![]() |
| Ilustrasi Pembersihan Mesjid |
Ambon, Bedah Nusantara.com: Bulan Suci Ramadhan tinggal menghitung hari saja, dan berbagai persiapan pun dilakukan oleh berbagai kalangan yang ada di Indonesia termasuk di Maluku.
Satu hari sebelum memasuki bulan suci Ramadhan 1438 Hijriah, Pemuda Gereja, Kelompok Tani, Unsur Pemerintah Negeri, Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di Negeri Passo membersihkan Masjid Nurul Islah Negeri Passo.
Pembersihan Masjid Nurul Islah dilakukan masyarakat pada Kamis 25 Mei pukul 15:00 WIT hingga 17:45 WIT dimana, masyarakat bergotong royong membersihkan halaman maupun dalam lingkup masjid tersebut.
Raja Negeri Passo, Alfred Tanahitumessing mengatakan, pembersihan Masjid Nurul Islah yang dilakukan masyarakat Negeri Passo merupakan suatu kegiatan rutinitas yang dilakukan masyarakat menjelang bulan suci ramadhan.
“Setiap tahun masyarakat Negeri Passo saling bergotong royong membersihkan bagian dalam dan luar Masjid Nurul Islah,”ujarnya kepada Ambon Ekspres, Jumat (26/5).
Menurut dia, selama ini budaya gotong royong diantara masyarakat nyaris pudar, padahal itu merupakan sebuah tradisi yang harus pertahankan dan ditumbuhkembangkan karena memiliki nilai yang sangat positif.
“Kita akui atau tidak, budaya gotong royong hampir tidak ada lagi, padahal dengan adanya tradisi tersebut, banyak hal positifnya yang kita peroleh seperti tumbuhnya rasa kebersamaan, persatuan, rela berkorban dan sosialisasi,”paparnya.
Dia mengakui, tradisi gotong-royong diperlukan sebagai suatu solidaritas antar sesama dalam satu kesatuan wilayah atau kekerabatan.
“Gotong royong dapat disampaikan melalui gereja, angkatan muda serta informasi dari mulut ke mulut, sehingga kehidupan masyarakat akan semakin baik untuk menjalin silaturahmi antar warga. “Sehingga kebersamaan antara warga terus terjaga,” terangnya.
Dia berharap, budaya membersihkan masjid tidak akan pudah bahkan akan dipupuk, agar kedepan dapat dijadikan tradisi yang telah dilaksanakan saat ini akan tetap dipertahankan oleh masyarakat Negeri Passo.
“Saya harap tradisi ini tidak sampai disini saja, tapi akan terus dikembangkan terus sampai anak cucu,”tandasnya.(BN-02)






