ini. Hal tersebut diakui Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Ambon, Richard Luhukay, AP, saat diwawancarai di Kantor Balai Kota Ambon, Kamis (11/2/2026).
Menurut Luhukay, tantangan utama pemuda, khususnya dalam rentang usia 16 hingga 30 tahun sesuai amanat undang-undang, adalah keterbatasan akses, baik untuk memperoleh pekerjaan maupun menciptakan peluang kerja baru.
“Masalah ini memang klasik, tetapi sifatnya terus-menerus. Data BPS menunjukkan angka tenaga kerja memang sedikit menurun, tetapi angka pengangguran masih cukup tinggi, apalagi seiring meningkatnya angka kelulusan setiap tahun,” ujarnya.
Sebagai bentuk kontribusi dalam mengurai persoalan tersebut, Dispora Kota Ambon berupaya memperluas akses dan peluang bagi pemuda, salah satunya melalui strategi penyebaran potensi sumber daya manusia. Artinya, pemuda tidak hanya terfokus mencari peluang di satu wilayah, tetapi didorong untuk melihat kesempatan di daerah lain, baik di dalam maupun luar negeri.
Namun demikian, Luhukay menegaskan bahwa peluang tersebut harus dibarengi dengan kesiapan kapasitas. Tidak hanya kompetensi akademik, tetapi juga penguatan soft skill dan hard skill yang relevan dengan kebutuhan global saat ini.
“Kita tidak bisa lagi bekerja dengan konsep-konsep tradisional. Pemuda harus menyesuaikan diri dengan demand global. Mereka harus siap secara skill, baik teknis maupun non-teknis,” tegasnya.
Salah satu langkah konkret yang tengah dijajaki adalah menghidupkan kembali kerja sama sister city antara Ambon dan Darwin, Australia. Dispora telah melakukan pertemuan penjajakan dengan Konsul Jenderal Australia untuk Darwin dalam pertemuan singkat di Hotel Swiss-Belhotel Ambon beberapa waktu lalu.
“kami menawarkan kemungkinan kerja sama, termasuk pertukaran pemuda. Harapannya hubungan sister city Ambon–Darwin bisa kembali menghangat dan membuka ruang bagi pemuda kita untuk berkembang,” jelas Luhukay.
Tak hanya itu, Dispora juga telah menyurat kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Sydney guna membangun komunikasi dan menjajaki peluang kerja sama serupa di wilayah lain Australia.
“Siapa tahu ke depan potensi sumber daya manusia kita bisa dimanfaatkan di negeri Kanguru itu,” katanya optimistis.
Di sisi lain, Dispora juga tengah mempersiapkan pola pembinaan yang lebih terarah sebagai wadah penguatan kapasitas pemuda. Model ini akan difokuskan pada pengembangan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, termasuk kemampuan analisis, pengendalian teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI), public speaking, serta berbagai keterampilan adaptif lainnya.
Pada tahun sebelumnya, Dispora juga telah menjalin kerja sama dengan startup lokal yang terafiliasi dengan komunitas pemuda di Belanda, yakni Laikup Academy. Kolaborasi ini diarahkan pada pengembangan soft skill generasi muda.
“Dunia hari ini bukan hanya butuh pendidikan formal, tetapi juga soft skill yang kuat. Kalau dampaknya kecil tetapi konsisten dan berkelanjutan, saya yakin beberapa tahun ke depan akan menjadi dampak yang besar dan masif,” pungkas Luhukay. (BN Grace)





