Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Pemerintah Kota Ambon memastikan seluruh layanan pemeriksaan, pendampingan, hingga pengobatan HIV/AIDS tetap berjalan optimal dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Johan S. Norimarna, M.K.M, saat diwawancarai via WhatsApp oleh wartawan Bedahnusantara.com Kamis (11/12/2025).
Menurut dr. Johan, hingga saat ini sudah terdapat enam puskesmas dan sembilan rumah sakit yang menjadi tempat rujukan layanan klinik PDP (Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan) bagi ODHA. Selain itu, layanan pemeriksaan HIV melalui fasilitas VCT dan IMS juga tersedia di 22 puskesmas, serta sembilan rumah sakit ditambah tiga klinik yang berada di bawah Pemerintah Kota Ambon.
“Secara prinsip, Pemerintah Kota Ambon selalu membuka diri bagi siapa saja yang ingin melakukan pemeriksaan. Jika ada masyarakat yang merasa perlu diperiksa atau ingin mengetahui status kesehatannya, kami siap menerima,” tegasnya.
Lebih jauh, dr. Johan menjelaskan bahwa untuk penjangkauan pasien HIV, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan berbagai lembaga dan mitra seperti RSF, Yayasan Pelangi, dan YKDS. Kerja sama ini memastikan bahwa masyarakat yang membutuhkan pendampingan maupun akses pengobatan dapat terlayani secara maksimal.
Ia menegaskan bahwa pemerintah menjamin ketersediaan obat ARV, sehingga pasien yang terdeteksi positif HIV dapat segera mendapatkan pengobatan tanpa hambatan. “Pengobatan tetap akan kami laksanakan, dan kami terus memastikan supaya obat ARV selalu tersedia,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Johan juga kembali meluruskan kesalahpahaman masyarakat mengenai HIV. Ia mengatakan bahwa virus HIV tidak menular melalui sentuhan, berbagi tempat tinggal, atau aktivitas sosial sehari-hari, seperti mandi di kolam yang sama.
“HIV tidak bisa ditularkan hanya dengan bersentuhan badan atau hidup bersama. Penularan hanya terjadi melalui hubungan seksual tidak aman dengan pasangan yang bukan pasangannya, penggunaan jarum suntik secara bergantian, serta dari ibu ke anak. Jadi bukan karena berdekatan atau beraktivitas bersama,” jelasnya.
Ia menyayangkan masih banyak masyarakat yang menganggap meningkatnya kasus HIV identik dengan perilaku ‘bebas’ di tengah masyarakat. Stigma seperti ini, kata dr. Johan, justru membuat penderita atau orang yang ingin memeriksakan diri takut untuk datang ke fasilitas kesehatan.
“Seringkali orang takut atau berpikir kalau kasus meningkat berarti situasi semakin bahaya. Padahal informasi lengkap dan akurat bisa didapatkan di banyak sumber, termasuk internet. Yang terpenting adalah kesadaran untuk memeriksakan diri dan tidak mendiskriminasi,” tuturnya.
dr. Johan kembali menekankan bahwa Pemerintah Kota Ambon siap melayani, merawat, dan mengobati seluruh warga yang ditemukan positif HIV. “Secara prinsip, kami tidak menolak siapa pun. Pemerintah hadir untuk memberikan layanan terbaik tanpa melihat latar belakang,” pungkasnya.
Dengan upaya yang terus digiatkan ini, Pemerintah Kota Ambon berharap masyarakat semakin sadar pentingnya pemeriksaan dini dan tidak lagi menganggap HIV sebagai sesuatu yang memalukan atau menakutkan. Sebaliknya, dengan penanganan tepat, ODHA tetap dapat hidup sehat, produktif, dan didukung penuh oleh pemerintah serta lingkungan sekitar. (BN Grace)





