Kasus Kanker Payudara di Ambon Fluktuatif, Dinkes Perkuat Deteksi Dini di 22 Puskesmas

IMG 20260126 WA0017

 

Editor: Redaksi 

Ambon, Bedahnusantara.com: Data kasus kanker payudara di Kota Ambon dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren yang fluktuatif. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon mencatat, pada tahun 2023 ditemukan 25 kasus baru tanpa kematian. Sementara pada tahun 2024 terjadi penurunan menjadi 9 kasus baru dengan 1 kematian. Sedangkan tahun 2025 kembali meningkat menjadi 13 kasus baru dengan 1 kematian.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Johan Stefanus Norimarna, saat diwawancarai via telepon, Kamis (5/3/2026), menjelaskan bahwa secara umum data tersebut menunjukkan dinamika kasus yang tidak stabil, namun belum menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Data kanker payudara dari tahun 2023 sampai 2025 memang mengalami fluktuasi. Tahun 2023 ada 25 kasus baru tanpa kematian, tahun 2024 sebanyak 9 kasus baru dengan 1 kematian, dan tahun 2025 tercatat 13 kasus baru dengan 1 kematian. Semua pasien yang ditemukan langsung diperiksa, ditegakkan diagnosisnya, kemudian dirujuk untuk pengobatan lanjutan,” jelasnya.

Menurutnya, berbagai langkah strategis terus dilakukan untuk menekan angka kasus baru sekaligus meningkatkan deteksi dini di tingkat pelayanan dasar. Salah satu fokus utama adalah memperkuat pemeriksaan SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis) di seluruh puskesmas.

“Strategi kami adalah meningkatkan deteksi dini melalui pemeriksaan SADANIS di tingkat puskesmas. Program skrining ini dilakukan secara gratis bagi masyarakat,” ujarnya.

Pada tahun 2025, Dinkes Kota Ambon juga menjalin kerja sama dengan RS Siloam Ambon untuk melakukan pemeriksaan kanker payudara gratis bagi perempuan di Kota Ambon. Hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh pihak rumah sakit melalui penegakan diagnosis hingga pengobatan lanjutan bagi pasien yang terdeteksi.

Selain itu, Dinkes turut menggandeng Dharma Wanita Persatuan Kota Ambon dan PKK Kota Ambon dalam pelaksanaan pemeriksaan SADANIS. Dari hasil pemeriksaan tersebut, pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut akan dirujuk ke rumah sakit untuk proses diagnosis dan terapi.

Terkait akses layanan, Johan menyebutkan bahwa skrining dan deteksi dini SADANIS kini telah tersedia di 22 puskesmas yang tersebar di lima kecamatan di Kota Ambon. Layanan ini, kata dia, juga sudah menjangkau perempuan di wilayah terpencil maupun pesisir.

“Akses layanan skrining sudah tersedia di 22 puskesmas di lima kecamatan. Secara umum sudah menjangkau wilayah terpencil. Namun kendala yang masih kami hadapi adalah tenaga kesehatan yang belum semuanya terlatih, meskipun alat tersedia. Selain itu, keterbatasan anggaran juga menjadi tantangan dalam menunjang pelaksanaan skrining secara optimal,” ungkapnya.

Dalam hal dukungan bagi pasien dari keluarga kurang mampu, Pemerintah Kota Ambon memberikan fasilitas BPJS Kesehatan gratis yang dapat dimanfaatkan untuk pembiayaan pengobatan lanjutan.

“Bagi pasien kanker payudara dari keluarga kurang mampu, pemerintah kota memberikan BPJS gratis sehingga dapat digunakan untuk pengobatan tindak lanjut. Namun untuk pendampingan psikologis, saat ini belum dapat dilakukan karena Dinas Kesehatan Kota Ambon belum memiliki tenaga psikolog,” jelas Johan.

Dinkes Kota Ambon berharap melalui penguatan deteksi dini, kolaborasi lintas sektor, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, angka kasus kanker payudara dapat ditekan dan penanganan pasien dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. (BN Grace)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan