![]() |
| Program Wali Kota Mengajar, Tingkatkan Kesadaran Siswa Soal Resiko Bencana |
Ambon,Bedahnusantara.com: Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon melakukan program wali kota mengajar sebagai upaya tanggap resiko bencana bagi para siswa SMP se-Kota Ambon di MCM, Jumat (14/12).
Program Walikota mengajar sebagai upaya untuk membangun budaya siaga, budaya aman dan budaya pengurangan resiko bencana serta meningkatkan kapasitas siswa-siswi se-kota Ambon dalam hal mentransferkan ilmu dan Informasi soal tanggap resiko bencana.
Sekretaris Kota Ambon Anthony Gustav Latuheru saat membacakan sambutan Wali Kota Ambon Ricard Louhenapessy mengatakan, Kota Ambon rawan terhadap bencana karena, Ambon berada pada daerah pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi yakni Indo austria, Kroasia,dan Pasific.
“Pertemuan ketiga lempeng ini, bukan saja membentuk zona yang menjadi sumber gempa lokal, tapi sumber gempa lain yang berasal dari laut banda dan samudera pasific atau gempa tektonik yang sangat mempengaruhi formasi batuan di Maluku,” ujarnya.
Dia mengatakan, berdasarkan undang-undang nomor 24 tahun 2017 tentang penanggulangan bencana menguraikan bencana sebagai peristiwa yang mengancam atau menggangu kehidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam atau non alam yang menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan dan dampak sikologi.
“Disadari bahwa ancaman bencana dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, sehingga diperlukan upaya-upaya kesiapsiagaan. Hal ini bukanlah semata-mata pekerjaan rumah bagi instansi pemerintah yang berwenang guna menangani masalah bencana, namun haruslah di oandang sebagai tugas bersama sebagai pemerintah, masyarakat dan dunia usaha,”paparnya.
Dia menegaskan, kesiapsiagaan dipandang untuk mengurangi sekecil mungkin korban atau dampak yang di timbulkan oleh bencana. Salah satu cara adalah meningkatkan kapasitas, peningkatan pengetahuan soal bencana da bagaimana memetegasi dampaknya memang sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa di abaikan.
“Berdasarkan data badan penaggulangan bada bencana dalam kurun waktu 15 tahun terakir, jumlah kejadian bencana di Indonesia meningkat hampir 20 kali lipat lebih dari 90 persen kejadian bencana di Indonesia di akibatkan oleh banjir dan tanah longsor di mana lebih dari 28 juta orang terkena dampak,”tuturnya.
Dia menuturkan, terdapat 3 pilar yakni, fasilitator, sekolah aman, menejemen bencana di sekolah pendidkan pencegahan dan pengurangan resiko bencana. “
Lewat 3 pilar itu berbagai dampak buruk bencana bisa di minimalisir, sehingga dampak yang terjadi tidak hanya berupa hilangnya nyawa atau cedera sekolah,” ungkapnya.
Dia berharap, lewat tiga pilar ini sekolah sebagai tempat berbagi pengetahuan dan ketrampilan bisa tampil sebagai panutan dalam melakukan pencegahan bencana
“Keberhaslan mitigasi bencana merupakan salah satu ujia utama terhadap keberhasilan pendidikan yang diberikan dari generasi ke generasi,” akuinya. (BN-03)






