Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Edukasi kesiapsiagaan bencana terus diperkuat, terutama bagi anak-anak sekolah yang berada di kawasan pesisir. Salah satunya melalui simulasi evakuasi mandiri yang dilaksanakan di SD Negeri 05 Maluku Tengah, untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai langkah yang harus dilakukan ketika terjadi gempa bumi yang berpotensi menimbulkan tsunami.
Plt. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Novita Berhitu, mengatakan simulasi tersebut menjadi penting karena lokasi SD Negeri 05 Maluku Tengah berada tepat di depan pantai sehingga para siswa perlu dibekali pengetahuan mengenai langkah penyelamatan diri serta jalur evakuasi yang aman.
Hal tersebut disampaikan Novita saat diwawancarai di Kantor Balai Kota Ambon, Jumat (28/8/2026).
Menurut Novita, edukasi kepada siswa tidak cukup hanya melalui sosialisasi secara teori. Para siswa perlu diberikan pengalaman melalui simulasi agar mereka memahami secara langsung apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa bumi.
“Karena memang wilayah tempat pendidikan sekolah mereka itu bertepatan langsung depan dengan pantai. Dan catatan sejarah 1962, itu di situ pernah terjadi tsunami,” kata Novita.
Ia menjelaskan, kawasan tersebut memiliki catatan sejarah tsunami pada 1962 yang menyebabkan korban jiwa. Peristiwa tersebut menjadi salah satu dasar pentingnya meningkatkan kewaspadaan masyarakat, terutama anak-anak sekolah yang setiap hari beraktivitas di kawasan pesisir.
Novita menyebut, kejadian tersebut juga tercatat dalam dokumentasi seorang ahli botani bernama Bumpil. Dalam catatan tersebut disebutkan satu keluarga menjadi korban dan hanya satu orang yang berhasil selamat.
Catatan sejarah tersebut, kata dia, harus menjadi pembelajaran bagi masyarakat bahwa ancaman tsunami merupakan sesuatu yang harus diantisipasi, terutama di wilayah yang berdekatan dengan laut.
Karena itu, melalui simulasi di SD Negeri 05 Maluku Tengah, para siswa diberikan pemahaman mengenai tindakan yang harus dilakukan ketika merasakan gempa. Salah satu hal yang ditekankan adalah tidak mendekati pantai setelah terjadi gempa yang berpotensi tsunami.
Menurut Novita, masih ada kebiasaan masyarakat yang ketika terjadi gempa justru berlari menuju pantai untuk melihat kondisi laut. Padahal, tindakan tersebut sangat berisiko apabila gempa yang terjadi berpotensi memicu tsunami.
“Karena kebanyakan ketika terjadi gempa yang berpotensi tsunami, orang bukan lari menyelamatkan diri, mereka malah lari ke pantai. Nah, itu yang kita harus berikan brainstorming kepada anak-anak,” ujarnya.
Dalam simulasi tersebut, siswa juga diberikan pemahaman mengenai prinsip 20-20-20 sebagai salah satu cara sederhana untuk mengingat langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi tsunami.
Novita menjelaskan, apabila gempa dirasakan lebih dari 20 detik, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan tsunami. Dalam kondisi tersebut, masyarakat harus segera melakukan evakuasi menuju tempat yang lebih tinggi dan menjauhi kawasan pantai.
“Yang penting tahu, pada saat terjadi gempa, lakukan pertama apa? Setelah itu lari ke tempat yang tingginya dua puluh meter,” jelasnya.
Menurutnya, pemahaman seperti ini penting ditanamkan sejak usia sekolah sehingga anak-anak memiliki pengetahuan dan respons yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat.
Selain simulasi langsung, edukasi kebencanaan juga mulai memanfaatkan teknologi digital. Salah satunya melalui penggunaan virtual reality (VR) yang memungkinkan siswa mendapatkan gambaran mengenai situasi bencana sekaligus mengenali jalur evakuasi.
Dengan metode berbasis digital tersebut, simulasi tidak harus selalu dilakukan secara langsung di lapangan. Anak-anak dapat diperkenalkan dengan situasi kebencanaan secara virtual sehingga lebih mudah memahami prosedur penyelamatan diri.
Novita menegaskan, tujuan utama simulasi di SD Negeri 05 Maluku Tengah bukan sekadar memberikan pengetahuan mengenai gempa dan tsunami, tetapi memastikan para siswa mengetahui jalur evakuasi yang benar.
Sebab, ketika bencana terjadi, masyarakat harus mampu menyelamatkan diri secara mandiri. Pengetahuan mengenai jalur evakuasi menjadi sangat penting agar kepanikan tidak membuat warga justru bergerak menuju lokasi yang berbahaya.
Melalui kegiatan tersebut, para siswa diharapkan mampu memahami bahwa ketika terjadi gempa, langkah pertama adalah melindungi diri, kemudian segera menjauh dari pantai dan menuju lokasi yang lebih tinggi sesuai jalur evakuasi yang telah ditentukan. (BN Grace)





