Editor: Redaksi
Ambon, Bedahnusantara.com: Badan Pusat Statistik Kota Ambon terus mendorong peningkatan literasi statistik di tingkat desa melalui Program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik). Sejak diluncurkan pada 2021, program ini telah berjalan secara bertahap, dengan pendekatan pembinaan yang terfokus dan berkelanjutan.
Kepala Badan Pusat Statistik Kota Ambon, Pauline Gaspersz, saat diwawancarai via WhatsApp, Kamis (23/4/2026), menjelaskan bahwa hingga tahun 2025, pihaknya hanya menetapkan satu desa sebagai locus pembinaan setiap tahun. Namun, pada 2026 terjadi peningkatan signifikan dengan menetapkan tiga desa binaan sekaligus.
“Pada tahun 2026, kami menetapkan tiga desa binaan yang semuanya berada di Kecamatan Leitimur Selatan, yakni Negeri Ema, Negeri Kilang, dan Negeri Hukurila. Penetapan dalam satu kecamatan ini sesuai pedoman nasional, agar pembinaan lebih efektif dan efisien,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemilihan desa tidak dilakukan secara sembarangan. Sejumlah indikator menjadi pertimbangan utama, seperti ketersediaan jaringan internet yang memadai di kantor desa, keberadaan perangkat komputer atau laptop, serta kemampuan aparatur desa dalam mengoperasikan perangkat tersebut. Aparatur desa ini nantinya berperan sebagai agen statistik di tingkat lokal.
Lebih lanjut, Gaspersz menegaskan bahwa program Desa Cantik memiliki peran strategis dalam mendukung arah pembangunan nasional, khususnya dalam mewujudkan visi pembangunan berbasis desa.
“Pembangunan yang baik membutuhkan data yang akurat. Karena itu, penting bagi aparat desa memiliki literasi statistik yang memadai. Dengan begitu, mereka dapat menyusun kebijakan berbasis data atau evidence-based policy, sehingga program pembangunan lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Program ini juga sejalan dengan upaya penguatan Satu Data Indonesia (SDI) dan pengembangan Sistem Statistik Nasional (SSN). Melalui Desa Cantik, diharapkan desa mampu menghasilkan berbagai output penting, seperti monografi desa, publikasi statistik desa, hingga pengelolaan website desa yang secara berkala menampilkan data terkini.
Meski demikian, dalam implementasinya BPS Ambon menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah komitmen aparatur desa untuk konsisten mengikuti proses pembinaan yang membutuhkan waktu dan keseriusan.
“Tantangan lainnya adalah kualitas jaringan internet serta ketersediaan perangkat komputer yang memadai, karena sebagian besar proses pembinaan dilakukan secara daring,” tambahnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya menekankan pentingnya dukungan penuh dari pemerintah desa, khususnya para raja atau kepala negeri di wilayah binaan, agar program ini dapat berjalan berkelanjutan.
Dengan penguatan literasi statistik di tingkat desa, BPS Ambon optimistis pembangunan daerah akan semakin berkualitas, terukur, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih tepat. (BN Grace)





